light_mode
light_mode

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Part I

Beberapa tahun silam, sembari mengemil sebatang cokelat, jemariku berselancar di atas layar smartphone. Saat membuka aplikasi YouTube, podcast wawancara Deddy Corbuzier dengan Syekh Ali Jaber (Allahu Yarham) yang ditayangkan di kanal YouTube Deddy langsung muncul di bagian paling atas berandaku.

Podcast tersebut cukup viral pada saat itu. Telah ditonton sebanyak 11 juta kali hanya dalam kurun 3 hari semenjak ditayangkan pertama kali. Luar biasa.

Beberapa hari sebelum wawancara dengan Deddy Corbuzier, terjadi peristiwa penusukan terhadap Syekh Ali Jaber saat sedang menghadiri acara wisuda tahfidz di Lampung yang cukup menggegerkan publik. Wajar saja jika wawancara perdana pasca peristiwa penusukan tersebut menjadi trending dan viral.

Ada banyak hal menarik dan menggugah dari penuturan Syekh Ali Jaber dalam podcast tersebut. Tetapi ada satu hal yang cukup menyentakku. Apa itu?

Tentang rasa syukur. Jika biasanya orang berucap innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun ketika tertimpa musibah, berbeda dengan Syekh Ali Jaber.

Sungguh luar biasa, kalimat pertama yang Syaikh Ali Jabet ucapkan ketika penusukan itu terjadi adalah, “Alhamdulillah.” Ya. Ia mengucapkan alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Sebaris kalimat yang biasa kita ucapkan sebagai bentuk kesyukuran dan terima kasih kita kepada Allah ketika ketika mendapatkan kebahagiaan atau kenikmatan.

“Ini takdir Allah, alhamdulillah. Ini dari-Mu Ya Allah, alhamdulillah,” ucap Ali Jaber ketika itu.

Ia bersyukur, masih diberi usia panjang dan keselamatan, meski luka tusuk cukup dalam tak terhindarkan. Ia bersyukur, atas luputnya mata pisau dari sasaran tuju sebenarnya yang telah pelaku targetkan.

Ia bersyukur dengan memuji Allah, karena meyakini tak ada satu pun peristiwa di muka bumi yang terjadi tanpa campur tangan Allah. Setelah itu, barulah ia mengucapkan kalimat istirja’. Sebagai bentuk kepasrahan dan mengembalikan segala urusan kepada Rabb Maha Rahman.

Jika biasanya orang bersyukur ketika mendapat nikmat atau kesenangan, maka Syekh Ali Jaber menekankan rasa syukur bukan hanya ketika mendapat nikmat, tetapi juga saat tertimpa musibah. Bersyukur ketika mendapat nikmat itu hal biasa, bahkan sudah menjadi kewajiban kita. Tetapi bersyukur saat ditimpa musibah, kemalangan, kesengsaraan dan sebagainya, mungkin hanya segelintir orang yang mampu melakukannya. Ini jenis syukur yang sangat berat untuk diaplikasikan. Inilah syukur level tertinggi.

Seusai menonton podcast Syekh Ali Jaber tersebut, aku termenung. Merenung. Teringat percakapan beberapa hari sebelumnya dengan suami.

“Bang, coba bikin taman yang cantik kayak taman-taman di perumahan itu, loh. Biarpun kecil tapi tertata kan enak dipandang. Nggak seperti taman pekarangan kita yang amburadul, berantakan,” ujarku kala itu.

Untuk yang ke sekian kalinya, aku merepet tentang pekarangan rumah, yang menurutku amburadul tak tertata. Memang, pekarangan kami terlihat cukup asri dengan beberapa jenis bebungaan dan pepohonan yang ditanam suami. Namun bagiku tetap saja jauh dari ekspektasi.

“Bagus begini taman kita, kok dibilang jelek… Banyak orang yang puji taman kita. Katanya bagus, adem.” Suamiku seperti biasa juga, membela taman buatannya.

“Ah, nggak ada bagus-bagusnya, kok. Berantakan gak tertata gitu, penataannya gak beraturan. Itu pohon-pohon pisang bikin jelek pemandangan. Masa’ depan rumah kelihatan kayak kebun. Belum lagi itu pohon nangka daunnya berguguran terus, bikin kotor halaman. Rasanya pengen kutebang saja, pusing kepala melihatnya,” gerutuku panjang kali lebar.

Suami hanya terkekeh. “Saaay… Kurang bersyukur kamu ini. Bagus ada pohon di depan rumah, biar rumah kita adem, nggak terlalu panas. Coba bayangkan kalau nggak ada pohon-pohon ini, apa nggak panas tuh rumah.”

