light_mode
light_mode

Mengembalikan Inspirasi Al Qur’an yang Hilang dalam Keluarga

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AL-QUR’AN memang inspirasi yang tidak pernah habis. Semakin menyakinkan kita apabila ummat Islam kembali menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidupnya kejayaan akan menjadi milik ummat Islam.

Demikian dikatakan anggota Majelis Pertimbangan Pusat Muslimat Hidayatullah (MPP Mushida), Irawati Istadi, saat menjadii pemateri dalam Seminar Nasional diselenggarakan PW Mushida DIY-Jawa Tengah bagian selatan di UII FTSP Yogyakarta, Sabtu (29/10/2016).

“Peradaban Islam pernah gemilang. Sejatinya dan selamanya Islam adalah Rahmatan Lil’alamin. Dengan kedekatan kita kepada Qur’an, kita sangat yakin Peradaban Islam akan terwujud lagi,” kata Irawati.

Irawati menjelaskan, berbicara tentang peradaban suatu ummat maka kita tidak akan bisa terlepas dari peran suatu keluarga. Sebab keluarga adalah unit terkecil dari suatu peradaban.

“Apabila dalam keluarga keluarga kaum muslimin sudah tertanam kuat Al Qur’an maka peradaban Islam yang luhir dan mengayomi akan terwujud,” imbuhnya.

Diterangkan Irawati, mengembalikan Al Qur’an yang hilang dalam keluarga di sini bukan berarti rumah tangga ummmat Islam tidak mempunyai mushaf Al Qur’an melainkan banyak dalam rumah kaum muslimin yang mempunyainya tak jarang lebih dari satu.

“Tapi yang dimaksud di sini adalah ruh dari Al Qur’an itu,” katanya.

Kalau kita melihat sejarah para sahabat dan ulama ulama dahulu betapa mereka bagaikan bintang bintang yang cemerlang. Ruh Al Qur’an begitu hidup dalam jiwa jiwa generasi Islam terdahulu.

“Al Qur’an yang berhasil ditanamkan oleh generasi terdahulu telah melahirkan generasi generasi gemilang di usia yang sangat muda,” imbuhnya.

Diantaranya, misalnya, sebut Irawati, ada anak muda pada usia 11 tahun bernama Zaid bin Tsabit berhasil menguasai bahasa Ibrani (Bahasa Yahudi) hanya dalam 17 hari

Pada usia 17 tahun Imam Bukhari mendalami hadits dari para gurunya dan pada usia itu pula Abu Hamid al-Isfirayini menjadi mufti. Dan ratusan tokoh muslim masa lampau lainnya yang berhasil menjadi figur teladan.

“Lalu kalau kita bandingkan dengan generasi sekarang sangat jauh keadaannya. Kebanyakan generasi kita pada  usia usia itu belum sepenuhnya mandiri ada yang masih sekolah ada yang larut dalam kehidupan hedonis bahkan ada yang keluar dari norma norma agama,” kata Irawati.

Lalu bagaimana kita mewujudkan generasi sebagaimana generasi awal? Menurut Irawati Istadi, pertama, tanamkan pendidikan iman pada anak.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Luqman (31) ayat 13).

Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya,demikian pula Ya’qub.”Wahai anak-anakku! Sesungguhnya  Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”(Al Baqarah:132)

Dari ayat tersebut, Irawati menerangkan bahwa  sangat jelas pendidikan pertama yang di lakukan adalah pendidikan keimanan. Setelah itu kemudian baru pengenalan syariat Allah lainnya.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan. Dan rendah dirilah ketika berjalan dan pelankan suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Qs Lukman 17-19).

Pentingnya Metode 

Pada kesempatan tersebut Irawati menekankan bahwa dalam mendidik anak selain materi, metode juga sangat penting untuk keberhasilan penddidikan.

Menurutnya, banyak metode atau cara yang dapat kita ambil dalam Al Qur’an dan sunah Rasul. Salah satu metode pendidikan yang ada dalam Al Qur’an adalah dialog.

Begitu pentingnya dialog antara orang tua dan anak dan inilah yang banyak di gunakan oleh para Nabi dan generasi salafus shaleh dalam mendidik anak anaknya.

Irawati membeberkan rahasia 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam Al Qur’an yang tersebar dalam 9 surah. Ke- 17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:

  • * Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
  • * Dialog antara ibu dengan anaknya (2 kali)
  • * Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)

Dalam dialog dengan anak, jelas Irawati, kita harus Sabar menghadapi pertanyaan anak . Betapa sering kita menghadapi pertanyaan pertanyaan anak yang terkadang pertanyaannya tidak masuk akal. Tapi itulah anak anak kita harus sabar melayaninya.

