light_mode
light_mode

Bukan Wanita Berkalung Sorban

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Wanita itu melangkah dengan gagah di atas kudanya. Sorban yang melilit di lehernya menjadi tanda sebuah tuntutan, harapan dan pernyataan tersirat tentang sebuah kesetaraan. Bahwa sorban yang biasanya akrab dengan kaum lelaki tak ada salahnya dikenakan para wanita. Bahwa pekerjaan yang biasanya dilakukan kaum lelaki tak ada salahnya jika dikerjakan para wanita.

Sebuah pemikiran yang terdengar logis namun sejatinya  sangat membuat miris. Sebuah gambaran masa kini tentang kaum wanita yang merasa dibedakan dengan kaum lelaki. Sebuah gambaran masa kini tentang wanita yang selalu berteriak dan menuntut kesetaraan yang mereka sebut dengan emansipasi.

Sejatinya emansipasi telah disuarakan sejak berabad-abad yang lalu. Suatu pemikiran yang muncul karna penyiksaan dan ketidakadilan yang dilakukan para lelaki. Mereka yang memiliki fisik lebih kuat dan mengaku terfitrah sebagai pemimpin berlaku seenaknya pada kaum wanita. Hal yang membuat para wanita marah  dan  memberontak menuntut kesetaraan.

Kita kembali pada masa itu, suatu masa di mana hidup suatu kaum penyembah berhala yang mengubur hidup-hidup bayi perempuannya karena menganggap itu sebagai cela. Sebegitu rendahkah derajat wanita hingga membuat sang ayah begitu tega mengubur sang bayi bahkan saat baru terlahir dari Rahim ibunya? Ah, bukankah fakta ini begitu cukup untuk kita menyuarakan hal yang sama? Emansipasi wanita.

Namun kita tau dan sama-sama menyadari bahwa pemikiran ini adalah buah dari ketidakpahaman. Bahwa dalam agama ini kita diajarkan dan dipahamkan bahwa lelaki dan wanita memang sejatinya diciptakan dengan tugas dan peran yang berbeda yang memang tak bisa untuk disamakan karna setiap insan dinilai berdasarkan ketaqwaan.

Mari kita menengok fakta yang ada. Kemajuan teknologi tak serta merta membawa kemajuan bagi generasi. Apa yang salah dengan semua ini? Bukankah teknologi telah begitu canggih? Bukankah kurikulum pendidikan telah berulang-ulang direvisi? Bukankah telah banyak sarjana-sarjana lulusan universitas ternama yag bahkan bisa kita temukan sedang menjual kopi? Sekali lagi, Apa yang salah dengan semua ini?

Kesalahan terbesar adalah karena para wanita lupa akan perannya sebagai pendidik generasi. Tenggelam dan terhanyut dalam kemajuan yang tidak memajukan. Islam tak pernah melarang wanita untuk bekerja. Hanya saja jangan sampai pekerjaan itu membuat wanita lupa akan tugas utamanya sebagai madrasah pertama. Pergi saat sang anak masih terlelap, pulang saat sang anak telah tertidur lelap.

Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya di dapur? Kalimat yang juga sering terlontar dari mulut para wanita. Kalimat yang kemudian terjawab pada masa pandemi di mana banyak ibu-ibu kebingungan saat ditanya anaknya tentang hal sederhana seperti penjumlahan.

Harapan agar wanita berpendidikan tinggi tak pernah bertujuan untuk menyaingi kaum lelaki. Tetapi generasi hebat memang selalu lahir dari wanita yang hebat. Wanita yang begitu memahami akan tugas dan perannya sebagai pendidik generasi. Kita memang tak seperti kaum lelaki yang bisa turut ke medan perang. Tapi faktanya para mujahid selalu lahir dari seorang wanita yang begitu paham akan makna perjuangan.

