Membangun Peradaban Islam Diawali dari Pengurus yang Memahami Visi Perjuangan

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Balikpapan – “Apakah kita benar-benar mengetahui seperti apa peradaban Islam yang ingin kita bangun kembali? Kapan peradaban Islam itu pernah tegak pada masa Rasulullah ﷺ?”
Pertanyaan itu diajukan Ir. Amalia Husna Bahar, M.Pd.I., Anggota Majelis Mudzakarah Muslimat Hidayatullah yang akrab disapa Umi Yuyu, kepada para Pengurus Wilayah (PW) Mushida Kalimantan Timur dan Pengurus Daerah (PD) Mushida Balikpapan dalam Silaturahim dan Penguatan Kelembagaan di Kampus Induk Ummul Quraa Balikpapan, Ahad (12/7/2026).
Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menguji para pengurus, tetapi menjadi ajakan untuk kembali meneguhkan pemahaman terhadap visi besar Hidayatullah. Menurutnya, para pengurus harus menjadi orang pertama yang memahami arah perjuangan sebelum menanamkannya kepada kader-kader berikutnya.
Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa amanah sebagai pengurus bukanlah sebuah kebetulan. Allah telah memilih setiap orang yang berada dalam barisan dakwah ini jauh sebelum nama mereka tercantum dalam kepengurusan. Karena itu, setiap pengurus perlu memahami mengapa Allah menempatkannya di lembaga ini.
“Masih banyak ruang kosong dalam pikiran kita tentang mengapa kita berada di lembaga ini. Kalau ruang itu tidak diisi, bisa jadi halaqah yang kita sampaikan hanya berpindah dari teks ke teks. Kita berbicara, tetapi hakikat Allah justru tertinggal,” ungkapnya.
Beliau mengajak para pengurus untuk tidak sekadar mengejar banyaknya aktivitas, tetapi memburu kualitas pengabdian. Mengingat keterbatasan usia manusia, beliau mengibaratkan kehidupan seperti wadah yang sama, namun memiliki isi yang berbeda. Ada yang mengisinya dengan amal yang berbobot di sisi Allah, ada pula yang berlalu tanpa meninggalkan nilai.
Dalam menjalankan amanah, beliau menegaskan bahwa husnudzhan billah merupakan modal utama seorang pengurus. Mengutip pesan Rasulullah ﷺ di akhir hayatnya, Umi Yuyu mengajak seluruh peserta untuk senantiasa berprasangka baik kepada Allah dan tidak merasa paling berat memikul amanah.
“Organisasi tidak cukup dibangun dengan kemampuan teknis. Seluruh pengurus harus memiliki tujuan yang sama agar setiap langkah perjuangan bergerak searah menuju cita-cita besar yang hendak diwujudkan,” tuturnya.
Menjawab pertanyaan yang ia ajukan kepada para pengurus, beliau kemudian mengarahkan perhatian peserta kepada kandungan Surah An-Nashr. Menurutnya, gambaran peradaban Islam yang dibangun Rasulullah ﷺ tampak ketika Allah memberikan pertolongan-Nya sehingga manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah. Itulah potret masyarakat yang terikat kepada risalah Islam dan menjadi tujuan besar perjuangan dakwah.
“Kalau kita tidak memahami seperti apa peradaban Islam yang pernah dibangun Rasulullah ﷺ, bagaimana mungkin kita mampu membangunnya kembali?” imbuhnya.
Di akhir tausiyah, beliau mengajak seluruh pengurus untuk terus mengisi diri dengan ilmu, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, memperbaiki “etalase” dakwah yang dimulai dari keluarga, memanfaatkan teknologi dalam kerja-kerja organisasi, serta membiasakan menyusun action plan agar setiap program berjalan terarah.
Silaturahim dan penguatan kelembagaan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program, tetapi oleh pengurus yang memahami visi perjuangannya, memiliki ruh pengabdian, dan bergerak bersama menuju terwujudnya peradaban Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.
- person
- Penulis: Mujtahidah, PW Mushida Kaltim

Saat ini belum ada komentar