light_mode
light_mode

Mencetak Walijah Melalui Halaqah

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KUNCI menjadi seorang Muslim adalah mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat). Yaitu berucap asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyahadu anna muhammadan rasuulullah.

Ketika kalimat tauhid telah dilisankan, setelahnya segala konsekuensi syahadat harus dipenuhi oleh orang beriman.Mulai dari implementasi syahadat yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan yang menghalangi suatu jalan hingga berperang di jalan agama (jihad fi sabilillah).

Setidaknya ada 77 perkara keimanan yang harus dikerjakan oleh seorang beriman. Demikian disebutkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman yang diringkas oleh Imam al-Qozwaini.

Tentu tak semudah membalik telapak tangan dalam mengarungi proses keimanan yang bercabang hingga 77 tingkatan itu. Ibarat sebuah titian, ia adalah perjalanan yang pasti disesaki oleh gelombang tantangan dan rintangan yang membadai.

Sebagai makhluk sosial, maka potensi yang dipunyai tak cukup menjadi bekal jika tidak melibatkan bantuan orang lain. Apalagi kalau orang itu sampai bangga dan merasa cukup untuk ditolong oleh saudaranya.

Sebaliknya, setiap manusia niscaya membutuhkan kawan yang bisa seiring sejalan. Ada teman yang dapat menasehati kala diri lupa, ada sahabat untuk berbagi di masa senang dan susah.

Pun dalam membangun komitmen berdakwah dan berjuang untuk agama Islam, umat Islam berhajat untuk saling menguatkan buhul ukhuwah. Seorang Muslim membutuhkan saudaranya Mukmin yang lain agar menyatu dalam kekuatan yang satu. Saling bersinergi merekatkan potensi yang berserak di bawah kepemimpinan Islam.

Hal ini dijelaskan oleh Fathi Yakan dalam bukunya “Madza Ya’ni Intimai Ila al-Islam”. Ia mengatakan, orang-orang yang mengaku beriman namun enggan dalam memperjuangkan Islam adalah orang yang linglung. Keyakinan mereka adalah formalitas yang jauh dari realita kehidupan, meskipun beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan aktifitas kerohanian.

Menurut Fathi Yakan, berjuang untuk Islam hukumnya wajib sejak syahadat pertama kali diucapkan. Olehnya mendapatkan teman setia yang dapat mengingatkan kala tergelincir serta saling menjaga komitmen berIslam adalah sebuah keniscayaan sekaligus pekerjaan yang tidak mudah.

Persaudaraan dalam Islam saja tidaklah cukup. Sebab kawan setia yang dimaksud adalah sahabat yang dapat saling menopang dengan semua yang dia miliki. Mulai dari harta, raga, bahkan jiwa demi perjuangan Islam.

Dalam hal ini Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi teladan luar biasa bagi seluruh umat Islam. Sepanjang hidupnya Abu Bakar melakoni peran sebagai sahabat setia Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (Saw). Mulai dari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira hingga berujung di hari wafat Nabi.

Sebagaimana Nabi Muhammad juga berhasil mempersaudarakan sahabat Muhajirin (pendatang dari Makkah) dengan kaum Anshar (penduduk Madinah) sesaat bakda peristiwa Hijrah tersebut.

Lebih jauh, syariat Islam mengatur pertemanan orang-orang beriman dalam kehidupan mereka. Allah tidak ridha sekiranya orang beriman mengambil selain mereka sebagai kawan setia dalam memperjuangkan Islam.

Allah berfirman:

ام حسبتم ان تتركوا ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ولم يتخذوا من دون الله ولا رسوله ولا المؤمنين وليجة والله خبير بما تعملون

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah at-Taubah [9]: 16).

Allah menyiratkan akan menimpakan terus ujian dan cobaan bagi siapa saja yang mengaku beriman hingga mereka tersaring dan terpilih sebagai sebenar-benar orang mukmin.

Yaitu orang-orang yang berciri khas tak mau berkawan setia kecuali dengan Allah, Rasulullah, dan orang-orang beriman lainnya.

