light_mode
light_mode

Spesial for Annisa, Inilah 5 Penting yang Perlu Diketahui Calon Penulis

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Mustabsyirah Syammar

SEBAGAI calon penulis, terkadang kita ditimpa oleh perasaan seperti ini:

“Ah, menulis bukan bakatku….”
“Aku bukan keturunan penulis, jadi wajar jika aku tidak pandai membuat tulisan….”
“Tulisanku jelek, berantakan, gak jelas. Aku malu mempublikasikannya….”
“Aku gak punya pengalaman di dunia tulis menulis….”
“Aku sibuk, gak ada waktu untuk nulis….”

Dan berbagai alasan lainnya, yang mengerucut pada satu kesimpulan yakni memiliki ketidakpercaya dirian untuk menulis.

Tidak sedikit orang yang ingin menyalurkan idenya, pikirannya, perasaannya, namun terkendala ketika menuliskannya. Belum menulis, sudah merasa minder duluan. Sebab merasa tulisannya belum layak untuk dibaca oleh khalayak, merasa tulisannya belum bisa dikatakan tulisan yang hebat, dan merasa tulisannya masih berantakan.

Pikiran-pikiran negatif itulah yang terkadang membatasi kita untuk menyegerakan menulis atau menyelesaikan suatu naskah tulisan. Padahal kita sendiri menyadari bahwasanya kita memiliki potensi yang besar untuk menulis.

Ya, benar. Kita semua memiliki potensi untuk menulis. Sebab, menulis bukanlah suatu bakat yang hanya dimiliki oleh penulis-penulis terkenal saja. Tetapi, menulis merupakan suatu keterampilan yang dimiliki hampir semua orang.

Keterampilan merupakan kemampuan untuk menggunakan akal, fikiran, ide dan kreatifitas dalam mengerjakan, mengubah ataupun membuat sesuatu menjadi lebih bermakna sehingga menghasilkan sebuah nilai dari hasil pekerjaan tersebut.

Keterampilan tersebut pada dasarnya akan lebih baik bila terus diasah dan dilatih untuk menaikkan kemampuan sehingga akan menjadi ahli atau menguasai dari salah satu bidang keterampilan yang ada. Contohnya saja keterampilan dalam bidang menulis.

Menulis dapat menjadi suatu keahlian bagi seseorang jika sering dilatih. Namun, jika tidak sering dilatih, maka menulis hanyalah sebatas kemampuan yang pada umumnya dimiliki semua orang, tidak sampai pada tingkat ahli.

Hampir semua orang pasti pernah menulis. Entah menulis diary atau buku harian, memo, nota, surat, sms, email, artikel, essay, sampai menulis sebuah buku. Hal tersebut menunjukkan, bahwasanya keterampilan menulis lahir dari suatu hal yang sederhana, seperti mencurahkan perasaan di buku harian atau blog pribadi, menyurati teman, menyampaikan pesan, berbagi resep makanan, dll.

Namun, dari hal yang sederhana tersebut, dapat menjelma menjadi hal yang tidak lagi sederhana, seperti menggerakkan massa, menjadi duta wisata, menggalang opini publik, bahan riteratur dunia, dll. Hal tersebut dapat terjadi jika keterampilan menulis senantiasa dilatih dengan intens.

Latihan yang intens tersebut, menjelma laksana bola es kecil yang menggelinding dari atas bukit. Makin lama makin membesar, hingga mengandung kekuatan yang besar pula.

Pun demikian dalam berdakwah. Bagi para muslim dan muslimah, penting kiranya untuk melatih keterampilan menulis yang dimiliki.

Sebab, esensi tulisan dalam aktivitas dakwah juga memiliki kekuatan yang cukup krusial dalam menjawab permasalahan ummat. Hal ini tergambar jelas pada perhatian masyarakat yang semakin tinggi terhadap aktivitas-aktivitas di media sosial yang hampir sebagan besar berinteraksi lewat tulisan.

Jika aktivis dakwah tidak gesit mengambil setir dalam hal ini, maka masyarakat akan semakin jauh dari nilai dakwah sebab terlalu banyak melahap sajian-sajian yang kering akan nilai Islam bahkan menyesatkan. Naudzubillah.

Seorang penulis yang bertindak sebagai narasumber dalam suatu seminar literasi pernah menyampaikan bahwa sebuah gagasan seburuk apapun, seculun apapun, sejelek apapun tetaplah menjadi tulisan jika dituliskan. Maka dari itu, menulislah. Sebab menulis itu sekali lagi bukan berbicara tentang bakat, namun berbicara tentang keterampilan.

Ada 5 hal penting yang perlu diketahui oleh calon penulis, yakni:

Pertama, jangan terlalu banyak berpikir tentang teori menulis. Tulis saja apa yang sedang kita pikirkan. Seperti halnya belajar naik sepeda, tidak perlu memikirkan bagaimana teori yang baik untuk mengendarai sepeda. Kayuh saja sepedanya, latihan terus hingga kita mendapati diri kita dapat mengayuh sepeda dengan lancar. Begitupula dengan menulis.

Tidak usah merasa terlalu dipusingkan dengan berbagai teori menulis. Tulis saja apa yang sedang kita pikirkan. Latih terus keterampilan menulis kita. Hingga kita mendapati diri kita dapat menulis dengan baik dan lancar.

Imam Bukhori, beliau pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmunya yang terlintas di benaknya, lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian ia bangun lagi dan melakukan hal yang sama.

