Rois ‘Aam Hidayatullah Tekankan Kemuliaan Syura dalam Rangakaian Munas VI Mushida
- Artikel Berita Headline Munas Musyawarah
- calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, mushida — Rangkaian Musyawarah Nasional Muslimat Hidayatullah (Munas Mushida) mendapatkan penguatan ruhiyah yang sangat mendalam melalui tausyiah Rois ‘Aam Hidayatullah, K.H. Abdurrahman Muhammad pada 28 November 2025 di Hotel Grand Dafam Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, beliau menegaskan urgensi syura sebagai fondasi kepemimpinan dan sistem pengokoh gerakan dakwah Hidayatullah.
Di hadapan para peserta Munas, Rois ‘Aam menyampaikan bahwa syura dalam Islam bukanlah sekadar mekanisme teknis pengambilan keputusan, melainkan sistem yang memiliki nilai ibadah. “Syura adalah satu sistem yang sangat agung dalam agama Islam. Ia merupakan turunan dari munajat, karena tidak ada satu pun solusi kehidupan kecuali berasal dari Allah,” tegasnya.
Beliau menjelaskan bahwa syura berfungsi sebagai pertahanan dan benteng muroqobah, menjaga kesadaran kolektif agar setiap keputusan dilandasi ketakwaan dan ketundukan. Menguatkan pesan tersebut, beliau mengutip firman Allah surah Ali Imran: 160, “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu.”
Rois ‘Aam juga menekankan adab penting dalam syura untuk mendengar dan menghargai setiap masukan. “Jangan menyepelekan syura. Dengarkan dan terima masukan meskipun ia datang dari orang yang mungkin berada di bawah kita,” ujarnya.
Beliau melanjutkan, semakin banyak orang berkumpul dalam syura, semakin banyak pula kebaikan yang Allah hadirkan melalui mereka. Jika satu orang datang dengan satu kebaikan, maka ratusan peserta syura membawa beragam kebaikan, hikmah, dan potensi solusi.
Dalam tausyiah yang berlangsung penuh kekhidmatan itu, Rois ‘Aam kembali menegaskan bahwa seluruh kehidupan seorang Muslim adalah pengabdian. Karena itu, kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi organisatoris, tetapi amanah uluhiyyah dan rabbaniyyah—sebuah beban keilmuan, keikhlasan, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
“Kepemimpinan itu amanah yang bersumber dari Allah. Bukan ambisi, bukan pencapaian personal, tetapi penugasan Ilahi untuk mengelola kebaikan,” ucapnya.
Menutup tausyiahnya, beliau memberikan pesan agar para peserta tidak melupakan amalan-amalan yang menjadi penguat ruhiyah. “Jangan lupa tilawah Al-Qur’an dan berinfak,” ungkapnya. Beliau menjelaskan bahwa seluruh kebaikan dan keburukan yang terjadi dalam kehidupan berada dalam cakupan ilmu Allah yang Maha Meliputi.
K.H. Abdurrahman Muhammad menyampaikan harapan besar bahwa Munas Mushida ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan yang kuat ruhiyahnya, matang syuronya, dan kokoh komitmennya terhadap dakwah. Para pemimpin yang mampu menggerakkan masyarakat, menjaga persatuan umat, serta membawa Mushida ke level kontribusi yang lebih luas bagi bangsa dan peradaban Islam.
Tausyiah Rois ‘Aam ini menjadi penguat ruh dan panduan bagi seluruh peserta Munas dalam bermusyawarah, menegaskan kembali bahwa kekuatan organisasi bertumpu pada keluhuran adab, kebeningan niat, dan kesungguhan dalam syuro.
- person


Saat ini belum ada komentar