light_mode
light_mode

Hijrah itu Asa, Dakwah itu Cinta

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Kamu yakin ingin resign? Kamu sudah dapat promosi, lho!”

“Kamu gak salah pilih? Kamu bisa dapat yang lebih baik, lho!”

Tanya itu menggema, menyeruak di antara niat hati. Menyelinap di antara harap dan mimpi. Menggoda langkah kaki untuk berhenti. Namun, sungguh tekad itu telah bulat. Hingga deretan tanya tak lagi jadi penghambat. Selanjutnya, hijrah itu bermula.

Tepat 1 Muharram, lima belas tahun silam. Kala itu …

Menjejak tanah berbukit, menyusuri jalan menanjak. Memasuki gerbang, berpagar membentang, meninggalkan segenap obsesi remaja. Menanggalkan gemerlap buaian dunia. Mencoba menguatkan hati untuk memperbaiki diri. Memberanikan diri untuk mengabdi sebagai santri.

“Perbaiki niat, sebab niat akan mengantarmu ke tempat yang kamu harapkan. Jika niatmu salah, maka kamu tak akan mendapat bahagia, hanya resah gelisah.” Pesan itu masih terngiang jelas, saat ayah ibu mengantar hingga ke bandara. “Kamu akan melakukan perjalanan jauh, sejauh kehidupan masa depan yang akan kamu jelang.” Mereka menambahkan kalimat penyemangat dengan sepenuh cinta.

Hingga pada akhirnya, doa mereka menguatkan langkah. Melintasi lautan, menembus batas keyakinan sanak kerabat dan handai taulan. Maka, ketika keputusan berhijrah telah terucap, pantang untuk menyerah dan kembali pulang. Bahkan saat gempa meluluh-lantakkan Jogja di bulan keempat tahun 2006. Menyentak pikir mencipta khawatir. Sedih? Tentu saja, iya.

Kota itu. Baru sekitar lima bulan meninggalkannya dengan segenap kenangan penghabisan masa remaja. Kota yang menyimpan banyak cerita dan menjadi kampung halaman tercinta, harus porak poranda karena gempa atas kuasa-Nya. “Mau pulang?” Sebuah pertanyaan sekaligus penawaran untuk kembali terbang. Namun, gelengan kepala menjadi jawaban pasti. Karena nyatanya, hati telah tertambat pada pesona pesantren ini. Hidayatullah.

Siapalah yang dapat menolak sebuah hidayah terindah. Ber-Islam dalam irama dan kultur yang tertata penuh berkah. Bergerak bersama para mujahidah solihah. Belajar memperbaiki hati dan ibadah. Hingga pada akhirnya, berbilang waktu telah terlalui, lima buah hati terlahir sebagai penerus generasi. Alhamdulillah , Allah masih memberi ruang dan waktu untuk berkarya dalam bingkai sami’na wa ato’na.  

Lima belas tahun bukan tanpa tantangan. Rindu orang tua menjadi goncangan terberat. Membayangkan orang tua menua, hanya berdua, sedih rasanya. Namun, tetap bertahan adalah pilihan.  Bukan pilihan baik, tapi insyaaAllah menjadi pilihan terbaik.

Tanggal 1 Muharram selalu menjadi pengingat diri, mengingat titik balik perjalanan hidup. Setiap awal Muharram, sebuah sapa dan doa spesial akan selalu terlantun dari seberang sana, dari ibunda tercinta. Maka, rasa haru pun akan kembali menyeruak dalam asa bahagia. Satu keyakinan hingga kini, bahwa hijrah itu asa terindah.

Duhai Muslimah yang terlahir, tumbuh dan berkembang dalam nuansa keIslaman. Berbahagialah. Karena Allah telah memberimu tempat terbaik. Menghidupkanmu dalam lingkungan terindah. Janganlah pernah membandingkan kehidupanmu dengan dunia luar. Sungguh, duniamu saat ini jauh lebih menjanjikan kebahagiaan nyata. Percayalah, tak ada kehidupan yang lebih nyaman dibanding tempat ini.

Duhai Muslimah yang berjuluk kader, berbanggalah. Karena Allah telah memilihmu untuk berjuang dalam barisan Islam. Janganlah pernah membayangkan untuk mundur apalagi meninggalkan barisan. Teruslah kokohkan langkah kakimu, eratkan genggamanmu. Jangan biarkan tempatmu hilang. Sungguh, pilihanmu bergabung di tempat ini adalah benar. Percayalah, tak ada yang lebih baik dibanding tetap bersama para pejuang.

Kelak, kamu akan tahu, bahwa kiprahmu akan menjadi sejarah. Sebab jejak karyamu akan tercatat sebagai amal jariyah. Kita bukanlah pendahulu, namun kita bukan pula penutup perjuangan. Kita hadir sebagai penyambung, agar perjuangan itu terus berjalan. Maka, teruslah melangkah. Teruslah berjuang melanjutkan segenap cita-cita. Meneguhkan semangat dan ikrar hati. Melahirkan deretan generasi Qurani. Mewujudkan peradaban Islami. Allahu Akbar!!!

