light_mode
light_mode

Muslimah Bali Hadiri Parenting dan Literasi Keluarga, Perkuat Harmoni Rumah Tangga dan Pendidikan Generasi

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR, BALI — Suasana syahdu berpadu dengan antusiasme tinggi membuncah di ruang utama Masjid Muhammad, Denpasar, Bali, Sabtu (29/08/2026). Sebanyak 450 peserta yang terdiri dari jamaah majelis taklim binaan Hidayatullah serta utusan berbagai organisasi kewanitaan Islam se-Bali memadati agenda akbar bertajuk Parenting dan Literasi Keluarga.

Acara yang diinisiasi oleh Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Bali berkolaborasi dengan PW Pemuda Hidayatullah Bali dan Pos Dai ini mengusung tema “Taman Surga di Pulau Dewata: Merajut Harmoni Suami-Istri, Mencetak Generasi Penyejuk Hati.”

Kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan syiar Islam sekaligus pengokohan silaturahmi antarorganisasi muslimah di Pulau Dewata.

Ketua Komisi Peran Wanita Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, Ibu Hj. Ani, hadir membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi Hidayatullah dalam merawat ketahanan keluarga Muslim di tengah heterogenitas dan dinamika sosial masyarakat Bali.

“Keluarga adalah benteng pertahanan umat yang paling mendasar. Ketika rumah tangga rapuh, maka peradaban pun akan goyah. Karena itu, literasi keluarga dan pemahaman tentang peran suami dan istri seperti yang digagas hari ini merupakan ikhtiar yang sangat luar biasa untuk melahirkan generasi Muslim yang berkarakter dan berakhlak mulia,” tutur Ibu Hj. Ani.

Ia berharap kegiatan semacam ini terus diperkuat sebagai bagian dari ikhtiar membangun keluarga-keluarga Muslim yang mampu memancarkan nilai Islam yang ramah dan menyejukkan di tengah masyarakat Bali.

Pernikahan Bukan Mencari yang Sempurna

Sesi pertama menghadirkan narasumber nasional, Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Si., Ketua Bidang Rekrutmen, Pembinaan, dan Perkaderan DPP Hidayatullah yang juga menjabat sebagai Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat.

Melalui bedah buku Ketika Suami…, Abdul Ghofar mengajak para peserta untuk melihat pernikahan dari sudut pandang yang lebih realistis dan berorientasi pada tujuan akhir kehidupan seorang Muslim.

Dengan gaya penyampaian yang lugas, hangat, dan sesekali diselingi humor, ia mengingatkan bahwa salah satu persoalan dalam rumah tangga adalah tingginya ekspektasi terhadap pasangan.

“Kadang-kadang kita masuk ke dalam pernikahan dengan membawa gambaran yang terlalu sempurna. Kita ingin suami yang begini, istri yang begitu. Padahal ketika menikah, kita sedang mempertemukan dua manusia biasa yang sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan,” ujarnya.

Menurutnya, pernikahan bukanlah ruang untuk mencari pasangan tanpa cela. Justru, pernikahan menjadi tempat bagi dua insan untuk belajar menerima, bersabar, memperbaiki diri, dan saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah SWT.

“Pernikahan bukanlah panggung untuk mencari pasangan yang sempurna. Pernikahan adalah sarana berburu ridha Allah. Di situlah kita belajar sabar, belajar taat, belajar menerima, dan belajar memperbaiki diri,” paparnya.

Ia menegaskan bahwa rumah tangga merupakan medan dakwah yang paling dekat dengan kehidupan seseorang.

“Rumah tangga itu medan dakwah terkecil. Bagaimana kita memperlakukan pasangan, bagaimana kita berbicara, bagaimana kita menghadapi konflik, semuanya adalah bagian dari dakwah. Bahkan dari rumah yang kecil itulah akan lahir generasi yang menentukan masa depan umat,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, Abdul Ghofar juga menguraikan berbagai tantangan yang kerap muncul dalam kehidupan berpasangan. Mulai dari persoalan emosi, romantisme, kondisi finansial, hingga krisis kepercayaan.

Ia mengingatkan para peserta bahwa persoalan rumah tangga tidak selalu harus dibalas dengan reaksi yang sama.

“Ketika pasangan sedang marah, jangan selalu merasa kita harus langsung membalas. Kadang yang dibutuhkan bukan jawaban, tetapi kemampuan untuk menahan diri. Diam dalam situasi tertentu bukan berarti kalah, tetapi bisa menjadi bentuk kebijaksanaan,” jelasnya.

Peserta kemudian dibekali sejumlah langkah dalam menghadapi konflik rumah tangga. Salah satunya adalah menahan lisan atau silent wisdom, agar persoalan tidak semakin membesar akibat emosi yang tidak terkendali.

Selain itu, ia mengajak para peserta untuk kembali mendekat kepada Allah ketika menghadapi kegelisahan.

“Kalau hati sedang panas, jangan buru-buru mengambil keputusan. Ambil wudhu, istighfar, shalat, dan tenangkan diri. Jangan sampai satu menit kemarahan menghasilkan penyesalan yang panjang,” pesannya.

