Merawat Jiwa, Membangun Peradaban: Mushida Bali Perkuat Jati Diri dan Wawasan Kader Muslimah
- Uncategorized
- calendar_month 8 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR — Suasana hangat mengiringi langkah puluhan kader dan pimpinan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Bali yang berkumpul di Kampus Hidayatullah Bali pada Sabtu sore (29/08/2026). Di tengah suasana petang yang teduh, para muslimah dan jajaran keputrian Hidayatullah Bali berpadu dalam agenda penguatan jati diri dan wawasan, menyegarkan kembali komitmen mereka dalam menjaga fondasi keluarga sekaligus menggerakkan dakwah di tengah masyarakat.
Ketua PW Mushida Bali, Ustadzah Hadinda, S.H.I., menegaskan bahwa agenda ini diselenggarakan sebagai momentum penting untuk mengokohkan kembali loyalitas dan komitmen seluruh elemen muslimah.
“Kehadiran aktif dalam halaqah pembinaan serta keikutsertaan dalam berbagai lini gerakan dakwah, pendidikan, dan sosial di Pulau Dewata ditegaskannya sebagai wujud nyata dari pengabdian dan soliditas barisan kader,” ujarnya.
Hadir sebagai pembicara utama, Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.S.I., Ketua Bidang Rekrutmen, Pembinaan Anggota, dan Perkaderan DPP Hidayatullah, membawakan pemaparan mendalam bertajuk Merawat Jiwa, Membangun Peradaban: Peta Jalan Muslimah Hidayatullah Bali. Dalam ulasannya yang menyentuh, beliau menegaskan sebuah pesan kunci bahwa peradaban besar tidak lahir mendadak di jalanan, melainkan diukir dengan ketulusan dari balik pintu-pintu rumah.
“Sebagai seorang istri, wanita menjadi muara kedamaian rumah tangga yang merawat harmoni lewat pemahaman bahasa kasih dan kesabaran. Berpindah sebagai ibu, muslimah berdiri sebagai pendidik utama yang mengenali fitrah anak serta menanamkan nilai Al-Qur’an sejak dini,” urainya.
Sementara dalam perannya sebagai aktivis, ia hadir membawa empati sosial, merangkul lingkungan sekitar dengan kelembutan, dan menyebarkan kesalehan agar terus meluas ke tengah masyarakat.
Keseimbangan peran tersebut dinilai hanya bisa terwujud jika seorang muslimah memadukan dua kekuatan utama, yakni kedalaman spiritual batiniah dan aksi nyata di lapangan. Perjalanan transformasi ini bertumpu pada landasan wahyu yang runtut. Langkah awal dimulai dari keberanian membaca dan mengenali jati diri, dilanjutkan dengan meluruskan niat serta membangun pola pikir perjuangan.
“Agar jiwa tidak rentan lelah di tengah pengabdian, energi spiritual senantiasa dihimpun dalam keheningan malam melalui salat malam. Dari sanalah lahir keberanian untuk bangkit memberi keteladanan nyata, hingga akhirnya konsistensi itu terjaga sepanjang hayat,” sebutnya.
Kelancaran dakwah tersebut turut ditopang oleh penguasaan kapasitas keilmuan mendasar yang wajib dimiliki setiap kader, mulai dari pemahaman Al-Qur’an, fiqh kewanitaan, tata kelola rumah tangga, ilmu kemasyarakatan, hingga wawasan dunia Islam. Seluruh potensi ini kemudian disalurkan secara terstruktur melalui berbagai pilar wadah perjuangan Mushida, seperti bidang pendidikan, pembinaan kader, pelayanan sosial, hingga kegiatan keputrian.
Para peserta tampak antusias berkonsultasi mengenai tantangan pengasuhan anak di era digital, seni membagi waktu antara urusan domestik dan organisasi, hingga strategi dakwah yang santun di Pulau Dewata. Jawaban solutif dan lugas dari narasumber pun kian memperjelas pemahaman para peserta.
Kegiatan di penghujung sore tersebut ditutup dengan semangat dan optimisme baru. Para kader Mushida Bali melangkah pulang membawa dorongan kesadaran yang makin mantap untuk terus menjadi teladan di dalam rumah sekaligus pelopor kebaikan di lingkungan masyarakat.
- person
- Penulis: Abdul Ghofar Hadi

Saat ini belum ada komentar