Zaman memang telah berganti, namun cerita tak akan jauh berbeda. Selalu akan ada dua sisi yang mengiringi, dua hal yang tak terpisahkan. Sisi penentang dan sisi pengikut. Keduanya akan selalu membayangi jejak langkah dakwah perjuangan. Rasulullah SAW pun butuh waktu yang tidak sedikit, hingga pada akhirnya beliau berhasil menegakkan kalimat Tauhid di bumi ini atas izin-Nya. Menjadikan syariat Islam sebagai hukum tertinggi.

Jadi janganlah khawatir, sebab sisi penentang pun akan berakhir sama. Adzab Allah SWT akan terus membayangi mereka, jika taubat tak terucap. Maka, masa setengah abad perjuangan Hidayatullah janganlah tersiakan. Lima puluh tahun bukan waktu yang pendek untuk upaya perjuangan, meski jelas perjuangan ini masihlah panjang. Tapi setidaknya, kita sudah ambil peranan. Pastikan ada jejakmu disana, duhai Muslimah terbaik. Mari terus berfastabiqul khairat dalam dakwah dan kebaikan, duhai kader perjuangan. Berharap tetap istiqomah dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Sungguh, hijrah itu asa, dakwah itu cinta.*/

*Asri Wulantini

PW Muslimat Hidayatullah Jawa Barat

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mushida Peserta Sosialisasi Empat Pilar MPR

    Mushida Peserta Sosialisasi Empat Pilar MPR

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2015
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Sedikitnya 15 anggota Muslimat Hidayatullah (Mushida) bersama ratusan perwakilan ormas wanita lainnya yang tergabung dalam BMOIWI diundang dan mengikuti acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Rabu lalu (15/04).  Selain mengikuti sosialisasi empat pilar yang digelar di Gedung MPR DPR RI ini, acara ini juga menjadi ajang silaturrahim muslimat yang berasal dari berbagai organisasi yang jumlahnya […]

  • Ramadhan Ceria Anak-anak Kita

    Ramadhan Ceria Anak-anak Kita

    • calendar_month Selasa, 14 Jun 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    WAKTU masih menunjukan pukul 15.00, Koko sudah duduk di meja makan. Matanya terus memperhatikan jam di dinding kamar. Tangannya mengelus ngelus perut yang dari tadi keroncongan. “Ma… jamnya kok jalannya lambat sekali, kapan maghribnya? Koko sudah lapar sekali nih!”         Sang ibu hanya menggeleng kepala sambil tersenyum. Memang Ramadhan tahun ini ia melatih […]

  • Webinar Parenting PP Mushida Menambah Wawasan Orang Tua Menyiapkan Aqil Baligh Anak

    Webinar Parenting PP Mushida Menambah Wawasan Orang Tua Menyiapkan Aqil Baligh Anak

    • calendar_month Senin, 23 Okt 2023
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Rasulullah bersabda “Perintahkanlah anakmu sholat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan sholat) dan pisahkan tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak anak perempuan).” (H.R Abu Dawud) Hadits tersebut disampaikan oleh Ustadz Fauzil Adzhim pada Webinar Parenting yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Departemen Sosial PP Mushida […]

  • Iman dan Puasa Ramadhan

    • calendar_month Senin, 4 Apr 2022
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183) Ayat tentang berpuasa tentu sudah familiar bagi kita, bahkan kita mampu menghafalnya sejak bersekolah di tingkat dasar. Tapi apakah kita mengetahui, mengapa Allah menyapa kita dengan sapaan, “Wahai orang-orang yang beriman,” mengapa Allah menyeru dengan […]

  • PP Mushida Nilai LGBT Perlu Penyelesaian Kolektif

    PP Mushida Nilai LGBT Perlu Penyelesaian Kolektif

    • calendar_month Minggu, 14 Feb 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Upaya legalisasi perilaku kaum lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ) di Indonesia kian mengemuka. PP Muslimat Hidayatullah (Mushida) memandang persoalan LGBT tidak boleh dianggap sepele. “Keluarga yang kokoh akan hindari paparan LGBT. Muslimat Hidayatullah buka layanan konseling untuk LGBT yang mau taubat,” kata Sekretaris Jenderal PP Muslimat Hidayatullah, Leny Syahnidar dalam rilis yang diterima […]

  • Dari Pesantren untuk Negeri, Muslimat Hidayatullah dan Santri Putri Hidayatullah Kendari Semarakkan HUT RI ke-81

    Dari Pesantren untuk Negeri, Muslimat Hidayatullah dan Santri Putri Hidayatullah Kendari Semarakkan HUT RI ke-81

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Rosida Muthmainnah
    • 0Komentar

    KENDARI – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Muslimat Hidayatullah Kendari bersama santri putri Hidayatullah Kendari turut hadir dan mengikuti pelaksanaan upacara bendera yang berlangsung khidmat pada hari Senin, 17 Agustus 2026 bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Putri Kendari. Kegiatan upacara diikuti oleh santri putri SMP dan SMA, Dewan Guru, […]

expand_less