Menurut Abdul Ghofar, ketika konflik datang, seseorang juga perlu belajar melihat kembali kebaikan pasangannya.

“Jangan sampai karena satu kekurangan, kemudian semua kebaikan pasangan hilang dari ingatan kita. Ingat kembali perjuangannya, kebaikannya, kenangan yang pernah dibangun bersama. Jangan biarkan satu masalah menghapus seluruh kebaikan yang sudah ada,” tuturnya.

Ia pun mengajak para peserta untuk tidak menjadikan konflik sebagai alasan untuk saling menjauh, melainkan sebagai kesempatan memperbaiki hubungan. Setelah emosi mereda, bukalah kembali ruang komunikasi. Bicara dari hati ke hati. Kadang rumah tangga tidak membutuhkan siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mau lebih dahulu menurunkan ego dan membuka pintu maaf.

Menutup materinya, Abdul Ghofar menggambarkan perjalanan rumah tangga sebagai perjalanan menuju surga yang harus ditempuh bersama.

“Terbanglah menuju surga bersama pasangan dengan dua sayap utama: sabar saat diuji dengan kekurangannya dan bersyukur ketika menikmati kebaikannya. Jangan pernah meninggalkan doa, karena doa adalah senjata yang sangat kuat bagi seorang istri shalihah” pesannya yang disambut penuh perhatian oleh para peserta.

Membangun “Taman Bali” dari Dalam Rumah

Melengkapi pembahasan tentang keharmonisan rumah tangga, sesi kedua menghadirkan Bapak Hari Aman Hidayat, S.Psi., M.Psi., pakar psikologi yang membahas tantangan pendidikan anak di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial.

Melalui metafora “Taman Bali” Hari Aman mengajak peserta memahami bahwa anak ibarat bunga yang membutuhkan lingkungan terbaik untuk tumbuh dan berkembang.

“Kalau kita ingin melihat bunga tumbuh indah dan wangi, kita tidak cukup hanya memperhatikan bunganya. Kita harus melihat akarnya, tanahnya, dan lingkungan tempat bunga itu tumbuh. Begitu juga dengan anak,” ujarnya.

Menurutnya, akar dan tanah tempat tumbuhnya seorang anak adalah hubungan antara ayah dan ibu. Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan. Anak belajar dari apa yang setiap hari ia lihat. Cara ayah dan ibu berbicara, bekerja sama, menyelesaikan perbedaan, bahkan cara menghadapi konflik, semuanya direkam oleh anak.

Ia menekankan bahwa rumah yang harmonis memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak.

“Anak yang tumbuh dalam rumah yang tenang tidak perlu menghabiskan energinya untuk merasa takut dan cemas. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, menjadi safe haven, tempat ia pulang, bertumbuh, dan merasa dicintai.

Dalam konteks perkembangan teknologi, Hari Aman mengingatkan bahwa tantangan orang tua saat ini bukan sekadar membatasi penggunaan gawai.

“Masalahnya bukan hanya berapa jam anak memegang gawai. Yang lebih penting adalah, ketika anak membutuhkan kita, apakah kita benar-benar hadir? Jangan sampai kita meminta anak menjauh dari layar, sementara kita sendiri hadir di rumah tetapi sibuk dengan layar masing-masing,” katanya.

Ia pun mendorong para orang tua untuk membangun komunikasi yang utuh dengan anak. Orang tua harus menyediakan waktu untuk berbicara dengan anak. Bukan hanya bertanya, ‘Sudah makan?’ atau ‘Sudah belajar?’, tetapi benar-benar berbicara. Dengarkan apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan, dan apa yang sedang mereka hadapi.

Selain komunikasi, Hari Aman menekankan pentingnya keselarasan pola asuh antara ayah dan ibu.

“Jangan sampai ayah mengatakan boleh, ibu mengatakan tidak. Aturan di rumah harus memiliki kesepahaman. Anak membutuhkan kepastian agar ia memahami nilai dan batasan yang berlaku dalam keluarganya,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif seorang ayah dalam pendidikan anak. Kehadiran ayah bukan sekadar mencari nafkah. Anak membutuhkan keterlibatan ayah dalam proses tumbuhnya. Berikan waktu, perhatian, berdialog, bermain, dan terlibat dalam kehidupan mereka.

Menurut Hari Aman, membangun generasi yang kuat harus dimulai dari membangun rumah yang sehat.

“Kalau kita ingin memiliki generasi yang percaya diri, mandiri, dan memiliki ketahanan mental, maka rumahnya harus lebih dahulu menjadi tempat yang menenangkan. Jangan berharap anak tumbuh kuat jika setiap hari ia harus bertahan dari suasana rumah yang tidak membuatnya merasa aman,” pungkasnya.

Ukhuwah Muslimah Bali Menguat

Antusiasme peserta tak surut hingga penutupan acara pukul 12.00 WITA. Sesi tanya jawab menjadi ruang yang hangat bagi para ibu dan remaja putri untuk berkonsultasi langsung mengenai berbagai persoalan komunikasi keluarga hingga strategi mendampingi anak dalam menggunakan gawai secara bijak.

