light_mode
light_mode

Memuliakan Anak Dengan Pendidikan Adab

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ibunda Imam Malik bin Anas bernama ‘Aliyah adalah ibu yang benar-benar memperhatikan tumbuh kembang anaknya dan mengetahui dengan baik bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar. Perjalanannya dalam mendidik buah hatinya hingga menjadi imam panutan dunia menarik untuk kita simak dan kemudian kita teladani.

Dalam suatu riwayat, Imam Malik pernah bertanya kepada ibunya, “Ya Ummi, bolehkah ananda pergi untuk menuntut ilmu?” Jawab ibunya, “Kemarilah, pakai pakaian santri dulu.” Lalu sang Ibu membelikan sejumlah gamis baru berwarna putih untuk puteranya dan memakaikan surban kepadanya, lalu menyisipkan sejumlah dirham ke sakunya.“Sekarang, pergilah ke majelis Rabi’ah, dan pelajari bagaimana adabnya sebelum engkau ambil ilmunya,“ pesan sang Ibu.

Ibunda Imam Malik–rahimahallaah–adalah seorang ibu yang bijak dan tulus. Ia mendidik putranya yang kelak menjadi salah satu imam panutan dunia, agar berkunjung ke salah seorang ulama terkenal di masa itu, Rabi’ah bin Abi ‘Abdirrahman. Tujuannya tak lain adalah demi mempelajari adab sang guru, untuk mempelajari bagaimana beliau belajar dan mengajarkan suatu ilmu, bagaimana sikap tawadhu’nya, dan bagaimana tingkah laku dan wibawanya. Ibunda Aliyah menasihati puteranya agar mempelajari itu semua sebelum mengambil ilmu dari sang guru, dan ini menunjukkan kebijaksanan dan kecerdasan akal beliau sebagai Ibu.

*****

Adab Dulu Baru Ilmu

Kisah di atas begitu penting untuk direnungi oleh setiap orang tua, terutama ibu, dalam proses mendidik buah hatinya. Setelah sekian lama kita manapaki liku-liku perjalanan mendidik buah hati kita, kira-kira perkara apa yang selama ini kita anggap penting kemudian kita tuntut buah hati kita untuk mengejarnya. Boleh jadi selama ini kita hanya menilai bahwa yang penting hanyalah ilmu, kemudian kita mendorong agar anak-anak mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari sang guru. Tanpa melihat sisi-sisi lain dari sang guru, seperti ibadah dan adabnya, kemudian kita memaksa anak-anak untuk belajar kepadanya dan menggali ilmu sebanyak-banyaknya darinya. 

Menyimak kisah di atas, ternyata ada hal penting yang perlu kita perhatikan terkait dengan proses mendidik anak, yaitu pendidikan adab. Bagi orang tua, pendidikan adab hendaknya didahulukan dari pada ilmu. Pendidikan adab ini mesti kita semai ke dalam jiwa anak sedari dini sebelum jiwanya terisi dengan ilmu. Pendidikan adab yang mesti kita semai ke dalam jiwa anak meliputi adab kepada Rabb, adab kepada sesama dan juga adab dalam bermuamalah di tengah kehidupan sehari-hari. Begitu pula, sebelum anak-anak berinteraksi dengan guru yang akan mengajarkan ilmu, maka orang tua perlu memastikan bahwa sang guru itu adalah sosok yang beradab, sehingga buah hati kita dapat mempelajari adab darinya.

Pendidikan adab, baik ketika anak masih berada di tengah keluarga maupun ketika anak telah berada di luar rumah, mesti menjadi perhatian setiap orang tua. Orang tua perlu bermujahadah untuk melimpahi pendidikan adab kepada buah hatinya. Apalah artinya bila anak-anak kita berilmu, tapi tak beradab. Apa yang bisa dibanggakan oleh orang tua bila anaknya berilmu, tapi sombong, tidak menghormati orang tuanya, sesamanya dan orang-orang yang lebih muda darinya. Kebaikan apa yang bisa kita harapkan dari generasi yang berilmu, tapi tidak malu kepada manusia yang ada di bumi dan tidak takut kepada Rabb-nya yang ada di langit ketika berbuat maksiat.

Apa yang telah ditempuh para orang tua shaleh terdahulu patut kita teladani. Bahwa sebelum anak-anak mereka pergi keluar menuntut ilmu, maka mereka membekali anak-anak mereka dengan pendidikan adab terlebih dahulu. Seperti yang disaksikan oleh Al Imam Abu Abdillah Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu ta’ala, seorang tabi’ tabi’in, beliau berkata:

“Mereka-mereka dulu (para salaf) tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk pergi menuntut ilmu hingga anak-anaknya telah diajar adab terlebih dahulu dan memperbanyak ibadah 20 tahun”

Jadi, sebelum menuntut ilmu yang begitu banyak cabang-cabangnya, para ulama salaf, seperti yang disaksikan oleh Al Imam Sufyan Ats Tsauri di atas, tidak mengutus anaknya untuk menuntut ilmu kecuali telah selesai persoalan adab dan ibadah mereka. Mereka betul – betul mengutamakan masalah adab sebelum anak – anaknya pergi untuk menuntut ilmu.

