light_mode
light_mode

Kepak Sayap Bidadari Part 2

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tak disangka ada bayangan yang mengikuti Mar’ah dari belakang. Bayangan itu terlihat dari sinar lampu senter yang ia pakai untuk menerangi jalan. Mar’ah setengah takut namun tetap waspada dan senantiasa melantunkan dzikrullah di lisannya. Bayangan itu tidak sekadar bayangan tapi nyata kini di hadapannya. Dan tidak hanya satu tapi tiga sosok berbaju gelap berdiri di hadapannya.

“Jangan macam-macam di sini, Nong gelius” ancam salah seorang dari mereka.

Astaghfirullah… astaghfirullah… astaghfirullah…” kalimat istighfar terus dilantunkan oleh Mar’ah. Dia yakinkan diri kalimat istighfar bisa memberikan jalan keluar di tengah kesulitannya.

“Jangan sok alim, Nong Cantik.” Kembali ancaman keluar dari mulut salah satu dari mereka.

“Jangan ganggu kami lagi kalau tidak mau ini!” bentak orang ketiga sambil mengacungkan sebilah belati.

Mar’ah terkesiap melihat kilatan belati itu. Astaghfirullah… Istighfar tidak lepas dari mulutnya. Tiba-tiba salah satu dari mereka menjerit kesakitan rupanya ada kalajengking yang menggigit kakinya yang tidak beralas kaki. Ketika mereka sedang lengah segera Mar’ah lari menuju rumahnya sambil memanggil suaminya. Suaminya pun membuka pintu dengan cemas.

“Kenapa, Dek?” Suaminya segera memeluk Mar’ah yang terlihat sangat ketakutan.

“Ada… ada… ada yang…,” terengah-engah Mar’ah hendak menceritakan tapi nafasnya terus memburu karena ketakutannya.

Suaminya pun buru-buru memberikan air minum kepada Mar’ah dan memeluknya dengan erat. Setelah mulai tenang Mar’ah pun menceritakan kejadian yang dialaminya. Daeng pun menenangkan dengan sabar sambil terus mengingatkan sebuah ayat ­Intanshurullah yanshurkum. Setelah kondisi Mar’ah terlihat lebih ceria, Daeng memberikan masukan kepada istrinya agar kajian dipindahkan saja ke rumahnya jadi Mar’ah tak perlu repot-repot pergi ke musholla seorang diri. Kajian memang hanya bisa diadakan setelah maghrib karena dari pagi sampai sore para ambu bekerja di sawah dan di ladang membantu suami mereka.

Di sepertiga malam ini dirasakan oleh Mar’ah sangatlah berbeda. Mar’ah merasakan sebuah beban yang sangat berat ada di hatinya. Ia luapkan segalanya kepada sang Pemilik Hati. Ya Allah. Hamba merasa tak sanggup menjalani ini. Sabarkan jiwaku ya Rabb. Lapangkan hatiku  Ya Rabb. Mudahkanlah urusanku Yaa Rabb. Engkau Maha Pengatur segalanya. Hamba hanya mengikuti titah-Mu dan taat pada suamiku Yaa Rabb.

Tangis Mar’ah pun pecah dalam sesenggukan yang teramat dalam. Ia pun teringat kepada kedua orang tuanya, saudaranya, dan juga rumahnya dikala sebelum menikah, betapa nyamannya dia di tengah keluarganya. Kini, ia harus mengikuti dan taat kepada suaminya. Kepada belahan jiwanya yang baru dikenalnya yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi penjaganya di dunia, penghiburnya di kala susah. Yaa Rabb, satukan kami dalam cinta karena Mu. Jaga suamiku, lindungi dan jauhkan ia dari segala marabahaya Yaa Rabb. Mampukan hamba untuk mendampinginya di kala susah dan senangnya Yaa Rabb. Tangis Mar’ah malam itu.

