Mushida Riau Tingkatkan Kompetensi Wirausaha Melalui Workshop Digital Marketing Berbasis Nilai Islam

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pekanbaru – Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Riau mengikuti Workshop Digital Marketing untuk UMKM: Naik Kelas di Era Digital yang diselenggarakan oleh Departemen Ekonomi Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMIWI) Riau di Pendopo Teras Orange, Pekanbaru, Sabtu (25/7/2026).
PW Mushida Riau diwakili oleh Ketua PW Mushida Riau, Marhamah, yang juga merupakan salah satu Presidium BMIWI Riau, mengikuti workshop bersama sejumlah pengurus lainnya. Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan dari 17 organisasi perempuan Islam yang tergabung dalam BMIWI Riau sebagai bentuk sinergi dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi umat di era digital.
Workshop dibuka oleh Anggota Komisi VII DPR RI, H. Hendry Munief, MBA. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa aktivitas pemasaran seorang muslim harus dibangun di atas nilai-nilai Al-Qur’an. Mengutip Surah Ibrahim, ia menjelaskan bahwa usaha yang berlandaskan kebaikan akan terus memberikan manfaat, sebagaimana pohon yang baik dengan akar yang kokoh dan menghasilkan buah yang bermanfaat.
“Bisnis bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menghadirkan kebermanfaatan. Ketika usaha dibangun di atas nilai-nilai Al-Qur’an, insya Allah keberkahannya akan dirasakan oleh banyak orang,” ujarnya.
Sambutan juga disampaikan oleh Ketua Presidium BMIWI Riau, dr. Arnita Sari, yang mengajak seluruh peserta memandang usaha sebagai sarana menghadirkan manfaat yang berkelanjutan. Ia mengaitkan aktivitas bisnis dengan hadis Rasulullah ﷺ tentang tiga amalan yang pahalanya tidak terputus, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.
Menurutnya, seorang pelaku usaha tidak hanya menjual produk, tetapi juga dapat menjadi jalan tersebarnya ilmu yang bermanfaat melalui edukasi kepada pelanggan.
“Ilmu dan pengalaman yang kita bagikan kepada pelanggan merupakan bagian dari amal jariyah apabila memberikan manfaat bagi banyak orang. Karena itu, bisnis juga dapat menjadi ladang dakwah dan amal saleh,” ungkapnya.
Pada sesi utama, Dr. Iswanto, S.T., M.TL., dosen Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, memaparkan bahwa digital marketing bukan sekadar memanfaatkan media sosial atau teknologi, melainkan proses membangun hubungan yang kuat dan berkelanjutan dengan pelanggan.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan pelanggan dimulai dari mengenal produk, tumbuh rasa percaya, mencoba, membeli, hingga akhirnya merekomendasikan produk kepada orang lain. Oleh sebab itu, setiap pelaku usaha perlu menghadirkan pengalaman yang positif pada setiap tahapan tersebut.
“Digital marketing bukan hanya tentang menjual produk, tetapi membangun kepercayaan. Ketika pelanggan merasa terbantu dan mendapatkan manfaat, mereka tidak hanya membeli, tetapi juga akan menjadi orang yang merekomendasikan produk kita kepada orang lain,” jelas Dr. Iswanto.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pelaku UMKM perlu mengubah cara pandang dalam menjalankan usaha. Menurutnya, yang dijual bukan sekadar produk, melainkan solusi atas kebutuhan pelanggan. Karena itu, pelaku usaha harus memahami karakter konsumennya, membangun kepercayaan sebagai modal utama, menghadirkan konten yang edukatif, serta mampu menjadi mitra dalam membantu menyelesaikan persoalan pelanggan.
Selain itu, keputusan bisnis hendaknya didasarkan pada data dan evaluasi, bukan hanya pada intuisi. Komunikasi yang konsisten serta penyebaran konten yang berkualitas juga menjadi kunci dalam membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Sebagai ilustrasi, Dr. Iswanto mencontohkan seorang penjual madu. Menurutnya, penjual tidak cukup hanya menawarkan produknya, tetapi juga perlu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara membedakan madu asli dan madu palsu. Dengan demikian, pelanggan memperoleh manfaat sekaligus tumbuh rasa percaya terhadap produk yang ditawarkan.
“Ketika kita mampu memberikan solusi dan edukasi kepada pelanggan, sesungguhnya kita sedang membangun nilai. Kepercayaan itulah aset terbesar dalam sebuah bisnis,” pungkasnya.
Bagi PW Mushida Riau, keikutsertaan dalam workshop ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk meningkatkan kapasitas muslimah dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital.
“Kami berharap, ilmu baru yang diperoleh dapat diterapkan dalam pengembangan usaha para anggota Mushida, sekaligus memperkuat jejaring dan kolaborasi dengan berbagai organisasi perempuan Islam di Riau,” ujar Marhamah.
Melalui kegiatan ini, PW Mushida Riau menegaskan komitmennya untuk terus mendorong lahirnya muslimah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki kompetensi kewirausahaan, serta menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan dalam membangun ekonomi yang mandiri, profesional, dan penuh keberkahan.
- person
- Penulis: Widya Hasanah

Saat ini belum ada komentar