light_mode
light_mode

Tidak Harus Keras, Begini Tips Menghukum Anak dengan Efektif

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Nayla Firdaus

SEORANG anak belia melakukan kesalahan. Lalu ayahnya langsung memukulnya. Ia lantas lari ke kamar tidur, menangis dan tertidur.

Tidak lama setelah itu ia mengalami mimpi buruk dan berteriak bangun. Ibunya malah menamparnya dengan dalih berusaha menenangkannya.

Saat itulah ayahnya berkata “Dasar anak manja, Kamu yang merusaknya dengan menuruti segala kemauannya”.

Ibunya pun menimpali “Justru kamu yang merusaknya! Kamu berubah kasar. Padahal dulu sayang berlebihan padanya!”.

Di tengah situasi kacau seperti ini, Ayah mengakui dirinya dengan berkata “Saya memang tidak pantas menjadi seorang ayah. Bagaimana saya bisa merawat anak sementara saya tidak berpengalaman”.

Ibu juga menjawab dalam hati “Saya juga benar-benar sedih. Saya tidak mau punya anak lagi”.

Tindakan-tindakan seperti di atas mengesankan bahwa mereka tidak cakap dalam menjalankan tugas sebagai ayah dan ibu.

Mendidik anak tidak memerlukan segudang teori. Hal yang diperlukan adalah memahami segudang persoalan, Saling melempar tuduhan juga merupakan kesalahan fatal.

Imam Al Ghazali menyinggung sebuah metode indah dalam menangani kesalahan sebagai berikut:

“Ketika anak melakukan kesalahan sekali, kesalahan ini harus dilupakan, Jangan beberkan masalah ini jika ia terlihat tidak berani mengulang kesalahan yang sama, Terlebih jika ia berusaha untuk menutupi kesalahan tersebut. Karena, menampakkan kesalahan seperti ini mungkin mendorongnya bersikap berani dan tidak peduli jika kesalahannya dibeberkan”.

Ketika anak kembali mengulangi kesalahan, anak harus ditegur empat mata. Besarkan tindakan yang ia lakukan dan sampaikan padanya, “Jangan pernah lagi kau ulangi perbuatan seperti itu. Jangan lagi kau terlihat melakukan perbuatan seperti itu karena kesalahanmu akan dibeberkan ke banyak orang”.

Jangan terlalu sering menegurnya. Teguran yang terlalu sering disampaikan tidak akan membekas di hatinya dan membuatnya mudah melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

Ayah harus menjaga wibawanya kala berkata pada anak. Jangan mencelanya selain sesekali saja. Hukuman harus diberikan langsung setelah kesalahan diberikan. Jangan terlalu berat hingga membuat anak merasa terdzolimi. Jangan juga menyakiti perasaannya.

Fakta menunjukkan, celaan biasa dan ringan yang disampaikan dengan nada datar lebih berpengaruh dalam diri anak dibandingkan dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh hukuman fisik yang keras.

Semakin sering hukuman diberikan kepada anak, pengaruhnya akan semakin kecil, bahkan mungkin semakin membuatnya membangkang terhadap segala perintah di kemudian hari.

Hukuman yang diberikan harus sesuai dengan tingkatan usianya. Tidak adil jika hukuman fisik atau celaan diberikan kepada anak usia dua tahun. Mengerutkan wajah sudah cukup untuk usia tersebut. Anak pada saat itu belum memaknai arti hukuman.

Anak usia tiga tahun bisa dihukum dengan cara mengambil mainannya ketika ia melakukan kesalahan. Itupun harus dilakukan setelah melakukan persetujuan dengan si anak. Dan dengan cara yang datar tanpa mengeraskan intonasi suara, sehingga anak tidak merasa tertekan dan terbebani.

Jenis Hukuman

Terlebih dulu harus diingat, bahwa hukuman harus menjadi cara terakhir dalam mendidik anak ketika nasehat, arahan, bimbingan, perlakuan yang lembut dan teladan yang baik tidak mendapat pengaruh yang besar terhadap diri anak.

Memukul bukanlah satu-satunya cara untuk memberikan hukuman. Karena kadang memukul tidak membawakan hasil positif, bahkan mungkin saja justru menimbulkan hasil yang sebaliknya.

Oleh karena itu, teguran justru akan lebih memberikan pengaruh yang positif sebagai ganti dari pemukulan.

Hukuman juga bisa dilakukan dengan tidak memberikan sesuatu yang disukai anak, misal uang saku. Namun, hal ini hanya boleh dilakukan dalam waktu sementara.

Jangan menyuruh anak ke kamar tidur saat ia melakukan tindakan yang tidak bisa diterima, sehingga akan tertanam dalam benaknya bahwa kasur dan tempat tidur termasuk salah satu jenis hukuman.
Imbasnya, anak menjadi enggan ke kamar tidur pada malam hari.

Tidak baik jika anak menangis seorang diri tanpa pendampingan dari orang tua ketika ia merasa terganggu atau terluka. Lebih baik ia tetap berada di tengah orang tuanya sampai situasi membaik.

Dalam kondisi apapun, tidak diperkenankan mengunci dan mengurung anak di dalam kamar. Kamar yang gelap atau terkunci akan sangat membuatnya ketakutan dan memicu guncangan hebat padanya.

Pengaruh tindakan tersebut mungkin akan terlihat beberapa tahun lamanya. Dalam bentuk keresahan, ketakutan, atau kebimbangan dalam kepribadian.

