light_mode
light_mode

Peran “Madrasatul Uula” dan Kebangkitan Generasi Zaman Now

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Nurfaiqoh*

BUKANLAH suatu kebetulan bahwa Al-Qur’an menginformasikan kita di dalam surat Al-Qashash mengenai konflik antara Nabi Musa dan Firaun, lalu menjadikan wanita sebagai fokus titik tolak kebangkitan. Allah menyatakan,

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (Al-Qashash 5).

Maka, proses menjadikan orang-orang tertindas itu sebagai pemimpin merupakan inisiasi kebangkitan, yang dimulai dengan seorang wanita. Allah berfirman,

 “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men jadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Al-Qashash 7).

Dengan demikian, wanita menjadi titik fokus dari konflik kita dengan lawan-lawan kita. Potensi kemenangan dan kekalahan umat Islam sangat bergantung erat kepada wanita. Ini bukan kata-kata untuk ceramah ataupun puisi. Ini merupakan preposisi aksiomatik yang menjadi realita, dan harus mendapatkan perhatian lebih.

Ujian Zaman 

Kini saban hari kita disuguhi berita dan tayangan yang menyesakkan dada. Media senantiasa heboh dengan berita kejahatan yang menyesakan, kekerasan, dan adegan syahwat menjadi tontotan yang dapat diakses oleh semua usia termasuk anak anak zaman now.

Sehingga tak mengherankan jika kemudian pornografi dan pornoaksi hampir menjadi menu keseharian yang berdampak pada meningkatnya perbuatan asusila di masyarakat.

Belum lagi berita tindak kejahatan pembunuhan, perampokan, pencurian, tawuran antar pelajar dan lain-lain kian membuat hati semakin miris.

Ada fakta-fakta yang mencengangkan dari hasil penelitian di berbagai kota besar di Indonesia. Pada tahun 1980-an sekitar 5 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks pra-nikah. Berikutnya, di tahun 2000  jumlahnya meningkat menjadi 20-30 persen.

Lalu bagaimana pertumbuhan angka pelaku zina di tahun 2010, di mana dengan pesatnya kemajuan teknologi, anak-anak makin mudah mengakses informasi yang tidak patut, termasuk paparan pornografi dan pornoaksi.

Menurut pemerhati kepengasuhan anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto, sejak beredarnya video porno, lebih dari 60 persen anak SMP sudah melakukan hubungan badan (okezone.com, 18 Juni 2010). Jika angka ini memang akurat, tentu saja menjadi fenomena yang sangat memprihatinkan.

Kurikulum Rabbani

Allah SWT berfirman:

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Qs. Ar-Ra’d : 11).

Ayat tersebut mengharuskan kita untuk melakukan antisipasi dan perbaikan nasib anak-anak kita untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita telusuri dari sisi psikologis, apa penyebab tercabutnya iman di dalam diri.

Ahli psikologi mengemukakan bahwa rasa percaya pada anak sudah mulai terbentuk ketika anak baru lahir sampai dengan usia 1,5 tahun.

Secara terminologis (isthilahiy), kata “iman” berarti “percaya.” Ahli psikologi mengemukakan bahwa rasa percaya pada anak sudah mulai terbentuk ketika anak baru lahir sampai dengan usia 1,5 tahun. Masa usia ini adalah masa penentu apakah anak akan memiliki rasa aman (percaya) atau bahkan rasa tidak aman (tidak percaya).

Bagaimana rasa aman pada anak bisa terbentuk? Anak mencari keamanan dengan mencari kasih sayang dari lingkungan sekitarnya, jika ia mendapatkannya maka ia akan berkembang menjadi individu yang memiliki rasa percaya terhadap dirinya dan juga terhadap orang lain.

Berkembangnya rasa aman dalam diri seorang anak merupakan pondasi awal terbentuknya individu yang sehat secara mental, dalam hal ini individu yang memiliki inisiatif, mampu berkarya, mampu membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain dan juga individu yang mampu menentukan perilaku sendiri dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku.

Jika rasa aman itu sangat penting, apa yang dapat dilakukan orang tua agar anak memiliki rasa aman? Sederhana saja, berikan perhatian dan kasih sayang kepada anak sejak anak lahir.