Dalam QS;Al Baqarah;260 terjadi dialog yang  mana Nabi Ibrahim menanyakan pada Allah bagaimana caranya menghidupkan orang sudah mati. Bukannya Nabi Ibrahim tidak percaya akan kekuasaan Allah, tapi ia hanya ingin memantapkan hatinya bila bisa menyaksikan langsung Kekuasaan Allah menghidupkan orang yang sudah mati.

Dalam ayat ini kalau di hubungkan dengan parenting, menurut Irawati, sebagai orang tua kita harus memiliki kesabaran ekstra dalam menghadapi dialog dialog dengan anak anak.

Dia menekankan bahwa dalam berdialog atau berkomunikasi kepada hendaklah kita fokus pada kalimat positif.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS.Ibrahim:24-25)

Ayat ini mengisyarakat kita untuk pandai pandai menjaga lisan bila berkata kepada Anak. Jangan sampai keluar kata kata negatif apabila anak berbuat sesuatu yang tidak berkenan di hati kita.

“Kita ingat ketika ibu Imam Masjidil Haram marah saat masa kecil sang Imam. Kata-kata yang keluar sang ibunda adalah kata kata bijak sehingga beliau ketika dewasa menjadi Imam Masjidil Haram,” imbuhnya.

Fokus pada Penghargaan

Irawati Istadi mengutip hikmah firman hadits Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan nilai kebaikan dan kejahatan, kemudian Dia menjelaskannya. Maka barangsiapa berniat mengerjakan kebaikan tetapi tidak dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat untuk berbuat kebaikan lalu ia mengerjakannya, Allah mencatatnya sebagai 10 sampai 700 kali kebaikan atau lebih banyak lagi. Jika ia berniat melakukan kejahatan, tetapi ia tidak mengerjakannya, Allah mencatatkan padanya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat melakukan kejahatan lalu dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kejahatan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Irawati, kita harus jujur bahwa banyak orang tua yang selalu menginggat keburukan anak dari pada kebaikannya. Sehingga banyak orang tua memberikan reaksi negatife pada anak.

Sedangkan ketika anak berbuat baik jarang mendapat penghargaan yang sesuai. Akhirnya anak mempunyai konsep negative terhadap diri mereka.Padahal konsep diri positive sangat penting untuk perkembangan dan pertumbuhan anak kedepannya.

Selain hal penting sebagaimana tersebut di atas ada hal lain yang harus kita jadikan perhatian serius saat ini yaitu tentang gadget. Kita lihat fenomena  sekarang banyak anak anak bahkan masih balita sudah di pegangi orang tua mereka dengan gadget.

“Padahal para karyawan pembuat gadget melarang anak anaknya bermain gadget ketika usia usia dini. Karena bisa merusak fungsi anak,” tegasnya memberikan contoh kasus.

Di antara peserta peserta seminar lalu menanyakan, apa yang harus di lakukan para orang tua untuk membuat anak tidak gila gadget. Karena orang tua merasa tertolong dengan adanya gadget karena membuat mereka bisa duduk tenang tidak rewel.

Menurut Irawati yang juga mantan pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, orang tua harus menyiapkan kegiatan pengganti yang menarik anak sehingga anak tidak tertarik ke gadget lagi.

“Seharusnya setiap rumah mempunyai kurikulum tersendiri untuk mendidik anak anak ketika mereka di rumah, jadi bukan hanya sekolah yang punya. Karena apabila kita sudah mempunyai kurikulum dan perencanaan yang rapi anak anak akan mempunyai kegiatan yang menarik sehingga waktu mereka termanfaatkan dengan hal hal yang positive. Akhirnya ketertarikan anak akan gadget bisa berkurang,” jelas Irawati.

Di akhir presentasi Irawati yang juga penulis produktif buku buku parenting ini memaparkan tentang Home education di mana orang tua berperan sebagai pendidik utama.

Rumah, menurut Irawati, harus menjadi sebagai Home Based Pendidikan. Pendidikan hendaknya disesuaikan dengan jiwa anak di mana dimasa anak anak bersifat wajib bagi orang tua mengarahkan pendidikan anak-anaknya.

“Dan ketika anak sudah baligh cara komunikasi kita kepada anak tentu berbeda. Kita beri anak kesempatan berfikir untuk segala hal aktifitas yang anak lakukan. Ke depannya kita berharap bisa bertanggung jawab terhadap apa yang di lakukan anak,” ujarnya memungkasi.

