light_mode
light_mode

Profil dan Sejarah Singkat Muslimat Hidayatullah

Muslimat Hidayatullah merupakan organisasi perempuan yang lahir dalam momentum penting perjalanan Hidayatullah sebagai gerakan dakwah nasional. Organisasi ini resmi dideklarasikan pada Musyawarah Nasional I Hidayatullah yang berlangsung pada 9–13 Juli 2000 di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Momentum tersebut tidak hanya menandai kelahiran Muslimat Hidayatullah sebagai organisasi sayap perempuan, tetapi juga menjadi fase transformasi Hidayatullah dari organisasi sosial menjadi organisasi massa yang terbuka dan lebih luas perannya di tengah masyarakat.

Pada periode pertama kepengurusan tahun 2000–2005, Muslimat Hidayatullah dipimpin oleh Dr. Hj. Sabriati Aziz sebagai Ketua Umum dan Kurnia Irawati Istadi sebagai Sekretaris Jenderal. Kepemimpinan ini berlanjut pada periode 2005–2010 dengan Sabriati Aziz kembali dipercaya memimpin organisasi, didampingi Ir. Amalia Husna Bahar sebagai Sekretaris Jenderal. Pada masa inilah fondasi gerakan perempuan Hidayatullah mulai diperkuat secara nasional.

Perkembangan organisasi semakin terlihat melalui Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah yang diselenggarakan pada 8–10 April 2006 di Pondok Madina, Bumi Sudiang, Makassar. Forum yang dihadiri sekitar 200 peserta dari pengurus wilayah dan daerah seluruh Indonesia tersebut menetapkan semboyan “Membangun Peradaban Islam” sebagai identitas perjuangan organisasi.

Rakernas Makassar ini juga melahirkan sejumlah program strategis, di antaranya Grand MBA (Mengajar Belajar Al-Qur’an) dan pembentukan Majelis Taklim Qur’an di berbagai daerah sebagai sarana pembinaan umat berbasis keluarga dan masyarakat.

Pada Musyawarah Nasional III yang digelar di Kompleks TMII, Jakarta Timur, dan ditutup pada Kamis, 1 Juli 2010, forum menetapkan Reni Susilowati, M.Pd.I sebagai Ketua Umum dan Ir. Amaliah Husna Bahar sebagai Sekretaris Jenderal untuk periode 2010–2015. Dalam munas ini pula dibentuk Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) yang diketuai oleh Dr. Hj. Sabriati Aziz sebagai lembaga strategis yang memberikan arah dan pertimbangan organisasi.

Selanjutnya, Musyawarah Nasional IV berlangsung pada 7–9 Januari 2016 di Kampus Pesantren Ar-Rohmah Putri, Malang, Jawa Timur. Forum kembali menetapkan Reni Susilowati sebagai Ketua Umum untuk periode 2015–2020 dengan Leny Syahnidar Djamil sebagai Sekretaris Jenderal. Kepemimpinan ini memperkuat orientasi gerakan Muslimat Hidayatullah pada pembinaan perempuan, pendidikan keluarga, dan penguatan dakwah sosial.

Tantangan besar hadir ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Dalam situasi tersebut, Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah tetap terlaksana secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, pada 26–28 Maret 2021 atau bertepatan dengan 12–14 Syaban 1442 Hijriah. Mengusung tema “Konsolidasi Idiil, Wawasan dan Organisasi Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik,” forum ini menetapkan Hani Akbar sebagai Ketua Umum dan Leny Syahnidar Djamil sebagai Sekretaris Jenderal untuk periode 2020–2025.

Munas V juga menghasilkan pembentukan sejumlah struktur strategis organisasi, yaitu Majelis Mudzakarah, Majelis Murobbiyah Pusat, dan Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah sebagai penguatan sistem pembinaan internal. Namun, pada periode ini organisasi menghadapi ujian berat. Baru 104 hari setelah dilantik untuk masa amanah keduanya sebagai Sekretaris Jenderal, Leny Syahnidar Djamil wafat. Untuk menjaga kesinambungan organisasi, Pengurus Pusat menunjuk Siti Sarah Zakiyah sebagai pelaksana tugas Sekretaris Jenderal.

Kemudian, Musyawarah Nasional VI yang berlangsung di Jakarta pada 27–29 November 2025 kembali menetapkan Hani Akbar sebagai Ketua Umum dengan didampingi Zahratun Nahdhah, M.Pd sebagai Sekretaris Jenderal untuk masa bakti 2025–2030.

Saat ini Muslimat Hidayatullah telah berkembang di 38 provinsi di Indonesia dengan menaungi 272 pengurus daerah yang aktif membina muslimah di berbagai wilayah Nusantara. Gerakan organisasi bertumpu pada empat bidang utama, yakni dakwah, pendidikan, ekonomi, dan sosial kemanusiaan.

Dalam bidang pendidikan, Muslimat Hidayatullah mengelola lebih dari 250 lembaga pendidikan integral anak usia dini, membina 272 komunitas remaja putri, serta mengembangkan lebih dari 155 majelis taklim. Pembelajaran Al-Qur’an juga diperkuat melalui Rumah Qur’an Hidayatullah yang tersebar di berbagai daerah.

Pada sektor ekonomi, organisasi ini memberdayakan perempuan melalui pengembangan usaha keluarga, pelatihan keterampilan, dan penguatan UMKM. Sementara di bidang sosial kemanusiaan, Muslimat Hidayatullah aktif menyalurkan bantuan untuk korban bencana, menggalang dana kemanusiaan, serta menjalankan program berbagi rutin melalui Sedekah Jumat.

Melalui jaringan dakwah perempuan yang terus berkembang, Muslimat Hidayatullah hadir sebagai organisasi keagamaan pendukung sekaligus gerakan sosial yang berupaya menjaga martabat umat, memperkuat ketahanan keluarga, dan membangun peradaban Islam yang berkontribusi bagi bangsa serta perdamaian dunia.

Bagikan Threads
expand_less