light_mode
light_mode

Tentang Halaqoh dan Setangkup Rindu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Zahratun Nahdhah
Entah sudah berapa lama kita tak bertemu

Benakku sibuk menghitung hari yang telah berlalu

Sedang gedoran rindu semakin kuat bertalu

Adakah kata selain rindu, 

untuk menggambarkan betapa hasrat ingin bertemu memenuhi ruang kalbu?
Pandemi yang semakin bergejolak memaksa kita berada di rumah untuk sementara waktu

Hingga waktu yang tak tentu
Lingkaran cinta itu…

Genggam tangan penuh kehangatan itu…

Senyuman tulus yang terukir selalu…

Lantunan tilawah nan merdu

Untaian taushiah dan nasihat penyejuk kalbu

Uraian materi dan diskusi sarat ilmu

Obrolan-obrolan ringan tapi bermutu

Canda tawa penghangat suasana pengusir jemu

Sungguh, aku rindu…
Pandemi, segeralah berlalu

Rindu bermajlis bersama sahabat-sahabat seperjuanganku

di mana tatap mata saling beradu, 

lutut saling bertemu, 

dan genggam tangan menyatu…

***

Sore itu, aku bersiap-siap untuk berangkat halaqoh. Niat hati mau membawa si kecil, qadarullah dia malah tidur. 

Belakangan ini pola tidur gadis kecilku ini memang berubah. Sepanjang pagi dan siang ia tak tidur. Biasanya menjelang ashar, barulah ia tertidur, dan baru terbangun nanti menjelang maghrib.

Karena tak ingin membangunkannya, aku menitip pesan pada suami yang sedang duduk-duduk santai di teras sembari menyesap secangkir kopi Radix. “Bang, aku mau pergi halaqoh dulu ya… Cila lagi tidur.”

“Oke, siap,” sahut Si Abang.

Aku lalu berangkat menuju tempat halaqoh di rumah sahabat seperjuanganku yang hanya sepelemparan kaki dari rumah. Ini halaqoh yang ketiga kalinya, setelah hampir enam bulan halaqoh tatap muka ditiadakan dikarenakan situasi pandemi.

Sejenak pikiranku melayang ke masa lalu. Di masa kecil dahulu, jadwal halaqoh Ibunda setiap hari Selasa siang adalah momen yang selalu kutunggu-tunggu. Setiap tiba hari Selasa, aku merasakan kegairahan yang luar biasa. Hari yang telah dinanti-nanti akhirnya tiba. Segalanya terasa indah di hari Selasa. Setiap jengkal tanah yang kupijak menguarkan aura bahagia. Dan di hati ini, bermekaran bunga-bunga. 

Sedari pagi, benakku telah sibuk menghitung waktu menuju siang hari, tepatnya jam tiga. Biasanya, penunjuk waktu di jam dinding menunjuk angka tiga, bersamaan dengan pengumuman yang menggema dari toa masjid, “Sholaaah… Sholaaah… Waktu sholat ashar tinggal 30 menit…”.

Inilah saatnya! Sebagai seorang kakak yang penyayang, aku akan bergegas memanggil adik-adikku. Lalu kami melangkah dengan elegan, gegas dan tangkas, tanpa tapi tanpa nanti. Tujuan kami tak lain adalah rumah shahibul bayt yang hari itu mendapat giliran menjadi tuan rumah halaqoh.

Sesampai di rumah yang kami tuju, dengan malu-malu tapi mau aku beruluk salam.

“Assalamu’alaikum, Bunda. Ini nah si A (menyebut nama adik yang paling kecil) minta diantarin ke Bunda.” Alasan klasik dan klise, tetapi jurus jitu untuk menghalau kikuk dan keki, sekaligus sebagai alibi.

Bundaku, tentu saja tahu jika itu hanyalah alasan yang dipaksakan, alibi yang dicari-cari. Karena sungguh mencolok sekali. Kok bisa waktunya selalu tepat sekali, setiap kali. 

Seperti sudah jadi tradisi, aku akan mengantarkan adik-adikku ke tempat halaqoh di saat tuan rumah sudah mulai menyuguhkan piring-piring berisi penganan dan masakan untuk disantap para tetamu. Sungguh sebuah kebetulan yang sangat mengharu biru. Tetapi luar biasanya, Bunda tak pernah mengungkit itu. 

Cerita selanjutnya sudah bisa diterka. Yang berhalaqoh Ibunda, tetapi yang semangat 45 menyantap segala hidangan yang disuguhkan adalah anak-anaknya. Karena memang hidangan-hidangan itulah daya tarik terbesar halaqoh di mata kami, para bocah belia. Yang menjadi pemantik motivasi untuk selalu datang ke tempat halaqoh tepat jam tiga.

