light_mode
light_mode

Keyakinan yang Menepis Segala Keraguan

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Sarah Zakiyah*

PERJALANAN manusia mencari tuhan telah dimulai sejak manusia itu ada, sama lamanya dengan pencarian jati diri manusia itu sendiri.

Kajian tentang manusia dan tuhan mungkin terus berlanjut hingga berakhirnya kehidupan dunia. Persepsi tentang tuhan yang dihadirkan pun bermacam-macam. Tengoklah misalnya pendapat sarjana barat Karen Armstrong, penulis buku Sejarah Tuhan, yang menyebut tuhan sebagai figur kabur yang hanya bisa diidentifikasi dengan abstraksi intelektual.

Ulama Islam pun banyak sekali membahas tentang masalah ini. Mulai dari tulisan mereka yang  menyangkal syubhat Tauhid hingga kaidah-kaidah yang dijadikan landasan dalam memahami Tuhan.

Lalu pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi sebab sehingga pembahasan ini seperti tak kunjung usai? Mari kita bahas sedikit di sini.

Keberadaan manusia, alam, dan seisinya mengusik akal untuk mengetahui siapa pencipta. Manusia ingin menemukan gerangan siapa desainer di balik keberadaan-Nya. Akal manusia yang pada dasarnya limited terus berusaha mengungkapkannya dalam kata dan menjelaskannya dengan segala hal yang dapat dirasakan dan dilihat inderawi.

Manusia-manusia yang mengedepankan logika berusaha mememukan tuhan yang ghaib (abstrak) dan memaksa melakukan interpretasi ilmiah agar tuhan bisa dibuktikan keberadaannya secara kasat mata (konkrit). Usaha-usaha imanensi tanpa keyakinan Tauhid terhadap hal ihwal transenden pun pada akhirnya tak menyimpulkan apa-apa selain kebingungan.

Pembahasan ini makin meruncing saat manusia berkubang dalam lumpur kejahiliaan, keadaan di mana manusia menolak petunjuk dari Allah. Penolakan itu karena hawa nafsu menjadi lentera utama yang diletakkan di depan menjadi penuntun mereka menelusuri jalan kehidupan ini.

Keesaan Allah diingkari karena menurut mereka akal dan logika tidak menjumpai tuhan secara konkrit. Pada tingkatan yang parah, kita menyaksikan dan membaca betapa banyak pernyataan yang mereka ucapkan tentang keingkaran mereka, misalnya; “Tuhan telah Membusuk, “Menggugat keberadaan Tuhan”, “Tuhan telah mati”, dan lain sebagainya.

Inilah keadaan jahiliyah yang lebih parah dari kejahiliaan yang ada pada kaum badui sebelum kedatangan Muhammad Rosulullah SAW. Mengapa demkian? Karena kaum yang hidup di zaman nabi adalah umat yang tak mengenal ilmu, sedangkan sekarang ilmu pengetahuan dapat dengan mudah didapatkan.

Ilmu yang seharusnya menjadi alat mendekatkan diri kepada Allah yang transenden, malah mereka jadikan barometer ada atau tidak adanya Allah. Ma’adzallah!. 

Inilah kesalahan terbesar akal, yang saat ini dijadikan barometer segala hal oleh manusia. Lupa akan hakikat diri bahwa ia ada karena ada Dzat yang membuatnya ada. Hawa nafsulah yang mengusai hati dan jiwa manusia membutakan fitrah yang mereka miliki.

Keangkuhan intelektual telah menulikan telinga dan menumpulkan hati nurani manusia hingga mereka tak dapat menyaksikan kebenaran sebagaimana Allah firmankan dalam QS. Al-Jatsiyah:

“Maka apakah kamu memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilah / sesembahan, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya, maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat, apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”.

Kemampuan akal manusia yang limited tidak akan bisa menjangkau eksistensi Allah Ta’ala sebagai Dzat yang tidak terbatas (unlimited). Tafsir liar tentang tuhan yang keluar dari akal manusia yang terbatas kemampuannya itu adalah suatu keharaman dalam agama.

Rasulullah Shollallahu alaihi wa sallam bersabda memperingatkan sebagaimana termaktub dalam Mu’jam Ath-Thobari dari sahabat Ibnu Umar Radhiyallaahu anhu:

“Berfikirlah kalian akan tanda-tanda kekuasaan Allah, dan janganlah berfikir tentang Dzat Allah“.

Segala cara yang ditempuh untuk menghadirkan Allah secara konkrit tak akan membuahkan hasil. Sebab, kemampuan akal manusia terbatas. Dan, mengerahkan segala usaha untuk hal ini akan membawa pada kebinasaan manusia.

Abu Ja’far Athohawi dalam Al-Aqidah Athohawiyah mengatakan, “Allah itu tak akan mampu digapai oleh khayal, tak akan sampai akal memikirkan dan tak akan pernah meyerupai makhluk-Nya“.

Dalam literatur klasik Islam telah dijelaskan bahwa untuk mengetahui tentang sesuatu langkahnya adalah kita harus menyaksikannya secara langsung tetapi ini tidak mungkin dilakukan pada Allah sebagai Dzat transenden. Dalam surah Al An’am: 103 Allah berfirman: “(Allah ) tak dapat ditembus penglihatan dan Dialah yang dapat menembus segala penglihatan,”. 

Sehingga, mengukur, mengqiyaskan, atau menyerupakan Allah dalam figur konkrit adalah sesuatu yang terlarang. Ini pun mustahil bagi Allah karena Allah tidaklah menyerupai apapun. Ini sebagaimana firman-Nya dalam surah Asysyura ayat 11: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya , dan Dialah Maha Mendengar Maha Mengetahui“.