Kita bukan wanita berkalung sorban yang menuntut kesetaraan. Kita adalah wanita Muslimah dengan gamis dan jilbab panjang yang sedang menempuh pendidikan dengan doa dan harapan bisa turut berperan dalam membangun peradaban.*

*Nurul Azka
Siswi Sekolah Menengah Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PW Kalimantan Barat Siap Ikuti Munas 6 Muslimat Hidayatullah

    • calendar_month Selasa, 11 Nov 2025
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    mushida.org — Muslimat Hidayatullah akan menggelar agenda lima tahunan yaitu Musyawarah Nasional yang ke-6 pada 27- 29 November 2025 di Jakarta. Sebelumnya, telah berlangsung beberapa rangkaian gebyar Pra Munas yang berlangsung mulai bulan Juli lalu, dengan diikuti oleh anggota Mushida se-Indonesia. Di antaranya Seribu Berkah untuk Indonesia, Gerak Jalan Sehat, Hari Solidaritas Jilbab se-Dunia, Webinar […]

  • Penerbangan Terakhir dan Pesan Yang Tersurat

    • calendar_month Sabtu, 23 Okt 2021
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Pemulangan jenazah almarhum Laendra Rahmat Kartolo tiba di bandara Soekarno-Hatta pada Jum’at (22/10) sekitar pukul 13.10. Jenazah diterbangkan dengan pesawat Etihad bernomor EY474. Ikut dalam kepulangan tersebut, Ustadzah Rita Sahara, istri almarhum, dan Suci Oktaviani, Pengatur Perjalanan Tim Departemen Pendidikan Dasar Menengah DPP Hidayatullah ke Turki. Setelah melalui prosedur pemulangan jenazah dan mendapat hasil PCR […]

  • Mushida Sleman Gelar Halaqah Bersama Anggota Majelis Murabbiyah Pusat Mushida

    Mushida Sleman Gelar Halaqah Bersama Anggota Majelis Murabbiyah Pusat Mushida

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle Roidatun Nahdhah
    • 0Komentar

    Sleman – Mushida Sleman yang tergabung dalam barisan Mushida wilayah DIY–Jateng Bagian Selatan kembali menggelar Halaqah Bersama pada Sabtu, 10 Safar 1448 H bertepatan dengan 25 Juli 2026 M. Kegiatan yang berlangsung di Aula TK Yaa Bunayya, Kampus Hidayatullah Sleman ini diikuti oleh seluruh pengurus dan anggota Mushida Sleman. Halaqah kali ini menghadirkan Anggota Majelis […]

  • Pengayaan Alumni Daurah Marhalah Wustha, Mushida Perkuat Jati Diri dan Pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah

    Pengayaan Alumni Daurah Marhalah Wustha, Mushida Perkuat Jati Diri dan Pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Jakarta — Bidang Rekrutmen, Pembinaan, Anggota, dan Perkaderan (RPAP) Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan Pengayaan Alumni Daurah Marhalah Wustha dengan tema pendalaman materi Jati Diri dan Ahlus Sunnah wal Jamaah, Ahad, 23 Agustus 2026/10 Rabiul Awwal 1448 H. Kegiatan ini diikuti oleh 469 anggota Muslimat Hidayatullah, alumni Daurah Marhalah Wustha di berbagai provinsi di Indonesia, […]

  • Rakerwil Mushida Jawa Barat

    Rakerwil Mushida Jawa Barat

    • calendar_month Selasa, 21 Jun 2022
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    “Peran domestik sangat penting dan tidak boleh diabaikan sebab ia adalah kodrati,” kata Hani dalam pembukaan Rapat kerja Wilayah (Rakerwil) Mushida Jawa Barat terselenggara di Hotel Cirebon, Jawa Barat, belum lama ini. Ketua Umun (Ketum) Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Hani Akbar, menekankan pentingnya terus menguatkan peran domestik wanita muslimah sebagai bagian tak terpisahkan […]

  • Sabriati Aziz: Mushida Harus Percaya Diri Pada Jati Diri Hidayatullah

    Sabriati Aziz: Mushida Harus Percaya Diri Pada Jati Diri Hidayatullah

    • calendar_month Selasa, 16 Mar 2021
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Pare-pare. Menjelang waktu Maghrib (14/3/2021), masuk pesan singkat bahwa Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Parepare dan Ibu-ibu warga diminta berkumpul selepas shalat Isya untuk mendengarkan spirit kelembagaan dari salah satu anggota Majelis Penasihat Mushida, Ustadzah Dr. Hj. Sabriati Aziz, M.Pd.I.  Namun, yang hadir tidak hanya PD dan warga Hidayatullah Parepare tetapi juga turut serta Ketua […]

expand_less