Ayat di atas juga menyebut kata ‘walijah’. Sebuah kata yang berasal dari akar kata ‘walaja-yaliju’ yang berarti masuk. Ia disebut walijah bagi seorang Muslim jika orang itu masuk sedalam-dalamnya pada kehidupan sahabatnya, menjalin cinta dan kesetiaan bersamanya.

Ibnu Mandzur berkata, walijah adalah bithanah, khashshah, dikhlah dan dakhilah al-mawaddah (Lihat kamus Lisan al-Arab).

Mencetak walijah melalui halaqah

Bagi orang beriman, budaya halaqah adalah tradisi yang sudah dikenal sejak masa para sahabat hidup bersama Nabi.

Sejarah mencatat, Rasulullah mengawali halaqah dalam pembinaan para sahabat sejak di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam.

Halaqah yang dimaksud adalah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang yang duduk melingkar untuk menuntut ilmu dan mempelajari agama.

Model menuntut ilmu semacam ini terus berkembang model dan jenisnya. Tercatat budaya halaqah kian tumbuh subur di masa Daulah Abbasiyah seperti yang tersebar kini di sejumlah pondok pesantren tradisional di Indonesia.

Dalam sistem halaqah tersebut, seseorang yang dianggap punya kompentensi ilmu lalu dipercaya sebagai murabbi (pembina halaqah) dan beranggotakan beberapa orang lainnya (mutarabbi). Biasanya anggota halaqah berjumlah sekitar 5-10 orang.

Istimewanya, sistem halaqah tersebut bukan hanya tempat menimba ilmu saja, tapi juga sebagai tempat mencetak orang-orang yang ingin menyempurnakan keimanan mereka.

Peran seorang murabbi dalam halaqah tidak hanya sebagai transformer (pemindah) ilmu namun juga berfungsi pencetak kader yang loyal terhadap Allah, Rasulullah, serta punya wala’ dan bara’ bersama orang-orang beriman lainnya.

Tugas besar sekaligus mulia itu tentu tidak mudah bagi setiap murabbi. Sebab ia harus melebur bersama para mutarabbi (binaan halaqah) dengan segenap hati, pikiran, dan perasaannya.

Dengannya, ia lalu dapat diterima, didengar dan dicintai oleh sesama anggota halaqah. Demikian itu sekaligus menjadi tahap seleksi yang membuktikan mana di antara anggota yang bersungguh-sungguh menjaga dan membangun komitmennya terhadap dakwah Islam.

Sejatinya dinamika yang terjadi dalam halaqah adalah miniatur suatu jamaah atau komunitas masyarakat. Olehnya tak salah, jika keluarga biasa disebut sebagai pondasi awal atau sekeping batu bata dalam membangun peradaban Islam, sedang halaqah adalah wadah dalam menjaga agar batu bata ini tetap teguh memikul tanggung jawab sebagai seorang mukmin.

Halaqah yang hanya terdiri dari beberapa anggota tersebut juga berfungsi menjadi wadah efektif mencetak walijah-walijah yang siap berjalan seiring dalam berdakwah dan membangun peradaban Islam.

Untuk itu diharapkan hati murabbi dan para mutarabbi bisa berpadu dalam suatu halaqah. Sejalan waktu, niscaya akan tersingkap anggota yang hanya ikut-ikutan atau sekedar turut ramai, misalnya.

Di saat yang sama, para walijah itu akan hadir membuktikan kesetiaan mereka. Sebuah komitmen yang tak hanya berdasar kepentingan materi, tapi murni sebagai pertautan hati yang terbangun semata karena iman.

Uniknya, masalah hati bukan urusan yang bisa dibuat atau dikarang begitu saja. Hati adalah perkara yang hanya bisa diatur oleh Allah. Dialah Zat yang dapat menautkan hati orang-orang beriman agar tetap istiqamah di jalan yang diridhai-Nya.

Hati-hati mereka lalu saling menjaga dan menasihati, saling mencintai serta mengikat janji setia dalam keadaan senang ataupun susah. Mereka siap mengorbankan jiwa dan raga demi dakwah dan kepentingan agama Islam.

Allah berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Anfal [8]: 63).

______
*) SARAH ZAKIYAH, penulis adalah pengurus PP Muslimat Hidayatullah; seorang guru sekolah dasar tinggal di Depok, Jawa Barat. 