Konsep mengenal Tuhan adalah menghukumi sesuatu dan mengetahuinya dari jejak yang terlihat dan dapat disentuh. Seperti inilah mengenal Allah, tak perlu melihat Dzat-Nya, cukup tanda-tanda keberadaan-Nya yang dapat dilihat pada diri manusia sendiri, alam semesta dan jagad raya.

Demikianlah perintah Allah kepada manusia agar memahami dzatnya yang mulia. “Tidakkah mereka merenungkan apa yang ada pada diri mereka (Ar Ruum:8). “Tidakkah mereka memperhatikan apa yang ada pada  kerajaan langit dan bumi” (Al ‘Araf:185). 

Akhirnya, tak sepatutnyalah manusia menafikan keberadaan Allah karena Allah tak dapat ditembus panca indera. Bukankah keberadaan siang hari tetap ada walaupun mata kelelawar tak dapat menembusnya.

Begitulah keberadaan Allah. Dia ada tapi hati manusia yang tertutup dengan dinding kesombongan yang tak patut ada, menghalanginya dari melihat Allah.

Ibnu  Athoillah dalam Al-Hikam memberi hikmah :

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلَّ شَيْءٍ

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ  بِكُلَّ شَيْءٍ

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلَّ شَيْءٍ

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ مِنْ كُلَّ شَيْءٍ

“Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia yang menamapakkan segala sesuatu

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia tampak pada segala sesuatu

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia tampak pada sebab segala sesuatu

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia tampak untuk segala sesuatu

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia lebih tampak dari segala sesuatu“

____________

SARAH ZAKIYAH, penulis adalah Pengurus PP Muslimat Hidayatullah.

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mushida Gorontalo Gelar Mabit Eratkan Ukhuwah

    Mushida Gorontalo Gelar Mabit Eratkan Ukhuwah

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2015
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Provinsi Gorontalo menggelar acara malam bina iman dan takwa (mabit) dalam rangka menjalin silaturrahim antar muslimat guna mengeratkan ukhuwah Islamiyah, awal September ini. Acara ini digelar dalam rangka untuk melakukan serangkaian revitalisasi dan konsolidasi guna memantapkan peran-perang kemuslimatan di Gorontalo. Apalagi waktunya dinilai tepat digelar di bulan Zulqa’dah yang berdekatan dengan […]

  • Rakerwil Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan Teguhkan Peran Strategis Muslimah

    Rakerwil Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan Teguhkan Peran Strategis Muslimah

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    (Makassar, mushida.org) – Rapat Kerja Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. dr. H.M. Ishaq Iskandar, pada 1 Mei 2026 di Aula Kampus Utama Hidayatullah Makassar.   Lebih dari sekadar agenda tahunan, Rakerwil ini menjadi awal dari langkah besar dalam memperkuat peran dan kontribusi Muslimat Hidayatullah di […]

  • Halaqoh Tarbiyah Mancanegara: Psikologi dan Ketangguhan Wanita Palestina

    • calendar_month Minggu, 21 Nov 2021
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Wanita tangguh ialah wanita pejuang yang memiliki kepribadian yang kuat, yang sholihah dan menjaga kesuciannya. Tak mudah menjadi wanita yang tangguh. Namun hal itu bisa diusahakan jika seorang muslimah mau serta mampu meneladani figur wanita tangguh sebagaimana yang dikisahkan dalam firman Allah Ta’ala. Halaqoh Tarbiyah Mancanegara (HATIMA) bekerja sama dengan Departemen Keputrian PP Muslimat Hidayatullah […]

  • Webinar Parenting PP Mushida Menambah Wawasan Orang Tua Menyiapkan Aqil Baligh Anak

    Webinar Parenting PP Mushida Menambah Wawasan Orang Tua Menyiapkan Aqil Baligh Anak

    • calendar_month Senin, 23 Okt 2023
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Rasulullah bersabda “Perintahkanlah anakmu sholat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan sholat) dan pisahkan tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak anak perempuan).” (H.R Abu Dawud) Hadits tersebut disampaikan oleh Ustadz Fauzil Adzhim pada Webinar Parenting yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Departemen Sosial PP Mushida […]

  • PP Mushida Selenggarakan Training of Trainer untuk Training Parenting I dan Training Bina Aqidah

    PP Mushida Selenggarakan Training of Trainer untuk Training Parenting I dan Training Bina Aqidah

    • calendar_month Minggu, 4 Sep 2022
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Dengan tersebarnya Mushida hampir seluruh daerah di Indonesia, maka Mushida berkewajiban memberikan tarbiyah untuk para ummahat dalam membina rumah tangganya. Mushida memiliki program Training Parenting I sebagai wadah pembinaan rumah tangga dan sekaligus mendukung Visi Mushida yaitu Membangun Keluarga Qurani menuju Peradaban Islam. Oleh karena itu, untuk menunjang program tersebut, maka Mushida melaksanakan program ToT […]

  • PP Mushida Selenggarakan Webinar Parenting

    PP Mushida Selenggarakan Webinar Parenting

    • calendar_month Senin, 18 Agt 2025
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak, dan orang tua adalah guru utama. Dalam Islam peran orang tua sangat mulia, bahkan disebutkan bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Namun, menjadi orang tua yang baik tidak hanya cukup dengan kasih sayang dan niat baik, tetapi juga membutuhkan ilmu, pemahaman dan keteladanan. PP Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan […]

expand_less