Pagi itu Daeng akan berangkat ke Ibu Kota untuk mengurus berkas proposal pengajuan masjid Kampung Muallaf Badui. Tak bosan-bosannya Daeng mengingatkan istrinya untuk tidak keluar rumah sampai ia kembali pulang. Mar’ah pun berjanji untuk menaati perintah suaminya. Maka Daeng pun berpamitan seraya mengecup kening Mar’ah dengan tulus. Dalam hati Mar’ah pun sejuta do’a ia munajatkan kepada Allah agar Allah menjaga suaminya di mana pun berada  sampai kembali ke rumah.

Menjelang Isya belum ada tanda-tanda Daeng sampai ke rumah. Tidak ada suara adzan maghrib yang seperti biasa dikumandangkan oleh Daeng. Para lelaki di kampung itu belum ada yang bisa mengumandangkan adzan. Abah Anom pun tinggalnya lumayan jauh dari perkampungan itu. Mar’ah pun dengan setia menanti kepulangan Daeng dengan menyiapkan sepiring nasi jagung, ikan asin sepat, rebus daun singkong, dan sambal terasi mentah tanpa bawang. Itu pun sudah terbilang mewah. Biasanya di kampung Sulawesi selalu ada ikan kuah palumara yang dimasak dengan asam dan dimakan dengan sambal bawang. Tapi, lagi-lagi beginilah yang harus dijalani oleh Mar’ah saat ini. Sesekali Mar’ah mengintip keluar melalui celah-celah gorden yang lebih tepatnya sarung yang dipasang untuk menutupi jendela rumahnya. Belum ada tanda-tanda Daeng sampai. Untuk mengusir kebosanan, Mar’ah pun bermain-main dengan Jahid sambil membacakan surah al Fatihah.

Samar-samar terdengar suara langkah kaki di luar. Bahagia hati Mar’ah mendengarnya. Bersiap ia menyambut suaminya. Namun, suara langkah kaki itu menghilang. Ah, mungkin orang lewat saja batinnya. Sebentar kemudian terdengar lagi suara langkah-langkah kaki. Kali ini Mar’ah tidak menggubrisnya. Tiba-tiba tercium aroma kayu yang terbakar dari belakang rumahnya. Segera ia ke belakang untuk melihat siapa tau dia lupa mematikan puntung kayu yang baru saja digunakan untuk memasak.

Ah, masya Allah… innaalillahi… kenapa bisa begini? Gedhek dapurnya terbakar. Ingin rasanya ia memadamkan api yang terbakar itu dengan air yang ada di beberapa jerigen miliknya tapi ia teringat si Jahid bayi mungilnya yang berusia enam bulan. Ia pun kembali ke ruang depan ingin mengambil Jahid. Namun, ruang depan pun telah terbakar juga. Api dengan mudahnya melalap gedhek-gedhek rumahnya. Tanpa pikir panjang diambilnya Jahid dan dilemparkannya keluar melalui jendela rumah. Sementara ia kembali mengambil jilbabnya, naas dia tertimpa tiang penyangga rumahnya yang mulai rapuh termakan si Jago Merah. Ia pun pingsan.

Dari kejauhan Daeng mendorong motornya yang rupanya putus rantai. Ia mendorong motornya melewati tanjakan tanah yang becek dan licin. Sesekali ia harus kepeleset karena mengimbangi berat motor usangnya. Dalam hatinya, sampai rumah pasti aku langsung makan dan tidur lelap. Belum sampai, dia tekesiap melihat kobaran api yang berasal dari arah rumahnya. Ditinggalnya motor usangnya dan berlari menuju rumahnya. Didapati Jahid berada dalam gendongan Wok Bahriyah dan para ambu yang telah berkerumun. Daeng mengambil Jahid dan seketika ia teringat Mar’ah. Dia serahkan kembali Jahid kepada Wok Bahriyah dan hendak menerobos kobaran api. Tapi, dua tangan laki-laki telah menahannya. Dia pun menoleh pada laki-laki itu. Dilihatnya Abah Anom memeluknya dan menggeleng pelan, “Jangan Daeng. Dia sudah terbang ke Surga.”