Acara seminar ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai unsur. Kegiatan ditutup dengan silaturrahim dan ramah tamah. */ Sri Lestari 

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mabit Muslimat Hidayatullah Baubau Perkuat Ukhuwah dan Pererat Soliditas Jamaah

    Mabit Muslimat Hidayatullah Baubau Perkuat Ukhuwah dan Pererat Soliditas Jamaah

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Baubau, Sulawesi Tenggara — Muslimat Hidayatullah (Mushida) Baubau bersinergi dengan DPD Hidayatullah Baubau menggelar Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) pada Sabtu–Ahad, 24–25 Oktober 2026, bertempat di Pantai Nirwana, Baubau. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran yayasan, DPD Hidayatullah, dan PD Muslimat Hidayatullah Baubau yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Mabit dirangkai dengan berbagai agenda pembinaan […]

  • Perkuat Sinergi Organisasi, PW Mushida Bangka Belitung Audiensi dengan DPW Hidayatullah

    Perkuat Sinergi Organisasi, PW Mushida Bangka Belitung Audiensi dengan DPW Hidayatullah

    • calendar_month Sabtu, 7 Nov 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    BANGKA TENGAH — Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Bangka Belitung melaksanakan audiensi dan silaturahmi dengan jajaran Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Bangka Belitung, di Kantor PW Mushida Bangka Tengah, pada Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah, memperkuat komunikasi kelembagaan, serta membangun sinergi antara Muslimat Hidayatullah dan DPW Hidayatullah Babel dalam menjalankan program dakwah dan pembinaan […]

  • KB-RA Terpadu Yaa Bunayya Kebumen Mengadakan Penggalangan Dana Palestina

    KB-RA Terpadu Yaa Bunayya Kebumen Mengadakan Penggalangan Dana Palestina

    • calendar_month Jumat, 27 Okt 2023
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Gaza Diserang Habis-habisan, Jangan Biarkan Saudara kita di Palestina Berjuang Sendirian Sahabat, sejak Sabtu (7/10) lalu, konflik hebat terjadi di jalur Gaza. Masyarakat pejuang Palestina melakukan perjuangan, Israel melakukan invasi dengan melancarkan serangan. Serangan bom dari udara menyasar pemukiman warga, meruntuhkan rumah-rumah saudara kita, membuat lebih dari 300  jiwa syahid dan hampir 2.000 jiwa mengalami […]

  • Mushida Ujung Tombak Transformasi Wawasan Keislaman

    Mushida Ujung Tombak Transformasi Wawasan Keislaman

    • calendar_month Jumat, 24 Okt 2014
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Kaum muslimah adalah ujung tombak penanaman wawasan keislaman atau tsaqofah Islamiyah (islamic worldview) kepada generasi muda, khususnya anak-anak. Untuk itu, setiap ibu muslimah harus terus belajar dan meng-upgrade diri agar dapat mengemban tugas mulia tersebut. Demikian dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Reni Susilowaty, saat membuka secara resmi acara Training for Trainer […]

  • Peluncuran Aplikasi Nawafil Yawmi Pada Rakernas Mushida

    Peluncuran Aplikasi Nawafil Yawmi Pada Rakernas Mushida

    • calendar_month Senin, 29 Mar 2021
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

      Ketidakpahaman aplikasi, bisa dipelajari, namun ketidakpahaman Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) akan menjadi beban bagi seorang kader. Demikian dikatakan oleh Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah, Ust. Zainuddin Musaddad, pada kegiatan peluncuran aplikasi Nawafil Yawmi dalam rangkaian Rakernas Muslimat Hidayatullah pada Ahad (28/03/2021) yang digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa […]

  • Mushida Kendari Gelar Pengajian, Tekankan Pentingnya GNH untuk Meraih Kelapangan Hati

    Mushida Kendari Gelar Pengajian, Tekankan Pentingnya GNH untuk Meraih Kelapangan Hati

    • calendar_month 9 jam yang lalu
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Kendari – Muslimat Hidayatullah Kendari kembali menggelar kegiatan Pengajian Bulanan pada hari Sabtu, 7 November 2026, bertempat di kampus Hidayatullah Putri Kendari. Kegiatan ini dihadiri oleh Majelis Murabbiyah Wilayah, Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Kendari, dan Dewan Guru. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan keimanan, memperkuat pemahaman keislaman, serta menumbuhkan […]

expand_less