Deg! Kurang bersyukur. Podcast Syekh Ali Jaber seperti terngiang kembali di telingaku, menyengatku, menohokku. Ya, kurang bersyukur, itulah aku.

Bagaimana aku akan mampu bersyukur ketika sedang ditimpa musibah, sedangkan dengan berjuta kenikmatan yang Allah berikan, masih saja kufur?

Bagaimana aku akan mampu bersyukur ketika berada dalam kesempitan dan kesulitan, sedangkan dalam keadaan lapang dan senang saja masih kerap melontarkan keluhan demi keluhan?

Astaghfirullah… Astaghfirullah… Wa atuubu ilaih…

Lamat lamat, lirik indah nasyid Antara Dua Cinta-nya The Zikr mengalun di benakku. “Apa yang ada jarang disyukuri… Apa yang tiada sering dirisaukan. Nikmat yang dikecap baru kan terasa bila hilang apa yang diburu… Timbul rasa jemu bila sudah di dalam genggaman…”

Begitulah sifat dasar kebanyakan manusia. Tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Selalu menginginkan lebih, lebih dan lebih.

Sudah punya rumah kecil sederhana, ingin rumah yang lebih besar. Sudah punya rumah yang lebih besar, ingin punya rumah yang lebih megah, lebih mewah dan lebih indah lagi. Padahal kalau ia mau menengok sedikit saja ke bawah, betapa banyaknya orang yang masih bermimpi untuk memiliki rumah.

Sudah punya kendaraan berupa motor untuk menunjang mobilitas, ingin punya mobil. Sudah punya mobil Avanza, lihat tetangga punya mobil Alphard, jadi ingin mobil Alphard juga. Lihat di televisi ada artis pamer mobil Ferrari atau Lamborghini, nafsu ingin memiliki mobil super mewah pun membuncah. Padahal di luar sana, tak sedikit orang, yang jangankan memiliki motor, sekerat nasi untuk mengganjal perut saja mereka tak punya.

Sudah punya suami yang baik dan penyayang, gara-gara membaca postingan orang lain tentang suaminya yang super royal dan romantis, jadi menuntut suami untuk seperti itu juga. Memasang ekspektasi yang terlalu tinggi, bahwa suaminya harus begini dan begini. Dan ketika sang suami tidak bisa memenuhi ekspektasi itu, dianggaplah sang suami tidak becus, tidak perhatian, tidak sayang sama istri, dst. Ujung-ujungnya jadi bertengkar, bahkan tak sedikit berakhir di pengadilan. Naudzubillah.

Sudah mampu hidup sederhana dengan gaji yang meski pas-pasan tetapi mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari, inginnya lebih. Akhirnya segala cara ditempuh untuk memperoleh kekayaan dengan cara instan. Tak jarang dengan menghalalkan yang haram. Ah, betapa nafsu, jika tidak dikendalikan dengan rasa syukur, ia akan membawa kita kepada kufur.

Tentang syukur

Syukur berasal dari kata syukuran yang berarti mengingat akan segala nikmat-Nya. Menurut bahasa adalah suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala nikmat-Nya, baik diekspresikan dengan lisan, dimantapkan dengan hati maupun dilaksanakan melalui perbuatan.

Dengan demikian, syukur adalah sikap berterima kasih, yang tak hanya mencakup hati dan lisan, tetapi juga tindakan. Maka syukur selain dirasakan dan diucapkan, juga harus diwujudkan dengan tindakan nyata, berupa ibadah, melakukan kebaikan dan ketaatan.

Lafal syukur (syukru) yang terdiri atas rangkaian huruf syin, kaf, dan ra’, secara bahasa juga bermakna membuka, menampakkan, menyingkap, dan menunjukkan. Karenanya, makna syakara merupakan lawan dari kafara (kufur) yang bermakna menutup atau tidak mau mensyukuri nikmat Allah SWT.

Seorang peneliti Jepang, Toshihiko Izutsu, profesor di Institute of Cultural and Linguistik Studies, Keio University menyatakan, Al Qur’an mengulang berkali kali, luar biasa banyaknya, kata syukur yang dipertentangkan dengan kufur. Di sisi lain kufur dipertentangkan dengan iman. Apakah ini berarti orang yang tidak bersyukur, otomatis kafir? Setara dengan kafirnya orang tak beriman? Naudzubillah.

