Kajian Parenting Mushida Purwakarta Ajak Orang Tua Bertumbuh Bersama Anak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Purwakarta — Menjadi orang tua bukan sekadar menjalankan peran mengasuh dan mendidik anak, tetapi juga merupakan perjalanan belajar sepanjang hayat. Orang tua tidak hanya dituntut membimbing anak untuk bertumbuh, tetapi juga perlu terus memperbaiki diri dan menghadirkan keteladanan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Kajian Parenting Majelis Ta’lim Al-Fatihah bertajuk “Belajar Menjadi Orang Tua, Bertumbuh Bersama Anak” yang diselenggarakan pada Sabtu (31/10/2026) di Aula Kantor Desa Cigelam, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta.
Kegiatan yang diselenggarakan bekerja sama dengan PD Muslimat Hidayatullah (Mushida) Purwakarta ini menghadirkan Dr. Ida S. Widayanti, M.Pd.I, penulis buku parenting, praktisi parenting nasional, dan Trainer ESQ 165. Kajian diikuti oleh wali murid RA Yaa Bunayya, wali murid MDTU/TPQ Al-Fatihah, serta masyarakat umum.
Dalam pemaparannya, Dr. Ida mengingatkan bahwa orang tua sering kali belum memiliki persiapan yang memadai untuk menjalankan peran pengasuhan. Padahal, mendidik anak membutuhkan kesabaran, pemahaman, kesiapan mental, dan kemauan untuk terus belajar.
Anak bukanlah seperti mobil yang harus terus didorong mengikuti keinginan orang tua. Anak membutuhkan pendampingan, pemahaman, dan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan proses serta potensi yang dimilikinya,” urainya.
Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya membangun komunikasi positif dalam keluarga. Orang tua perlu memperhatikan bukan hanya kata-kata yang disampaikan, tetapi juga ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta nada suara.
“Komunikasi hendaknya lebih berorientasi pada penyampaian hal-hal positif, perilaku yang diharapkan, dan solusi, bukan semata-mata larangan atau teguran,” imbuhnya.
Dr. Ida juga memperkenalkan tiga prinsip penting dalam pengasuhan, yaitu syukur, sayang, dan sabar. Syukur diwujudkan dengan menerima anak apa adanya dan melihat potensi positifnya. Sayang ditunjukkan melalui keteladanan serta kesempatan bagi anak untuk mengembangkan potensinya. Sementara sabar diwujudkan dengan kesediaan orang tua memperbaiki diri, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan terus belajar memahami anak.
Selain aspek komunikasi dan psikologis, kajian ini juga menekankan pentingnya menjadikan Allah SWT sebagai orientasi utama dalam pendidikan keluarga.
“Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan berakhlak mulia, serta menjadikan keluarga sebagai lingkungan yang mendukung tumbuhnya kedekatan kepada Allah SWT,” sebutnya.
Kajian ini menjadi bagian dari upaya Yayasan Al-Fatihah Ma’had Hidayatullah Purwakarta bersama PD Muslimat Hidayatullah (Mushida) Purwakarta dalam memperkuat pembinaan keluarga dan sinergi antara lembaga pendidikan dengan orang tua. Melalui pembinaan wali murid RA Yaa Bunayya dan MDTU/TPQ Al-Fatihah, diharapkan nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan di lembaga dapat terus diperkuat melalui pembiasaan dan keteladanan di rumah.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan anak bukan tentang memaksakan kehendak, melainkan memahami, mendengarkan, dan mendampingi proses tumbuh kembangnya. Orang tua perlu terus belajar dan bertumbuh bersama anak, karena pendidikan terbaik bermula dari keluarga yang dibangun dengan syukur, kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan.
- person
- Penulis: Tya Puspita

Saat ini belum ada komentar