Begitupun ibu-ibu lainnya. Nyaris semua ibu yang hadir di halaqoh ini mengalami nasib yang sama dengan Bunda. “Bala tentara” mereka juga selalu berbondong-bondong datang menjelang jam tiga. Kalau setiap ibu rata-rata dibuntuti dua, tiga, empat, bahkan lima balatentaranya, bayangkanlah betapa meriahnya. Ramai tak terkira. Tuan rumah jika tak menyiapkan hidangan untuk sekompi, siap-siap saja kalang kabut dibuatnya. Sebanyak apapun yang dihidangkan, pasti licin tandas tak bersisa.

Malu rasanya saat mengingatnya sekarang. Tapi bagi kami di masa kecil, momen itu sungguh 
menyenangkan bukan kepalang. Salah salah satu momen terindah untuk dikenang. Terpahat indah di ingatan, tak akan pernah lekang. 
Bersambung
  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan Sahkan Program Kerja Daerah

    Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan Sahkan Program Kerja Daerah

    • calendar_month Selasa, 29 Jun 2021
    • account_circle admin
    • 0Komentar

      Sulawesi Selatan- Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan menggelar kegiatan pengesahan program kerja daerah (26/6/2021) kemarin secara virtual melalui aplikasi zoom meeting. Kegiatan berlangsung selama satu hari tersebut dihadiri semua pengurus truktural Pengurus wilayah dan 21 Ketua Pengurus Muslimat Hidayatullah daerah. Nuryanti selaku panitia pelaksana menyampaikan kesyukuran atas berlangsungnya acara ini. “Alhamdulillah kegiatan […]

  • Pentingnya Penanaman Aqidah Bagi Muslimah dalam Membangun Peradaban

    Pentingnya Penanaman Aqidah Bagi Muslimah dalam Membangun Peradaban

    • calendar_month Senin, 7 Des 2020
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    JAKARTA – Webinar series ketiga yang diadakan oleh Panitia Munas V Muslimat Hidayatullah menghadirkan seorang pakar pergerakan Muslimah dari Malaysia, yaitu Dr. Suriani Sudi.  Beliau yang menjabat sebagai Ketua Wanita ISMA Malaysia ini bersanding dengan Dr. (Cand.) Reny Susilowati, M.Pd.I (Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah) dalam seminar yang mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya […]

  • Penutupan Pelatihan Kepemimpinan Talenta Muda Mushida Tegaskan Aspek Profetik, Inovatif, Kolaboratif

    • calendar_month Senin, 18 Nov 2024
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    (Jakarta, mushida.org) Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq, MA, menutup acara kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Talenta Muda Muslimat Hidayatullah yang digelar Lembaga pendidikan dan pelatihan Hidayatullah Institute (HI) Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bersinergi dengan PP Muslimat Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada 17 November […]

  • PP Muslimat Hidayatullah Hadiri Milad ke-47 Majelis Ulama Indonesia

    • calendar_month Minggu, 31 Jul 2022
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    (Jakarta, mushida.org) Majelis Ulama Indonesia adalah wadah musyawarah para Ulama, Zu’ama, dan Cendekiawan Muslim di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia. MUI tepat berusia 47 tahun pada Selasa 26 Juli 2022. Sejarah MUI lahir pada tahun 1975 itu merupakan hasil musyawarah yang diwakili ulama dari 26 Provinsi di Indonesia kala […]

  • Srikandi Pengukir Sejarah, Pencorak Peradaban Ummah

    Srikandi Pengukir Sejarah, Pencorak Peradaban Ummah

    • calendar_month Minggu, 14 Nov 2021
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Pepatah Arab mengatakan bahwa wanita adalah tiang dan pondasi negeri. Sebuah negeri akan menjadi baik jika wanitanya memiliki pribadi yang baik. Peran muslimah dan ummahat sangat berpengaruh dalam mengokohkan pilar keluarga. Berkaca dari hal tersebut, Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) menghadirkan webinar dengan tema, “Srikandi Pengukir Sejarah, Pencorak Peradaban Ummah.” Webinar yang mengundang empat tokoh […]

  • Muslimat Hidayatullah Tolak RUU Kesetaraan Gender

    Muslimat Hidayatullah Tolak RUU Kesetaraan Gender

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2013
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    MUSHIDA.ORG —  Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), demikian kedudukan antara pria dan wanita di dalam Islam sebagaimana ditetapkan Allah dalam al-Quran. Karena itulah kelebihan pria atas wanita tidak bisa disamakan atau disetarakan. Pernyataan ini disampaikan oleh organisasi Muslimat Hidayatullah […]

expand_less