*/Zahratun Nahdhah, Ketua Departemen Perkaderan PP Mushida

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perempuan Kuliah di Benua Afrika, Untuk Apa?

    • calendar_month Sabtu, 13 Nov 2021
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Terik panas yang menyambut, sesaat setelah beberapa langkah keluar dari bandara Internasional Khartoum adalah terik yang belum pernah ku rasakan selama menetap di Indonesia. Troli bandara yang penuh dengan koper-koper besar, ditemani oleh sosok wajah polos dengan kecanggungan, kebingungan, dan hati yang merapal keyakinan berkali lipat, diam di lobi di depan bandara.             Itu peristiwa […]

  • PW Muslimat Hidayatullah Jawa Barat Perkuat Sinergi dengan Fraksi PAN, Bahas Peluang Program dan Pengawalan Kebijakan

    PW Muslimat Hidayatullah Jawa Barat Perkuat Sinergi dengan Fraksi PAN, Bahas Peluang Program dan Pengawalan Kebijakan

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Bandung – Ketua PW Muslimat Hidayatullah Jawa Barat, Yushi Nurul Fatwa, mengikuti rapat koordinasi bersama Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) pada Jumat, 4 September 2026 di Bandung. Kegiatan tersebut juga diikuti oleh DPW Hidayatullah Jawa Barat dan Pemuda Hidayatullah Jawa Barat. Pertemuan ini menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antara Hidayatullah dengan unsur legislatif, sekaligus membahas berbagai peluang program dan dukungan bagi […]

  • Muslimat Hidayatullah Selenggarakan Pelatihan Ketahanan Pangan dan Pemanfaatan Lahan Produktif

    Muslimat Hidayatullah Selenggarakan Pelatihan Ketahanan Pangan dan Pemanfaatan Lahan Produktif

    • calendar_month Minggu, 22 Des 2024
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Muslimat Hidayatullah sebagai organisasi pendukung Hidayatullah memiliki tugas pengembangan diri melalui keterampilan dalam bidang ekonomi. Keterampilan yang bisa membekali muslimat salah satunya melalui Pelatihan Ketahanan Pangan dan Pemanfaatan Lahan Produktif. Pelatihan Ketahanan Pangan salah satunya dengan belajar menanam sayuran, buah-bahan dan tanaman obat-obatan. Keterampilan ini sangat bermanfaat sekali, dengan memanfaatkan pekarangan yang ada, tetapi sangat […]

  • Semarakkan Hari Kemerdekaan, Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah Hadirkan Webinar Peran Muslimah Dalam Mengisi Kemerdekaan Indonesia

    • calendar_month Senin, 21 Agt 2023
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    (Jakarta, mushida.org) Dalam rangka memperingati Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 78, Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan Webinar yang bertajuk “Dengan Kebersihan Jiwa, Kita Mengisi Kemerdekaan Menuju Indonesia Bermartabat” pada 19 Agustus 2023. Webinar ini diikuti oleh lebih dari 165 partisipan zoom yang terdiri dari Pengurus Tingkat Pusat, Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, kader Muslimat Hidayatullah di […]

  • Rakerwil Jawa Tengah: Konsistensi Lakukan Perubahadan dan Perbaikan

    • calendar_month Selasa, 6 Feb 2024
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    (Semarang, mushida.org) Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida), Hani Akbar, hadir secara daring membersamai Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Mushida Jawa Tengah sekaligus membuka acara tersebut pada Jum’at, 9 Jumadil Akhir 1445 (22/12/2023). Dalam sambutannya, Hani menekankan pentingnya terus melakukan pembenahan sebagai ikhtiar untuk melakukan perbaikan. “Upaya pembenahan ke dalam terus dilakukan sebagai ikhtiar untuk melakukan […]

  • Peringati Hari Solidaritas Jilbab Sedunia, Mushida Makassar dan Mushida Palopo Gelar Aksi Dakwah dan Kepedulian Sosial

    Peringati Hari Solidaritas Jilbab Sedunia, Mushida Makassar dan Mushida Palopo Gelar Aksi Dakwah dan Kepedulian Sosial

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    MAKASSAR — Dalam rangka memperingati Hari Solidaritas Jilbab Sedunia (HSJD), Muslimat Hidayatullah di sejumlah daerah Sulawesi Selatan menggelar berbagai kegiatan yang memadukan dakwah, penguatan identitas muslimah, serta kepedulian sosial, Jum’at, 4 September 2026. Di Kota Makassar, Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Makassar menyelenggarakan kegiatan yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. Kegiatan tersebut […]

expand_less