Merawat Jiwa dengan Cahaya Iman, PP Mushida Bekali Muslimah Tentang Kesehatan Mental

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA — Kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan manusia secara utuh. Dalam perspektif Islam, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi jasmani, tetapi juga mencakup kesehatan akal, jiwa, ruh, dan hati.
Berangkat dari pentingnya hal tersebut, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan Webinar Mental Health dengan tema “Merawat Jiwa dengan Cahaya Iman” pada Ahad, 16 Agustus 2026/3 Rabiul Awwal 1448 H.
Lebih dari 3.700 peserta mengikuti kegiatan secara keseluruhan, dengan 525 partisipan Zoom yang terdiri dari Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, anggota, hingga Keputrian Muslimat Hidayatullah dari berbagai wilayah di Indonesia.
Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah, Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar mempersiapkan generasi muslimah, khususnya Keputrian Muslimat Hidayatullah yang kelak akan melanjutkan peran para ummahat.
Menurutnya, kesiapan generasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga kesiapan mental dan spiritual.
“Keputrian Mushida akan menggantikan ummahatnya. Karena itu, harus dipersiapkan segala sesuatunya,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya senantiasa memohon pertolongan dan penjagaan Allah SWT dalam setiap keadaan. Menurutnya, kekuatan mental seorang muslimah perlu dibangun dengan kedekatan kepada Allah sehingga mampu menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan kokoh.
Kesehatan Mental dalam Perspektif Holistik
Materi pertama webinar disampaikan oleh Dr. dr. Agus Rahmadi, M.Biomed., M.A., M.Si., MARS., Ph.D. Ia mengajak peserta memahami kesehatan mental secara lebih utuh, khususnya dalam perspektif Islam.
Menurutnya, muslimah sering kali dituntut untuk selalu kuat di tengah beragam peran dan tanggung jawab. Mulai dari peran domestik, tuntutan profesional, hingga ekspektasi sosial. Namun, ia menegaskan bahwa kuat bukan berarti tidak boleh lelah.
“Kesehatan mental bukan sekadar tidak adanya gangguan jiwa. Ia adalah keseimbangan dinamis seluruh dimensi kemanusiaan kita,” sebutnya.
Manusia memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan, yaitu jasad, akal (aql), nafs, ruh, dan qalb. Karena itu, persoalan kesehatan mental tidak dapat dilepaskan dari aspek spiritual.
Allah berfirman
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ia menjelaskan bahwa ketenangan hati melalui dzikir juga memiliki relevansi dengan temuan ilmiah. “Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa praktik dzikir dapat memberikan pengaruh positif terhadap otak, hormon, sistem saraf otonom, dan kesehatan mental,” paparnya.
Dzikir, lanjutnya, juga dikaitkan dengan peningkatan variabilitas denyut jantung serta perubahan aktivitas gelombang alfa pada otak yang berhubungan dengan kondisi relaksasi dan ketenangan. Ketika jiwa terasa lelah, jangan hanya bertanya, “Apa yang salah dengan iman saya?” Namun juga perlu bertanya, “Apa yang jiwa dan tubuh ini butuhkan untuk pulih kembali?”
Iman memberikan makna, ilmu memberi pemahaman, dan ikhtiar memberi jalan. Jika kita selalu yakin berada dalam pengawasan Allah, maka seharusnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi,” pungkasnya.
Iman sebagai Jangkar dalam Menghadapi Ujian
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Ida S. Widayanti, M.Pd.I. Ia menegaskan tentang hubungan antara keimanan dan kesehatan jiwa dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang mampu menyediakan waktu untuk berbagai aktivitas seperti rapat, pekerjaan, mengurus anak, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Namun, tidak jarang ruang untuk berhenti sejenak, merenung, berdoa, dan kembali mengingat Allah justru terlupakan. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menyediakan ruang bagi jiwa untuk terhubung kembali dengan Allah.
Dalam menghadapi persoalan hidup, iman bukanlah anestesi yang membuat seseorang mati rasa terhadap persoalan. Sebaliknya, iman adalah jangkar yang membantu seseorang tetap mampu menghadapi rasa sakit, memahami ujian, dan melewatinya dengan keteguhan,” urainya.
Dalam pemaparannya, ia juga menyebutkan tiga pilar penting yang dapat menjadi penyangga jiwa seorang muslimah, yaitu sabar, syukur, dan tawakal.
Sabar bukan berarti pasif menghadapi keadaan, melainkan kemampuan untuk tetap berada dalam kebaikan ketika kondisi belum sesuai dengan harapan.
“Syukur adalah kemampuan untuk tetap melihat dan menyadari nikmat Allah meskipun sedang berada dalam ujian. Sementara tawakal berarti melakukan ikhtiar terbaik yang mampu dilakukan, kemudian menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah SWT,” jelasnya.
Ketiga nilai tersebut menjadi bekal penting bagi muslimah dalam menjalani berbagai peran dan menghadapi dinamika kehidupan.
Melalui webinar ini, PP Muslimat Hidayatullah menegaskan pentingnya membangun kesadaran bahwa merawat kesehatan mental bukan hanya tentang menghindari tekanan dan kelelahan, tetapi juga tentang merawat hubungan dengan Allah, memahami diri, serta membangun ketahanan jiwa berlandaskan iman.
Dengan jiwa yang terawat dan iman yang kokoh, muslimah diharapkan mampu menjalankan berbagai perannya dengan lebih sehat, tenang, dan penuh makna, sekaligus mempersiapkan generasi yang kuat secara jasmani, mental, dan spiritual.
- person

Saat ini belum ada komentar