Taujih Ketum DPP Hidayatullah Warnai Rangkaian Munas VI Mushida
- Berita Headline Musyawarah Nasional Pengurus Pusat
- calendar_month Jumat, 28 Nov 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, mushida.org – Rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Muslimat Hidayatullah (Mushida) pada Kamis (27/11) menghadirkan taujih dari Ketua Umum DPP Hidayatullah K.H. Naspi Arsyad, Lc., yang memberikan arah dan pandangan strategis bagi penguatan Muslimat Hidayatullah dalam menghadapi tantangan dekade mendatang.
Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa sepuluh tahun ke depan akan ditandai oleh konvergensi lima faktor eksternal yang perlu diantisipasi secara serius oleh organisasi Islam, termasuk Mushida dan Hidayatullah secara keseluruhan.
Pertama, disrupsi teknologi bergerak pada fase puncak, mengubah perilaku sosial, pola kerja, dan model pendidikan. Hal ini menuntut umat Islam meningkatkan literasi digital sekaligus memperkuat etika penggunaan teknologi.
Kedua, Indonesia tengah memasuki masa puncak bonus demografi, di mana populasi usia produktif menjadi mayoritas. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk melahirkan generasi berdaya saing dan berkarakter Qur’ani.
“Ketiga, muncul fenomena fragmentasi sosial dan penurunan kualitas interaksi di media sosial secara global. Kondisi ini membuat masyarakat semakin rentan terhadap polarisasi dan disinformasi,” sebutnya di antara 250 peserta Munas VI Muslimat Hidayatullah yang hadir.
Keempat, ketidakpastian ekonomi global serta proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia memberi tekanan tersendiri terhadap stabilitas organisasi, sehingga diperlukan ketahanan kelembagaan dan inovasi gerakan.
Kelima, fragmentasi politik umat yang semakin terlihat turut mengancam kohesi internal organisasi Islam, termasuk Hidayatullah. Beliau menekankan pentingnya merawat persatuan umat melalui dakwah yang mencerahkan.
K.H. Naspi Arsyad juga menyoroti hubungan erat antara tarbiyah dan dakwah sebagai dua kekuatan yang saling melengkapi. “Tarbiyah membentuk individu yang beriman, sementara dakwah menggerakkan individu tersebut untuk beramal dan memperbaiki masyarakat secara kolektif,” ujarnya.
Beliau mengutip pesan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, bahwa peradaban Islam dibangun melalui integrasi iman, ilmu, dan amal, dengan pesantren sebagai miniatur peradaban Islam yang menghadirkan praktik nyata nilai-nilai Qur’ani.
Terakhir, K.H. Naspi Arsyad mengingatkan pentingnya bekerja dengan kesungguhan berdasarkan kapasitas yang diberikan Allah. “Bekerja bukan karena kemauan, tetapi karena batas dasar kemampuan,” ujarnya, seraya merujuk pada firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 78 yang menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya serta menyeru umat untuk bersungguh-sungguh di jalan-Nya.
“Dan berjihadlah kamu pada (jalan) Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama.” (QS. Al-Hajj: 78)
Taujih ini menjadi penguat semangat bagi para peserta Munas Mushida untuk terus berkhidmat, memperkuat kaderisasi muslimah, dan menjaga peran strategis Mushida dalam membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam.
- person


Saat ini belum ada komentar