Oleh: Dee Ahqof 212

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Upgrading Annisa untuk Siapkan Kader Mushida

    Upgrading Annisa untuk Siapkan Kader Mushida

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2015
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ratusan pelajar dari tingkat SMA dan SMA mengikuti kegiatan upgaring Annisa Hidayatullah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muslimat Hidayatullah Sumatera Utara (PW Mushida Sumut) bertempat di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, belum lama ini. Acara ini berlangsung semarak dengan menghadirkan trainer motivasi yang berpengalaman. Pada kegiatan upgrading disampaikan materi pentingnya peran wanita khususnya remaja dalam […]

  • Penggalangan Infaq Dunia Islam Muslimat Hidayatullah

    Penggalangan Infaq Dunia Islam Muslimat Hidayatullah

    • calendar_month Rabu, 8 Jun 2022
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya.” (QS. Saba: 39) “Barangsiapa yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 245) Penggalangan Infaq Dunia Islam adalah salah satu program Gerakan Mushida Peduli Departemen […]

  • BMIWI Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional pada Milad ke-59 di Masjid Istiqlal

    BMIWI Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional pada Milad ke-59 di Masjid Istiqlal

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Jakarta, 12 Juli 2026 – Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) menyelenggarakan Milad ke-59 BMIWI yang dirangkaikan dengan Pencanangan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan peran strategis majelis taklim sebagai pilar pendidikan Islam nonformal, penguatan keluarga, pemberdayaan perempuan, serta pembangunan karakter dan peradaban bangsa. Acara ini […]

  • Seminar Negeri Serumpun: Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Beradab

    Seminar Negeri Serumpun: Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Beradab

    • calendar_month Kamis, 12 Jul 2018
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    KELUARGA adalah unit terkecil suatu negara. Jika ingin membangun negara, maka kita harus membangun keluarga terlebih dahulu. Setiap anggota keluarga masing-masing mempunyai tugas dan peran yang harus dilakukan dengan cara ma’ruf dan sesuai dengan syariat sehingga keharmonisan keluarga bisa tercipta, bahkan menjadi sebuah kekuatan. Ayah, Ibu dan Anak yang terikat dalam institusi keluarga menjadi pelaku […]

  • Pemadaman Listrik di Wilayah Sumatera, Tak Padamkan Semangat Mushida Gelar Rakerwil

    Pemadaman Listrik di Wilayah Sumatera, Tak Padamkan Semangat Mushida Gelar Rakerwil

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Miftahul Husna
    • 0Komentar

    Deli Serdang, mushida.org – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Muslimat Hidayatullah Sumatera Utara diselenggarakan pada 23 Mei 2026 bertepatan dengan 6 Dzulhijjah 1447 H di Pondok Pesantren Hidayatullah Deli Serdang. Mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Muslimat Hidayatullah yang Mandiri dan Berpengaruh,” kegiatan ini menjadi momentum memperkuat semangat dan konsolidasi organisasi dalam menjalankan […]

  • Annisa Jawa Timur Gelar Training dan Silaturrahim Kader

    Annisa Jawa Timur Gelar Training dan Silaturrahim Kader

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2017
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    MALANG – Pengurus Annisa wilayah Jawa timur bekerjasama dengan induk organisasi, Muslimat Hidayatullah, menggelar kegiatan Training dan silaturrahim kader se Jawa timur selama tiga hari lamanya. Kegiatan ini mengusung tema “Merajut Ukhuwah, Lejitkan Potensi Diri” berlangsung di Villa Hidayatullah Batu, Kota Malang, 20 – 22 Januari 2017. Sebuah tempat asri nan sejuk di pojok Kota […]

expand_less