Memperhatikan Adab Guru

Begitu pula ketika anak-anak hendak keluar rumah dalam rangka memperdalam ilmu, maka orang tua tetaplah harus mengawal adab buah hatinya. Orang tua hendaknya tak begitu saja melepaskan anaknya untuk memilih guru (pendidik) yang dia kehendaki. Lebih-lebih di zaman modern ini ketika adab dianggap tak begitu penting. Kecerdasan akal lebih dikejar-kejar dan dibangga-banggakan, sedang kecerdasan hati dikesampingkan. Manusia bangga kepada orang yang cerdas intelektualnya, tapi tak peduli bagaimana agama dan akhlaqnya.

Begitu pula dalam dunia pendidikan modern sekarang, sebuah sekolah dianggap baik dan berkualitas hanya dilihat dari megahnya gedung dan kecerdasan intelektual guru-guru yang ada di dalamnya, meski mereka tidak memiliki kualitas agama dan akhlaq yang baik. Apa jadinya, bila anak-anak dididik oleh guru yang tak memiliki adab yang baik, sangat mungkin anak-anak akan menjadi orang berilmu, tapi miskin adab. Berilmu, tapi bobrok moralnya. Pintar tapi ingkar kepada Rabb-nya. Sepertinya hal itu banyak terjadi di zaman modern ini.

Kiranya, apa yang telah ditempuh oleh Ibunda Imam Malik di atas patut diteladani oleh para orang tua. Bahwa, sebelum menyerahkan buah hatinya kepada seorang guru atau lembaga pendidikan hendaknya melihat bagaimana adab para gurunya itu. Sebab, gurulah yang nantinya akan menjadi teladan bagi anak-anak dan akan mewarnai jiwa mereka. Dengan keteladanan adab dari sang guru itu, kita berharap anak-anak akan mengikuti jejak guru mereka. Sehingga mereka selain menimba ilmu juga menimba adab.

Ibnu Athaillah berujar, “Maka pada guru yang benar-benar berilmu, akan kau reguk adab yang tak disediakan oleh buku-buku.” 

Dari proses transformasi adab dan ilmu dari sang guru, kita berharap akan lahir generasi yang berilmu dengan adab yang tinggi.

Peran Ibu dalam Mendidik Anak

Seorang ibu menjadi tumpuan utama seorang anak. Terutama ketika anak usia balita sampai periode anak sekolah, bahkan menjelang dewasa. Di masa ini, seorang ibu harus menyediakan waktu untuk selalu bersama, berinteraksi, dan berkomunikasi secara terbuka, serta bagaimana menanamkan adab yang baik kepada anak – anaknya. Dalam membentuk perilaku anak, tidak hanya melalui  lisan tetapi juga lewat tingkah laku. Anak akan selalu melihat dan mengamati tingkah laku ibunya. Selanjutnya anak meniru yang kemudian diambil, dimiliki, dan diterapkan dalam kehidupannya.Seorang Ibu memegang peranan penting dalam mendidik anak – anaknya terutama dalam hal pendidikan adab. Seorang Ibu harus senantisa mendidik dengan cinta, keteladan dan do’a.

Pemberian Terbaik

Di tengah dominasinya peradaban materialisme seperti di zaman ini, kebanyakan orang tua berpandangan bahwa hal terbaik yang mesti diberikan kepada anak adalah ilmu dan keterampilan yang nantinya bisa mendatangkan materi berlimpah berupa harta, uang dan sejenisnya. Tentu, membekali anak dengan ilmu dan keterampilan itu penting. Namun, itu saja tidak cukup. Orang tua juga mesti memberi pendidikan adab kepada buah hatinya. Bahkan dalam Islam, pendidikan adab inilah pemberian terbaik yang mesti diberikan kepada anak.

Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seorang bapak memberikan pemberian kepada anaknya sesuatu yang lebih baik dibandingkan adab yang terpuji.” (HR. at-Tirmidzi).

Di tengah zaman yang disesaki dengan kerusakan moral dan adab seperti sekarang ini, pendidikan adab mesti menjadi perhatian utama bagi para orang tua. Pandangan orang tua yang menilai bahwa melimpahi pendidikan yang berorientasi untuk materi adalah pemberian terbaik harus segera direvolusi menuju cara pandang bahwa sesungguhnya pemberian terbaik untuk anak adalah pendidikan adab, sebagaimana yang disabdakan Nabi Saw di atas.

