Muslimat Hidayatullah Menghadiri Forum Dialog Global Antar Peradaban

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, mushida.org – Ketua Bidang Organisasi PP Muslimat Hidayatullah, Wulan Sari, dan Ketua Departemen Ekonomi PP Muslimat Hidayatullah, Ina Sriwahyuni, mewakili Muslimat Hidayatullah menghadiri Forum Dialog Global Antar Peradaban yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia DPR RI/DPD RI dalam rangka memperingati International Day for Dialogue among Civilizations di Gedung Nusantara V, Kompleks DPR RI/DPD RI, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Forum bertema “Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia” ini menjadi wadah pertemuan para pemimpin agama, diplomat, akademisi, anggota parlemen, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi perempuan Islam untuk memperkuat dialog antarperadaban sebagai fondasi perdamaian dunia.
Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai tindak lanjut Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor A/RES/78/286 yang menetapkan tanggal 10 Juni sebagai Hari Internasional Dialog Antar Peradaban.
Bagi Muslimat Hidayatullah, forum ini memiliki makna strategis karena memberikan ruang bagi organisasi perempuan Islam untuk berkontribusi dalam agenda perdamaian dunia. Perempuan memiliki peran sentral dalam membangun karakter generasi, menanamkan nilai-nilai agama, memperkuat ketahanan keluarga, serta menumbuhkan budaya dialog dan toleransi dari lingkungan terkecil.
Forum dibuka oleh sejumlah tokoh nasional dan internasional, di antaranya Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof. Dr. KH. Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia Ahmad Doli Kurnia Tandjung, cendekiawan Muslim Prof. Dr. Din Syamsuddin, Kepala Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia sekaligus Koordinator Residen PBB Gita Sabharwal, serta para duta besar negara sahabat, termasuk Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal bin Abdullah H. Amodi, Duta Besar Turki Talip Küçükcan, dan perwakilan diplomatik dari berbagai negara.
Dalam sambutannya, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim menegaskan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan serius berupa konflik geopolitik, polarisasi identitas, intoleransi, dan krisis kemanusiaan yang membutuhkan penguatan kerja sama lintas bangsa dan peradaban.
“Upaya sadar secara terus-menerus untuk memperkokoh aliansi masyarakat sipil lintas agama, lintas kelompok, dan lintas peradaban demi terciptanya perdamaian dunia merupakan sebuah keniscayaan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menegaskan bahwa perdamaian tidak akan terwujud tanpa keadilan.
“Tidak mungkin ada ketertiban dunia dan perdamaian yang sejati apabila yang terjadi justru penindasan, penjajahan, dan pengingkaran terhadap hak-hak kemanusiaan,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta mengajak seluruh elemen masyarakat dunia untuk membangun tata peradaban global yang lebih adil dan manusiawi.
“Dunia membutuhkan sebuah proposal peradaban bersama yang mampu menyatukan umat manusia dalam semangat keadilan, kemanusiaan, dan kerja sama global,” ujarnya.
Hadir juga Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, menyampaikan pentingnya dialog antarperadaban dalam membangun masa depan dunia yang damai dan berkelanjutan. Dalam berbagai kesempatan, Gita Sabharwal menekankan bahwa tantangan global saat ini hanya dapat diatasi melalui kemitraan dan kolaborasi yang inklusif.
“Tidak ada satu negara atau lembaga yang mampu menyelesaikan tantangan global sendirian. Dialog, kemitraan, dan kolaborasi yang inklusif merupakan kunci untuk mencapai pembangunan dan perdamaian yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Sementara itu, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal bin Abdullah H. Amodi, menegaskan bahwa perdamaian bukan sekadar agenda politik, melainkan nilai fundamental yang diajarkan agama.
“Perdamaian merupakan seruan yang diharuskan dan diwajibkan oleh Allah SWT, bukan sekadar inisiatif manusia,” ujarnya.
Forum Dialog Global ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang memiliki pengalaman panjang dalam merawat keberagaman dan membangun kehidupan yang harmonis di tengah perbedaan agama, budaya, dan etnis.
“Kehadiran Mushida dalam forum internasional tersebut merupakan wujud komitmen organisasi untuk terus mengambil bagian dalam upaya membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin, memperkuat peran perempuan dalam dakwah dan pendidikan umat, serta mendukung terciptanya perdamaian dunia sebagaimana amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” sebut Wulan Sari, Ketua Bidang Organisasi PP Mushida.
“Melalui forum ini, Mushida berharap semangat dialog antarperadaban dapat semakin berkembang menjadi gerakan nyata yang memperkuat persaudaraan kemanusiaan, mengurangi konflik, dan menghadirkan masa depan dunia yang lebih damai, adil, dan berkeadaban,” ujar Ina Sriwahyuni, Ketua Departemen Ekonomi PP Mushida.
- person
- Penulis: Wulan Sari

Saat ini belum ada komentar