Ketua Umum PP Mushida: Amanah Organisasi Adalah Titipan Allah yang Wajib Dipertanggungjawabkan

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta — Rapat Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah yang dilaksanakan pada 14 Juli 2026/29 Muharram 1448 H, diawali dengan tausyiah oleh Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah, Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd. Tausyiah tersebut mengulas Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-6 yang menjelaskan tentang perkara halal, haram, dan syubhat sebagai landasan bagi setiap muslim dalam menjaga integritas dan amanah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, maka ia akan terjatuh ke dalam perkara yang haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam arahannya, ia menjelaskan bahwa Allah SWT telah menjelaskan secara tegas perkara yang halal dan haram. Namun, masih banyak manusia yang tidak mampu membedakannya karena tidak membekali diri dengan ilmu.
“Allah sudah menjelaskan bahwa yang halal itu jelas dan yang haram pun jelas. Namun, sangat sedikit yang benar-benar memahami persoalan halal dan haram karena tidak dibekali ilmu,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menaati Rasulullah SAW dengan mengutip hadits
“Barang siapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurutnya, hadis tersebut menegaskan bahwa setiap muslim wajib menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam setiap aktivitas, termasuk dalam menjalankan amanah organisasi.
Ia juga menekankan agar seluruh pengurus tidak memandang amanah sebagai beban, melainkan sebagai kepercayaan yang Allah SWT titipkan kepada setiap hamba-Nya.
“Jangan menyepelekan amanah ini. Lihatlah bahwa amanah ini diberikan oleh Allah. Kita semua telah berikrar untuk menjalankannya. Kita akan dimintai pertanggungjawabannya,” tegasnya.
Pada bagian penutup, beliau mengingatkan bahwa menjaga kehormatan diri dan agama harus dimulai dari memperbaiki hati.
“Wajib bagi seorang muslim menjaga kehormatan dirinya dan agamanya. Bersungguh-sungguhlah memperbaiki hati. Jika hati baik, maka seluruh anggota tubuh akan menjadi baik. Sebaliknya, jika hati rusak, maka rusak pula amal seseorang. Konsekuensi dari hati yang baik adalah lahirnya amal yang baik, dan hati yang baik akan menghadirkan kedamaian,” tuturnya.
Rasulullah bersabda
“Ketahuilah, di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Melalui rapat ini, seluruh pengurus diharapkan semakin menyadari bahwa amanah organisasi bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan ibadah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, setiap pengurus dituntut untuk terus menuntut ilmu, menjaga keikhlasan, memperbaiki hati, serta menjalankan amanah dengan penuh integritas demi terwujudnya visi Muslimat Hidayatullah dalam membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam.
- person

Saat ini belum ada komentar