Silaturahmi dan Konsolidasi Mushida Bali: Menyatukan Langkah, Perkuat Ukhuwah

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR — Muslimat Hidayatullah Bali melaksanakan Silaturahmi dan Konsolidasi pada Sabtu–Ahad, 29–30 Agustus 2026. Tidak sekadar menjadi forum pertemuan, rangkaian agenda tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat ukhuwah, mengokohkan kelembagaan, sekaligus menyusun langkah strategis gerakan perempuan Hidayatullah di Bali.
Rangkaian kegiatan diawali pada Sabtu (29/8) dengan Bedah Buku dan Seminar Parenting yang digelar di Masjid Muhammad, Jalan Imam Bonjol No. 335, Pemecutan Klod, Denpasar. Kegiatan menghadirkan Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.S.I. sebagai narasumber bedah buku dan Hari Imam Wahyudi, S.Psi., Psikolog, C.Ht. sebagai narasumber seminar parenting.
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan dari sekitar 40 majelis taklim di Denpasar dan Badung, serta perwakilan dari 33 organisasi kemasyarakatan (ormas) di Bali. Acara dibuka oleh Ketua MUI Komisi Perempuan, Remaja dan Bina Keluarga, Dra. Hj. Rahmani Sidik, M.A.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Selain mendapatkan penguatan terkait keluarga dan pola pengasuhan, forum tersebut juga menjadi ruang memperluas silaturahmi dan membangun peluang sinergi antarlembaga dalam program-program keumatan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Bali, Ust. Didik Khoiruddin Zuhri, S.Pd.I., memperkenalkan kepengurusan Muslimat Hidayatullah sekaligus memaparkan sejumlah program strategis keumatan yang dapat dikolaborasikan bersama majelis taklim maupun ormas di Bali.
Memasuki sore hari, rangkaian kegiatan berlanjut dengan agenda Penguatan Kelembagaan Muslimat Hidayatullah. Agenda internal ini diikuti oleh pengurus Mushida se-Bali serta guru dan karyawan akhwat Yayasan Al Islam Hidayatullah Denpasar.
Materi penguatan disampaikan oleh Dr. Ust. Abdul Ghofar Hadi, M.S.I., selaku Kabid Perkaderan dan Pembinaan Anggota Keluarga DPP Hidayatullah. Dalam arahannya, beliau menekankan posisi strategis perempuan dalam menopang perjuangan dakwah dan keluarga.
“Perempuan, khususnya para istri dari kader dan dai yang mendapat amanah bertugas di berbagai daerah, dituntut memiliki ketahanan diri agar mampu menjadi pendamping sekaligus penguat perjuangan suami,” tegasnya.
Beliau mengibaratkan peran tersebut sebagaimana sosok Khadijah radhiyallahu ‘anha, yang menjadi pendamping dan penguat Rasulullah ﷺ dalam fase-fase awal perjuangan dakwah.
“Perempuan harus kuat, sehat, dan tidak boleh lemah,” pesan beliau, menekankan pentingnya kesiapan fisik, mental, dan spiritual dalam menjalankan amanah dakwah.
Penguatan tersebut diharapkan menjadi energi baru bagi para pengurus Mushida se-Bali untuk semakin solid, saling menguatkan, dan mampu menjalankan amanah organisasi secara lebih optimal.
Menengok Sejarah dalam Lailatul Ijtima
Tidak berhenti sampai sore, kegiatan dilanjutkan pada malam harinya melalui Lailatul Ijtima Mushida se-Bali yang didampingi oleh para pengurus Muslimat Murabbiyah Wilayah (MMW). Forum tersebut menjadi ruang untuk melakukan refleksi, penguatan ruhiyah, sekaligus mengenang perjalanan panjang Mushida di Pulau Dewata.
Dalam kesempatan itu, Ketua MMW, Umi Lihayati, S.Pd.I., menyampaikan sejarah keberadaan Mushida di Bali. Ia mengungkapkan bahwa kiprah Mushida di Bali telah dimulai sejak tahun 2000, dengan kepemimpinan awal yang diamanahkan kepada almarhumah Ustadzah Wiwin.
“Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keberadaan Mushida di Bali bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba. Ada perjalanan panjang, perjuangan, pengorbanan, dan estafet dakwah yang telah dirintis oleh para pendahulu,” ungkapnya.
Mengenang sejarah bukan sekadar melihat masa lalu, tetapi menjadi bekal untuk memahami amanah yang harus diteruskan. Semangat para perintis diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi pengurus Mushida hari ini untuk melanjutkan perjuangan dengan tantangan dan kebutuhan zaman yang terus berubah.
Lailatul Ijtima pun menjadi momentum mempererat ikatan hati antarpengurus. Dalam suasana kebersamaan, para peserta mendapatkan penguatan untuk terus menjaga semangat dakwah, ukhuwah, dan keberlanjutan perjuangan Mushida di Bali.
Memasuki hari Ahad (30/8), konsolidasi berlanjut melalui agenda Monitoring dan Evaluasi Program Kerja Mushida se-Bali serta Sosialisasi Program Kebendaharaan.
Forum ini menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai program yang telah direncanakan dapat berjalan sesuai arah organisasi. Tidak hanya mengevaluasi capaian, para pengurus juga diajak melihat berbagai kendala yang muncul di lapangan secara terbuka dan objektif.
Para pengurus daerah diberikan ruang untuk menyampaikan berbagai problem dan tantangan organisasi yang dihadapi di wilayah masing-masing. Setiap persoalan kemudian dibahas bersama melalui mekanisme musyawarah untuk menemukan solusi yang realistis dan dapat ditindaklanjuti.
Melalui forum ini, berbagai pengalaman dari masing-masing daerah menjadi bahan pembelajaran bersama. Persoalan yang dihadapi satu wilayah dapat menjadi pelajaran bagi wilayah lainnya, sementara solusi yang telah berhasil diterapkan dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
Sosialisasi kebendaharaan juga menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola organisasi agar semakin tertib, transparan, dan profesional. Pengelolaan keuangan yang baik menjadi salah satu fondasi penting dalam memastikan keberlangsungan program dan amanah organisasi.
Rangkaian kegiatan selama dua hari tersebut memperlihatkan bahwa konsolidasi Mushida Bali tidak hanya berbicara tentang program kerja, tetapi juga menyentuh aspek ruhiyah, kaderisasi, kelembagaan, keluarga, sejarah, hingga tata kelola organisasi.
Dari mengenang perjuangan para pendahulu, memperkuat peran perempuan dalam keluarga dan dakwah, hingga mengevaluasi program dan menyelesaikan persoalan organisasi secara bersama, seluruh rangkaian menjadi bagian dari upaya membangun Mushida Bali yang semakin matang dan solid.
Dengan ukhuwah yang semakin erat, tata kelola yang terus dibenahi, serta keberanian untuk mengevaluasi dan mencari solusi bersama, Mushida se-Bali diharapkan mampu semakin kokoh dalam menjalankan perannya sebagai bagian dari gerakan dakwah dan pembinaan umat.
Karena organisasi yang kuat bukan hanya lahir dari banyaknya program, tetapi dari kuatnya hati yang terikat, solidnya barisan, dan kesediaan untuk terus belajar serta berbenah bersama.
- person
- Penulis: PW Mushida Bali

Saat ini belum ada komentar