Segera berikan respon ketika bayi menangis karena semua bayi bisa mengembangkan rasa percaya pada orang lain ketika memiliki ibu/pengasuh  yang merespon cepat tangisan mereka. Ketika mendapatkan respon cepat, bayi akan memiliki rasa aman dan nyaman.

Selain memberikan respon yang cepat terhadap tangisan bayi, memeluk, menyentuh, dan berbicara pada bayi adalah cara lain membentuk rasa aman.

Tindakan-tindakan seperti itu, apabila dilakukan oleh orang tua terhadap bayi membuat bayi berpikir bahwa dunia adalah tempat yang menyenangkan. Tempat di mana orang lain dapat dipercaya, tempat di mana bayi mendapat bantuan ketika membutuhkannya.

Lalu apa hubungannya rasa aman dengan iman? Yang harus kita ingat, anak belajar percaya pada sesuatu yang nyata terlebih dulu, misalnya terhadap kasih sayang yang ditunjukkan orang tua.

Setelah itu, baru kemudian anak percaya pada sesuatu yang abstrak, misalnya percaya akan adanya Allah, akan adanya hisab atas perilaku yang diperbuat, sehingga anak takut ketika akan melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan terutama aturan Allah.

Jika ibu terlalu lama memberikan respon atau tidak mempedulikan tanda-tanda ketidaknyamanan bayi, misalnya ibu membiarkan bayi menangis lama baru kemudian diberi susu, memberikan susu botol tidak sambil digendong.

Mengacuhkan bayi karena sibuk dengan pekerjaan di rumah, memarahi bayi ketika mereka menangis, maka bayi akan merasa dunia adalah tempat yang “dingin” dan “kejam,” sehingga mereka tidak memiliki rasa aman atau percaya.

Maka tidak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang ia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan Allah karena ia tidak bisa percaya pada sesuatu yang sifatnya konkret (kasih sayang manusia), maka ia sulit percaya pada sesuatu yang sifatnya abstrak (hisab atas perilaku yang diperbuat). Ini berarti keimanannya lemah.

Memberikan rasa aman pada anak sejak lahir-1,5 tahun merupakan salah satu upaya pencegahan dini terhadap rusaknya moral anak di masa depan.

Sekolah Kasih Sayang

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa memberikan rasa aman pada anak sejak lahir-1,5 tahun merupakan salah satu upaya pencegahan dini yang dapat dilakukan oleh orang tua terhadap rusaknya moral anak di masa depan.

Nasib generasi di masa mendatang bisa diubah jika kita mau mengubahnya. Mulailah dengan mengubah anak kita terlebih dahulu dengan cara yang sederhana dengan memberikan rasa aman pada anak kita semenjak lahir sehingga mereka percaya bahwa hanya dari lingkungan rumahlah ia mendapatkan kasih sayang.

Bahwa ia tidak perlu mencari kasih sayang dari orang lain dengan cara-cara yang tidak wajar (melakukan hubungan seks-pranikah misalnya).

Selain itu dengan memiliki rasa aman, akan lebih memungkinkan bagi anak untuk memiliki rasa percaya atau keimanan kepada Allah, tapi tentu saja tidak terlepas dari bimbingan orang tua

Kokoh Awalnya, Indah Akhirnya

Setiap muslimah harus menyadari posisi mereka. ketahuilah bahwa kalian adalah intisari dan benteng umat. Para muslimah harus membekali diri dengan ilmu dan keimanan yang kokoh.

Muslimah yang bodoh dan loyo adalah musuh untuk dirinya, suaminya, keluarganya, dan komunitasnya. Jangan terpedaya jebakan setan yang terejawantahkan dalam adat dan kebiasaan jahiliyah.

Karena kebiasaan sosial jahiliyah yang rapuh adalah senjata para musuh Islam dan kaum liberal untuk ‘menjinakkan’ wanita muslim. Untuk menghancurkan Islam, mereka menghancurkan dahulu para muslimah.

Para musuh Islam membingkai usaha jahat mereka dengan bahasa-bahasa menyihir, semisal gerakan feminisme dan emansipasi wanita.

Sesungguhnya jalan kepada pembentukan pribadi muslimah sejati bukanlah jalan yang mulus dan indah. Tetapi jalan yang penuh pendakian dan rintangan, jalan yang penuh onak dan duri, jalan melawan arus globalisasi jahiliyah.