Keceriaan acara semakin lengkap saat panitia membagikan puluhan doorprize menarik, mulai dari buku bertanda tangan penulis, bingkisan produk herbal, perlengkapan ibadah, hingga paket kebutuhan rumah tangga persembahan para sponsor dan Pos Dai Bali.

Ketua PW Muslimat Hidayatullah Bali menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang edukasi bagi para peserta, tetapi juga mempererat silaturahmi antarorganisasi perempuan Islam di Bali.

Melalui pertemuan tersebut, dakwah muslimah diharapkan terus hadir sebagai kekuatan yang membangun keharmonisan keluarga, memperkuat ukhuwah, dan menebarkan nilai-nilai Islam di tengah pluralitas masyarakat.

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Profil KB-TK Yaa Bunayya Kebumen

    Profil KB-TK Yaa Bunayya Kebumen

    • calendar_month Jumat, 27 Okt 2023
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Kelompok Bermain  dan Raudhatul Athfal Terpadu Yaa Bunayya, didirikan pada tahun 2000, Keberadaannya diprakarsai oleh Muslimah Hidayatullah (Mushida), di bawah naungan Yayasan Al Iman, Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Kebumen. Dengan adanya pendidikan usia dini di pusat (Surabaya) maka Pengurus Yayasan Al Iman Kebuman  dipimpin oleh Ustadz Akhmad Yunus dan Pengurus Muslimat Hidayatullah Kebumen bermusyawarah untuk […]

  • Sinergi PP Mushida dan Hidayatullah Institute Gelar Pelatihan Kepemimpinan Muslimat Hidayatullah Se-Indonesia

    • calendar_month Senin, 4 Mar 2024
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Lembaga pendidikan dan pelatihan Hidayatullah Institute (HI) di bawah Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bekerja sama dengan PP Muslimat Hidayatullah menggelar Pelatihan Kepemimpinan Muslimat Hidayatullah (Leadership Training) yang digelar pada 28 Februari-3 Maret 2024 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang, Jakarta. Pelatihan Kepemimpinan Muslimat Hidayatullah Batch 1 dengan tema “Kepemimpinan […]

  • Andai Bisa Terulang, Takkan Kulepaskan…

    Andai Bisa Terulang, Takkan Kulepaskan…

    • calendar_month Senin, 8 Agt 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    IZINKAN aku membagi sebuah kisah, tentang seorang gadis kecil yang tegar, yang ketegarannya membuatku malu dan banyak mengambil teladan darinya. Sejak kecil hingga sampai pada usia dewasa saat ini; aku telah banyak melakukan kesalahan dan kebodohan yang membawaku pada penyesalan demi penyesalan. Sebagai manusia, yang tak luput dari salah. Tapi sungguh, “melepaskan” tangannya adalah hal […]

  • Silaturahmi ke Daycare Lansia ‘Aisyiyah, Muslimat Hidayatullah Gali Inspirasi Pelayanan Lansia

    Silaturahmi ke Daycare Lansia ‘Aisyiyah, Muslimat Hidayatullah Gali Inspirasi Pelayanan Lansia

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Yogyakarta, mushida.org – Muslimat Hidayatullah melakukan kunjungan silaturahmi ke Daycare Lansia ‘Aisyiyah pada 9 Juni 2026/23 Dzulhijjah 1447 H. Kunjungan ini dilakukan oleh Ketua Bidang Pelayanan Umat, Sudaryani, bersama Pengurus Wilayah Mushida DIY Jawa Tengah Bagian Selatan di antaranya Nuraeni, Astuti, dan Ary Widyantari. Silaturahmi ini menjadi ajang dialog dan berbagi pengalaman terkait pembinaan lansia. […]

  • PP Muslimat Hidayatullah Luncurkan Mushida Centre, Majelis Qur’an Lansia, dan Sekolah Lansia

    PP Muslimat Hidayatullah Luncurkan Mushida Centre, Majelis Qur’an Lansia, dan Sekolah Lansia

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Jakarta — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) resmi meluncurkan Mushida Centre, Majelis Qur’an Lansia, dan Sekolah Lansia pada Sabtu, 25 Juli 2026/10 Safar 1448 H, di Gedung Dakwah DPP Hidayatullah, Cipinang, Jakarta Timur. Kegiatan dengan tema “Bahagia Bersama Al-Qur’an di Usia Senja,” ini dilaksanakan secara hybrid, dengan dihadiri 120 orang dan 95 partisipan Zoom di 37 provinsi di seluruh […]

  • Ustadzah Reni Susilowati Narsum Webinar Nasional Parenting

    Ustadzah Reni Susilowati Narsum Webinar Nasional Parenting

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2020
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) Ustadzah Dra. Reny Susilowati, M.Pd.I menjadi narasumber dalam acara Webinar Series 02 Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mengokohkan Jatidiri Keluarga Sebagai Basis Peradaban Islam”, Sabtu (19/09/2020). Webinar ini juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) Dr Hj Sabriati Aziz, Ketua Umum […]

expand_less