Ketika kita merasa benar-benar harus menghukum anak secara fisik, cukup minta ia duduk di kursi sisi kamar atau berdiri di sudut kamar untuk sementara waktu, sesuai dengan kesanggupan usianya.

Ada beberapa orang tua menyediakan kursi khusus di pojok kamar untuk hukuman ini. Katakan padanya dengan tenang namun tegas untuk duduk di tempat tersebut tanpa bergerak dan tidak boleh meninggalkan tempat tersebut sebelum diijinkan.

Biasanya beberapa menit saja sudah cukup membantu menenangkan perasaannya. Sebagian orang merasa heran ternyata cara sederhana ini sangat berpengaruh dalam menenangkan sekaligus menghukum anak tanpa harus menyakiti dan membuatnya merasa tertekan.

___________
*) NAYLA FIRDAUS, penulis adalah anggota Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peradaban Islam di Indonesia dengan Penguatan Peran Muslimat

    Peradaban Islam di Indonesia dengan Penguatan Peran Muslimat

    • calendar_month Rabu, 27 Apr 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia menyimpan potensi kekuatan besar, yang cukup ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Bahkan, dalam sebuah dokumen rahasia milik kaum Yahudi, diketemukan bahwa Indonesia dianggap negara yang akan mengancam kekuatan Israel. Itu sebabnya akan dimusnahkan oleh Israel sebelum tahun 2025. Demikianlah pemaparan disampaikan Irawati Istadi, sekretaris Majelis Penasehat Muslimat […]

  • Muslimat  Hidayatullah Gunung Tembak Gelar Kajian Rutin Pekanan

    Muslimat Hidayatullah Gunung Tembak Gelar Kajian Rutin Pekanan

    • calendar_month Sabtu, 21 Des 2019
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Profesi apapun itu semua butuh ilmu, baik itu yang terkait dengan amaliyah sehari-hari ataupun ilmu agama. Terkhusus yang disebut terakhir, ilmu tersebut berguna untuk memastikan amal ibadah yang dikerjakan sesuai dengan tuntunan agama.  Hal itu pulalah yang dirasakan oleh ummahat yang berdomisili di Kampus Ummul Qura Gunung Tembak kelurahan Teritip Balikpapan. Selain ummahat yang mukim […]

  • Khotmil Qur`an Nasional Diharapkan Dapat Menyatukan Hati dan Langkah Muslimat Hidayatullah

    Khotmil Qur`an Nasional Diharapkan Dapat Menyatukan Hati dan Langkah Muslimat Hidayatullah

    • calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Jakarta, mushida.org – Sebagai bagian dari gerakan dakwah perempuan yang berkhidmat untuk membangun peradaban mulia, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah berkomitmen mengokohkan peran AlQur’an dalam kehidupan umat. Menyambut momentum Musyawarah Nasional (Munas), Muslimat Hidayatullah menggelar Khotmil Al-Qur’an Nasional dengan mengusung tema, “Menguatkan Jiwa Menuju Indonesia Emas dengan Al-Qur’an.” Kegiatan ini dilaksanakan pada 1 November 2025/10 Jumadil […]

  • Mushida DKI Jakarta Rutin Lakukan Pembinaan Keagamaan di Lapas Perempuan Kelas 2A Pondok Bambu

    Mushida DKI Jakarta Rutin Lakukan Pembinaan Keagamaan di Lapas Perempuan Kelas 2A Pondok Bambu

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • account_circle Ramayanti
    • 0Komentar

    Jakarta — Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah DKI Jakarta secara konsisten menggelar program pembinaan kerohanian bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas 2A Pondok Bambu, Jakarta Timur. Kegiatan pembinaan keagamaan ini dilaksanakan secara rutin setiap satu pekan sekali, yakni pada hari Rabu, dengan dibimbing oleh dua orang daiyah pada setiap sesinya. Ketua PW Mushida […]

  • Mengisi Energi Ruhiyah, Muslimat Hidayatullah Bontang Selenggarakan Lailatul Ijtima’

    Mengisi Energi Ruhiyah, Muslimat Hidayatullah Bontang Selenggarakan Lailatul Ijtima’

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle Irfatunazhifah02
    • 0Komentar

    Bontang — “Bukan sekadar pindah tidur dan pergi sejenak meninggalkan suami dan anak-anak. Tapi, ini menjadi momentum recharging spirit ruh yang mungkin sudah lama mengering, untuk kembali disegarkan bersama-sama pengurus Mushida.” Ungkapan tersebut disampaikan oleh pengurus Muslimat Hidayatullah Kota Bontang dalam kegiatan Lailatul Ijtima’, salah satu program kerja Bidang Sekretaris Mushida Kota Bontang yang dilaksanakan […]

  • Pandu Annisa Hidayatullah Sulsel dan Seminar “Muslimah Membangun Peradaban”

    Pandu Annisa Hidayatullah Sulsel dan Seminar “Muslimah Membangun Peradaban”

    • calendar_month Minggu, 12 Mar 2017
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    PAREPARE – Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan menggelar acara Pandu Annisa Hidayatullah yang dirangkai dengan acara seminar “Muslimah Membangun Peradaban” yang digelar di Kota Parepare, (10–12/03/2017). Pembukaan acara Training Pandu Annisa Hidayatullah dirangkai dengan seminar yang mengangkat tajuk “Muslimah Membangun Peradaban” yang menghadirkan 2 narasumber yaitu Ketua Tim Penggerak PKK Parepare Hj Erna Rasyid […]

expand_less