Hendaknya kita pahami betul hal ini. Seorang muslimah yang baik adalah muslimah yang menjadikan muslimah di zaman Rasulullah SAW sebagai cermin dan teladan kita.

Yakinlah bahwa kerja keras, keimanan, dan konsistensi kita akan dibalas keridhaan dan pahala Allah SWT. Kabar yang sungguh membahagiakan.

________
*) NURFAIQOH, penulis adalah Ketua Departemen Pendidikan PW Mushida Wilayah Sulawesi Tenggara

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muswil Mushida Aceh Kuatkan Kepemimpinan Organisasi

    Muswil Mushida Aceh Kuatkan Kepemimpinan Organisasi

    • calendar_month Minggu, 31 Jan 2021
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    “Hidup hanya sekali, jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Bekerjalah dengan baik, dan taatilah komando pemimpin.” Demikian sambutan yang disampaikan oleh Ketua DPW Hidayatullah Aceh, M. Ghofad, S.Ag., dalam Musyawarah Wilayah Mushida Aceh pada Kamis, 28/01/2021 yang bertempat di Kampus Putri Hidayatullah Lhoknga, Aceh Besar. Agar mampu menghadapi tantangan masa depan, imbuhnya, buatlah shaf […]

  • Bahaya Fitnah dan Kewajiban untuk Menghindarinya

    • calendar_month Selasa, 6 Feb 2024
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Di sebuah perkampungan kecil yang dipenuhi dengan kedamaian, tinggallah keluarga bahagia di sana meski hidup sederhana dan pas pasan. Namun, kedamaian itu hancur ketika kampung itu diguncang oleh fitnah keji yang menghantam keluarga itu. Tanpa bukti yang kuat, mulut busuk penyebar fitnah telah menghancurkan reputasi dan kehormatan sang kepala keluarga. Dia menjadi terisolasi, diselimuti oleh […]

  • Muswil I Mushida Papua Tengah Teguhkan Peran Muslimah Bangun Ketahanan Keluarga

    Muswil I Mushida Papua Tengah Teguhkan Peran Muslimah Bangun Ketahanan Keluarga

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    (Timika, mushida.org) Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Papua Tengah secara resmi menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) I yang bertempat di Aula Iskandar, Pondok Pesantren Hidayatullah Km. 09, Timika pada 30 Desember 2025. Mengusung tema “Meneguhkan Peran Muslimah dalam Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas”, Muswil I ini menjadi ajang konsolidasi strategis bagi para kader Muslimat Hidayatullah […]

  • Sejumlah Brand Terkenal Favorit Ibu Sponsori Rakerwil Mushida Jabodebak

    Sejumlah Brand Terkenal Favorit Ibu Sponsori Rakerwil Mushida Jabodebak

    • calendar_month Senin, 19 Mar 2018
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    DEPOK –  Alhamdulillah, gelaran acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Muslimat Hidayatullah Jabodebek baru saja selesai digelar selama 2 hari yang terlaksana dengan baik dan lancar. Kesuksesan acara yang diikuti oleh sedikitnya 30 perwakilan Pengurus Daerah (PD) Mushida Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi, ini tidak lepas dari dukungan maksimal yang diberikan oleh sponsor acara. Berkat dukungan […]

  • Memuliakan Anak Dengan Pendidikan Adab

    • calendar_month Senin, 24 Jan 2022
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Ibunda Imam Malik bin Anas bernama ‘Aliyah adalah ibu yang benar-benar memperhatikan tumbuh kembang anaknya dan mengetahui dengan baik bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar. Perjalanannya dalam mendidik buah hatinya hingga menjadi imam panutan dunia menarik untuk kita simak dan kemudian kita teladani. Dalam suatu riwayat, Imam Malik pernah bertanya kepada ibunya, “Ya Ummi, […]

  • Rakerwil Mushida Jawa Barat

    Rakerwil Mushida Jawa Barat

    • calendar_month Selasa, 21 Jun 2022
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    “Peran domestik sangat penting dan tidak boleh diabaikan sebab ia adalah kodrati,” kata Hani dalam pembukaan Rapat kerja Wilayah (Rakerwil) Mushida Jawa Barat terselenggara di Hotel Cirebon, Jawa Barat, belum lama ini. Ketua Umun (Ketum) Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Hani Akbar, menekankan pentingnya terus menguatkan peran domestik wanita muslimah sebagai bagian tak terpisahkan […]

expand_less