Webinar Kepengasuhan Muslimat Hidayatullah, Bangun Fondasi yang Berkarakter
- Nasional Pendidikan Anak
- calendar_month 23 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Pengasuh yang berkarakter menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun pendidikan pesantren. Bukan sekadar memastikan santri menaati aturan, pengasuh memiliki tanggung jawab mendidik dan membentuk kesadaran santri agar memiliki ketundukan kepada Allah, bahkan ketika tidak berada dalam pengawasan.
Hal tersebut yang melatarbelakangi Webinar Kepengasuhan Putri yang diselenggarakan PP Muslimat Hidayatullah pada Ahad, 1 November 2026/21 Jumadil Awwal 1448 H dengan tema “Membangun Fondasi Kepengasuhan yang Berkarakter.”
Dalam sambutannya, Kabid Pendidikan PP Muslimat Hidayatullah, Ustadzah Hapseni Dirwan, S.H.I., menegaskan bahwa kepengasuhan bukan sekadar aktivitas menjaga santri, melainkan proses pendidikan yang berlangsung selama kehidupan mereka di pesantren.
“Pengasuhan bukan sekadar penjagaan. Pengasuhan adalah proses pendidikan yang berlangsung selama santri berada di pesantren,” ungkapnya.
Merujuk pada Surah At-Tahrim, ia mengingatkan bahwa pengasuh memiliki andil besar dalam menjaga dan membimbing santri. Menurutnya, pesantren tidak boleh hanya melahirkan santri yang takut terhadap aturan dan pengawasan pengasuh.
“Kita tidak ingin membangun pesantren yang diisi santri-santri yang hanya takut aturan. Tetapi kita ingin menanamkan rasa khauf kepada Allah, sehingga meskipun tidak dalam pengawasan pengasuh, santri tetap menjaga ketaatannya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Departemen Kepesantrenan PP Muslimat Hidayatullah, KH. Muhammad Syakir Syafi’i dalam pemaparannya menjelaskan bahwa pengasuh memiliki lima peran utama, yakni sebagai muallim, muaddib, mudabbir, mudarrib, dan murabbi. Kelima peran tersebut mencakup tugas pengasuh sebagai pengajar, pembentuk adab, pengelola, pelatih, sekaligus pendidik yang membina kepribadian santri.
Peran tersebut menunjukkan bahwa kepengasuhan tidak cukup hanya berorientasi pada pengaturan aktivitas dan penegakan disiplin. Pengasuh harus hadir sebagai pendidik yang mampu memberikan pengaruh melalui ilmu, keteladanan, pembiasaan, dan pendampingan.
Fondasi yang Harus Dimiliki Pengasuh
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menguraikan DNA kepengasuhan yang perlu dimiliki oleh setiap pengasuh. Landasan nilai kepengasuhan ini merujuk pada Surah At-Taubah ayat 128–129, khususnya gambaran karakter Rasulullah ﷺ yang memiliki kepedulian mendalam, menginginkan kebaikan bagi umat, serta bersikap penyantun dan penyayang kepada orang-orang beriman.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
DNA pertama adalah sadar misi. Menurutnya, keberhasilan seorang pengasuh dimulai dari niat yang lurus dan pemahaman terhadap tujuan pendidikan. Setiap aktivitas di asrama harus memiliki nilai pendidikan yang berdampak pada pertumbuhan santri.
“Pengasuh harus hadir dengan niat ibadah, memahami tujuan pendidikan, dan menjadikan setiap tugas kepengasuhan sebagai bagian dari proses pertumbuhan santri,” demikian penekanan materi yang disampaikan.
Karakter kedua adalah menjadi teladan. Pengasuh dituntut memulai kebaikan dari dirinya sendiri sebelum meminta santri melakukan hal yang sama. Keteladanan menjadi sarana pendidikan yang kuat karena santri tidak hanya mendengar nasihat, tetapi juga menyaksikan perilaku pengasuh dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, pengasuh harus bekerja dengan sistem. Sistem kerja yang baik akan menjadikan kepengasuhan lebih tertata, mudah dievaluasi, dapat direplikasi, dan diwariskan. Dengan demikian, proses pembinaan tidak bergantung pada individu semata, tetapi dapat berlangsung secara berkesinambungan.
DNA berikutnya adalah membangun kedekatan dengan santri. Kedekatan menjadi pintu masuk bagi pembinaan yang lebih efektif dan manusiawi. Meski demikian, pengasuh tetap perlu menjaga batas profesional dalam hubungan dengan santri.
Selain kedekatan, pengasuh juga harus memiliki sikap proaktif. Kepekaan dalam mengamati perilaku dan perkembangan santri diperlukan agar pengasuh dapat mengenali persoalan sejak dini.
“Jangan menunggu masalah menjadi besar. Pengasuh harus peka mengamati perilaku santri dan hadir lebih awal ketika mulai terlihat adanya persoalan menjadi salah satu pesan penting dalam pembahasan karakter proaktif,” imbuhnya.
Karakter selanjutnya adalah empati. Pengasuh perlu memiliki kesediaan untuk mendengar, memahami, dan membantu santri menghadapi berbagai persoalan di asrama. Empati membuat proses pembinaan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah, tetapi juga memperhatikan kondisi dan kebutuhan santri.
“Pengasuh juga harus selalu menginginkan kebaikan bagi santri. Setiap arahan, teguran, dan keputusan hendaknya dilandasi keinginan untuk melihat santri tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Karakter santun juga tidak boleh diabaikan. Ketegasan dalam menegakkan disiplin tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan tenang, jelas, dan beradab. Pengasuh harus mampu menegur tanpa merendahkan martabat santri.
Berikutnya adalah karakter penyayang. Kasih sayang membuat santri merasa diterima dan didampingi dalam proses perbaikan diri. Namun, kasih sayang bukan berarti membiarkan kesalahan. Pengasuh tetap perlu memberikan konsekuensi yang edukatif agar santri belajar bertanggung jawab atas perilakunya.
Adapun DNA terakhir adalah sabar dan tidak reaktif. Dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan asrama, pengasuh dituntut mampu mengendalikan diri dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.
“Respons yang baik lahir dari hati yang tenang, fakta yang cukup, dan tujuan pendidikan yang jelas, menjadi prinsip penting yang perlu dipegang oleh setiap pengasuh,” pungkasnya.
DNA tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kepengasuhan yang tidak hanya berorientasi pada ketertiban asrama, tetapi juga pada pembentukan kepribadian dan kesadaran beragama santri.
Melalui webinar ini, PP Muslimat Hidayatullah berharap para pengasuh putri semakin memahami peran strategisnya dalam pendidikan pesantren. Pengasuh bukan sekadar penjaga kehidupan asrama, melainkan pendidik yang turut menentukan tumbuhnya generasi muslimah yang beriman, beradab, dan berkepribadian kuat.
- person

Saat ini belum ada komentar