Untuk itu, sebelum anak dilimpahi ilmu, maka orang tua mesti melimpahi pendidikan adab terlebih dahulu. Dengan limpahan pendidikan adab, kita berharap anak-anak kita tak hanya cerdas akalnya, tapi juga hidup hatinya. Tak sekedar tinggi ilmunya, tapi juga tinggi adabnya. Dan yang lebih penting dari pendidikan adab ini adalah anak-anak kita memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Sehingga di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun, mereka takut untuk berbuat maksiat. Jika demikian, maka petaka krisis moral yang kini melingkupi zaman ini dengan sendirinya akan sirna dan berganti dengan tampilnya generasi yang beradab. Orang tua perlu mendidik anaknya agar bisa meraih masa depan yang terbaik. Tentu bukan hanya masa depan di dunia tapi juga di akhirat. Allahu a’lamu bishshowab.

*/Sitti Kusfiati Madjid (Muslimat Hidayatullah Kendari – Sulawesi Tenggara)

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Edukasi Orangtua, Mushida Seminar Bahaya Homoseksual

    Edukasi Orangtua, Mushida Seminar Bahaya Homoseksual

    • calendar_month Jumat, 18 Mar 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Sebagai bentuk keperihatinan terhadap maraknya perilaku homoseksual di Indonesia, Muslimat Hidayatullah Makassar bekerjasama dengan Komunitas Pencinta Keluarga (KIPIK), mengadakan seminar bertema ‘Menyelamatkan Bangsa dari Darurat LGBT’ di Aula Al-Bayan Hidayatullah Makassar, Rabu (16/03/2016) lalu. Dalam sambutannya, Haderah, selaku Ketua Mushida Makassar menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya kasus homoseksual yang menurutnya terjadi juga karena lengahnya benteng dari […]

  • Padatnya Kegiatan Ramadhan Muslimat Hidayatullah di Berbagai Daerah

    Padatnya Kegiatan Ramadhan Muslimat Hidayatullah di Berbagai Daerah

    • calendar_month Sabtu, 24 Jun 2017
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan limpahan pahala, tak hanya disambut dengan suka cita. Berbagai kegiatan baik yang bersifat ruhaniyah dan insaniyyah(sosial) digelar oleh pengurus Muslimat Hidayatullah (Mushida) di berbagai daerah. Berita selengkapnyaFoto Selengkapnya

  • Muslimat Hidayatullah Gelar Bazar dan Cek Darah Gratis

    Muslimat Hidayatullah Gelar Bazar dan Cek Darah Gratis

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2015
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Bertempat di halaman Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Jalan Kejawan Putih Tambak, Mulyorejo, Surabaya, Muslimat Hidayatullah Surabaya menggelar basar murah dengan menampilkan berbagai jenis barang kebutuhan rumah tangga serta sembako dengan harga lebih murah dibandingkan dengan harga pasar, belum lama ini. “Kami ingin memberikan sesuatu yang murah bagi masyarakat di sekitar pesantren, yaitu sembako. Dengan […]

  • Antara Sunnah dan Qana’ah

    Antara Sunnah dan Qana’ah

    • calendar_month Sabtu, 24 Apr 2021
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

     “Assalamu’alaikum, Mi.  Mana pesanan yang bisa Ahmad antar?” si sulung bertanya sembari berlari ke arahku dengan nafas yang terengah. Pakaian shalatnya terlihat sedikit basah diterpa gerimis lepas Ashar itu. Dua adik perempuannya yang sedang asik membaca, ikut  antusias dan mendekat, apakah gerangan yang dimaksud ‘pesanan’ oleh abangnya. “Ambil di freezer, dalam plastik biru itu ya, “ […]

  • Ketum Mushida Apresiasi Komitmen DPR Kuatkan Sinergi dengan Ulama

    Ketum Mushida Apresiasi Komitmen DPR Kuatkan Sinergi dengan Ulama

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2020
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) Dra. Reni Susilawati, M.Pd.I, mengapresiasi komitmen Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang bertekad menguatkan sinergi dengan Majelis Ulama Indonesia atau MUI. “Kita menyambut baik komitmen tersebut dan berharap sinergi ini semakin menguatkan peranan DPR terutama perhatian yang lebih baik lagi terhadap ketahanan keluarga […]

  • Demi Melanjutkan Misi Kenabian, Hidayatullah Siap Maksimalkan Perjuangan

    Demi Melanjutkan Misi Kenabian, Hidayatullah Siap Maksimalkan Perjuangan

    • calendar_month Selasa, 2 Mar 2021
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Hidayatullah telah berumur 47 tahun. Umur yang sudah cukup dewasa dan matang. Tetapi dibandingkan ormas lain, Hidayatullah masih terhitung seumur jagung. Hal tersebut diungkapkan oleh Dewan Pimpinan Umum (DPP) Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, Lc. MA dalam kegiatan Pencerahan Kader ba’da Penutupan Muswil Muslimat Hidayatullah Lampung di Pondok Pesantren Hidayatullah Lampung pada 21 Februari 2021. “Alhamdulillah, […]

expand_less