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Semarakkan HSJD, Mushida Kalimantan Selatan Hadir di Kampung Mualaf Kotabaru

    Semarakkan HSJD, Mushida Kalimantan Selatan Hadir di Kampung Mualaf Kotabaru

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Kotabaru, Kalimantan Selatan — Muslimat Hidayatullah Kalimantan Selatan menghadirkan aksi nyata dalam penguatan kepedulian dan pembinaan umat melalui program Hari Solidaritas Jilbab Se-Dunia (HSJD). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 11 September 2026, di Dusun Liang Kalih, Desa Sungai Kupang, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penyaluran program HSJD kali ini menyasar masyarakat di perkampungan […]

  • Training Pranikah PW Mushida Jateng: Persiapkan Remaja Putri Menjadi Calon Istri

    Training Pranikah PW Mushida Jateng: Persiapkan Remaja Putri Menjadi Calon Istri

    • calendar_month Senin, 3 Feb 2025
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Semarang, mushida.org – Departemen Keputrian Muslimat Hidayatullah Jawa Tengah sukses menggelar acara Training Pranikah dengan tema “Menyiapkan Muslimah Shalehah untuk Generasi yang Berkualitas.” Kegiatan ini berlangsung di Gedung Dakwah Hidayatullah, Jalan Wonodri No. 41, Semarang, pada Rabu, 29 Rajab 1446 H (bertepatan dengan 29 Januari 2025). Acara ini diikuti oleh 38 remaja putri dari berbagai daerah di […]

  • Rakerwil Muslimat Hidayatullah Kepulauan Riau: Saatnya Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

    Rakerwil Muslimat Hidayatullah Kepulauan Riau: Saatnya Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    (Batam, mushida.org) – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Muslimat Hidayatullah Kepulauan Riau resmi dibuka pada 1 Mei 2026/13 Dzulqo’dah 1447 H, di Kampus Utama Hidayatullah Batam. Kegiatan ini mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Muslimat Hidayatullah yang Mandiri dan Berpengaruh.” Dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Batam, Ustadz Lukman Hakim, M.H., menegaskan bahwa Rakerwil bukan […]

  • Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur

    • calendar_month Jumat, 19 Apr 2024
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Part I Beberapa tahun silam, sembari mengemil sebatang cokelat, jemariku berselancar di atas layar smartphone. Saat membuka aplikasi YouTube, podcast wawancara Deddy Corbuzier dengan Syekh Ali Jaber (Allahu Yarham) yang ditayangkan di kanal YouTube Deddy langsung muncul di bagian paling atas berandaku. Podcast tersebut cukup viral pada saat itu. Telah ditonton sebanyak 11 juta kali […]

  • Kunjungan PP Mushida ke Institut Muslim Cendekia Perkuat Ukhuwah dan Dakwah Mahasiswi

    Kunjungan PP Mushida ke Institut Muslim Cendekia Perkuat Ukhuwah dan Dakwah Mahasiswi

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Arsyis Musyahadah
    • 0Komentar

    SUKABUMI — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah berkunjung ke kampus Institut Muslim Cendekia (IMC) Sukabumi, Jawa Barat, pada Sabtu, 21 Dzulqa’dah 1447 (9/5/2026). Kunjungan tersebut diisi dengan agenda pembinaan, pengarahan, dan motivasi kepada 30 mahasiswi Institut Muslim Cendekia yang merupakan kader Hidayatullah dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat ukhuwah dan penguatan dakwah […]

  • Musyawarah Wilayah Mushida Papua Selatan Tegaskan Peran Muslimah Dalam Perjuangan dan Pengabdian Masyarakat

    Musyawarah Wilayah Mushida Papua Selatan Tegaskan Peran Muslimah Dalam Perjuangan dan Pengabdian Masyarakat

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Musyawarah Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Papua Selatan digelar pada 3–4 Januari 2026 di Pondok Pesantren Hidayatullah Merauke. Kegiatan ini dilaksanakan dalam semangat syura sebagaimana firman Allah SWT: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka…” (QS. Asy-Syura: 38) Dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah […]

expand_less