Pengayaan Alumni Daurah Marhalah Wustha, Mushida Perkuat Jati Diri dan Pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta — Bidang Rekrutmen, Pembinaan, Anggota, dan Perkaderan (RPP) Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan Pengayaan Alumni Daurah Marhalah Wustha dengan tema pendalaman materi Jati Diri dan Ahlus Sunnah wal Jamaah, Ahad, 23 Agustus 2026/10 Rabiul Awwal 1448 H. Kegiatan ini diikuti oleh anggota Muslimat Hidayatullah alumni Daurah Marhalah Wustha di berbagai provinsi di Indonesia, sebagai bagian dari upaya melanjutkan proses pembinaan dan penguatan kader.
Ketua Bidang RPAP PP Muslimat Hidayatullah, Saryati, S.H.I., menegaskan bahwa proses kaderisasi dan pembinaan tidak boleh berhenti, meski telah menyelesaikan jenjang Marhalah Wustha.
“Pengayaan ini penting karena ilmu yang pernah dipelajari perlu di-review, diperbarui, dan diamalkan,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan pemahaman tersebut semakin penting di tengah perkembangan era digital. Tantangan kader saat ini bukan hanya berkaitan dengan dari siapa mereka memperoleh ilmu, tetapi juga bagaimana memastikan informasi yang diterima sesuai dengan landasan Islam yang benar.
Meneguhkan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, lanjutnya, bukan sekadar memahami sebuah materi, melainkan juga menjaga identitas dan arah hidup sebagai seorang muslimah.
“Penguatan ini menjadi penting bagi alumni Marhalah Wustha agar menjadi kader yang memahami, meyakini, dan mengamalkan ajaran Islam serta mampu menyaring berbagai informasi dan menjadi rujukan di tengah masyarakat,” tuturnya.
Dalam pemaparannya, Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ustadz Abdul Kholiq, Lc. M.H.I menegaskan bahwa berislam merupakan kewajiban setiap muslim. Hal tersebut sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 19, “Innad dina ‘indallahil Islam” yang menegaskan bahwa agama yang diridai di sisi Allah adalah Islam.
Menurutnya, banyak kelompok yang mengatasnamakan Islam, tetapi dalam praktiknya terdapat penyimpangan dari ajaran Islam yang benar. Karena itu, seorang muslim perlu memiliki ketepatan dalam intisab, yakni menganut ajaran Islam yang tulen sekaligus bergabung dengan para penganutnya. Label Islam semata tidak cukup menjadi ukuran kebenaran suatu ajaran.
Lebih lanjut, ia menjelaskan salah satu pengertian Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dikemukakan Imam Asy-Syatibi dalam kitab Al-I’tisham. Makna jamaah berkaitan dengan persatuan di bawah kepemimpinan seorang pemimpin yang konsisten berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
“Makna jamaah menjadi nyata ketika menyatu di atas landasan yang sesuai dengan sunnah. Sebaliknya, menyatu di atas landasan yang berseberangan dengan sunnah dipastikan keluar dari makna jamaah,” jelasnya.
Dalam materi tersebut juga dibahas mengenai sistematika wahyu sebagai sebuah upaya untuk menapaki substansi ajaran Allah secara periodik hingga mencapai fase tertentu. Proses tersebut dilakukan dengan memperhatikan sunnah yang terkait sehingga seorang muslim memiliki kesiapan untuk menerima dan mengamalkan Islam secara kaffah.
Melalui kegiatan pengayaan ini, PP Muslimat Hidayatullah berharap alumni Daurah Marhalah Wustha terus bertumbuh sebagai kader yang kokoh dalam jati diri, kuat dalam pemahaman keislaman, dan mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari serta berkontribusi dalam pembinaan umat.
- person

Saat ini belum ada komentar