Demikian, sampai hal itu terjadi kurang lebih dua puluh kali dalam semalam. Begitulah cara ulama membiasakan dirinya dalam menulis.

Kedua, berlatihlah menulis hal-hal yang ringan. Manfaatkanlah media sosial yang ada seperti facebook, twitter, blog, dsb. Sebab media-media tersebut cepat mendapat respon dari pembaca. Respon-respon tersebut dapat berupa apresiasi, kritikan, masukan, atau saran yang dapat kita jadikan bahan perbaikan terhadap tulisan kita.

Sehingga kualitas tulisan semakin meningkat. Hindari copy paste atau plagiasi. Berpijak di atas karya sendiri meskipun jelek itu lebih mulia, dari pada merasa bangga berpijak di atas karya orang lain.

Ketiga, jangan menulis sesuatu yang tidak Anda kuasai. Jadilah penulis cerdas yang berwawasan luas. Perbanyaklah membaca, bergaul dan lakukanlah rihlah (perjalanan) sebagai bekal.

Dengan membaca, akan memperkaya otak akan ilmu dan mempermudah pemanggilan referensi saat menulis. Dengan bergaul, akan menemukan banyak inspirasi, informasi, ide, pengalaman dari teman-teman di sekitar kita yang dapat dijadikan penguat dalam tulisan.

Dengan melakukan rihlah (perjalanan), dapat merilekskan pikiran, dan juga membuka wawasan terhadap fenomena alam, keberagaman sosial, dan banyak tempat yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk memperkaya sebuah tulisan.

Keempat, tidak usah pusing memikirkan gaya menulis. Gaya menulis akan datang dengan sendirinya seiring dengan jam terbang. So, jangan pikirkan gaya dulu. Tulis saja, komitmenkan dan disiplinkan.

Kelima, hati-hati menggunakan peliuk-liukan bahasa. Maksud peliuk-liukan bahasa adalah penggunaan bahasa yang rumit biar kelihatan intelek.

Ingat, tujuan kita menulis adalah agar orang lain paham tentang apa yang kita tulis, bukan membuat orang sakit kepala karena tidak mengerti maksud dari tulisan kita.

Demikianlah 5 hal penting yang patutnya diperhatikan oleh calon penulis. Dan yang terpenting dari kelima hal penting di atas adalah bersabarlah dalam proses.

“Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.” (Ali bin Abi Thalib)

_______
*) MUSTABSYIRAH SYAMMAR, penulis adalah pengurus Annisa Muslimat Hidayatullah Kota Samarinda, Kalimantan Timur. 

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mushida Bantu Guru Honorer dan Daiyah Pelosok Jabar

    Mushida Bantu Guru Honorer dan Daiyah Pelosok Jabar

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2020
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Bisa jadi tak banyak yang ingat dengan Hari Pendidikan yang diperingati setiap 2 Mei. Terlebih dalam situasi work from home di tengah wabah pandemi Covid-19 dimana sektor pendidikan, terutama guru honorer dan daiyah pelosok sebagai penerang kehidupan generasi bangsa juga terdampak secara langsung. Memanfaatkan momentum Hari Pendidikan, BMH menggandeng Muslimat Hidayatullah Jabar berbagi bahagia dengan […]

  • Mushida Polewali Mandar Gelar Seminar Edukasi Parenting

    Mushida Polewali Mandar Gelar Seminar Edukasi Parenting

    • calendar_month Rabu, 27 Apr 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Seminar Edukasi Parenting berlangsung di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Provinsi Sulawesi Barat, yang dihadiri Ketua Majelis Penasehat Dewan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (MPP DPP Hidayatullah), Sabriati Aziz, disambut antusias masyarakat. Acara semarak yang berlangsung pada hari Selasa (26/4/2016) ini dibuka Bupati diwakili Staf Ahli Pembangunan Drs Syarifuddin MM. Hadir pula tokoh setempat, Ridwan Hilal S […]

  • Webinar Pendidikan Muslimat Hidayatullah: Stimulasi Perkembang Anak Melalui Kegiatan yang Kreatif

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2021
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Anak bukan sekadar karunia, tetapi anak adalah amanah. Untuk dapat menjalankan amanah mendidik anak, maka perlu diikuti dengan ilmu yang tepat agar bisa memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak sesuai dengan kebutuhannya. Hal tersebut diungkapkan oleh drh. Luluk Mariyam Fatcuhrrohmah dalam webinar pendidikan yang diadakan oleh Bidang Pendidikan PP Muslimat Hidayatullah dengan tema “Stimulasi Perkembang Anak […]

  • Peradaban Islam di Indonesia dengan Penguatan Peran Muslimat

    Peradaban Islam di Indonesia dengan Penguatan Peran Muslimat

    • calendar_month Rabu, 27 Apr 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia menyimpan potensi kekuatan besar, yang cukup ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Bahkan, dalam sebuah dokumen rahasia milik kaum Yahudi, diketemukan bahwa Indonesia dianggap negara yang akan mengancam kekuatan Israel. Itu sebabnya akan dimusnahkan oleh Israel sebelum tahun 2025. Demikianlah pemaparan disampaikan Irawati Istadi, sekretaris Majelis Penasehat Muslimat […]

  • Cegah Arus Liberalisme, PP Mushida Selenggarakan Webinar Bertajuk Liberalisme dalam Perspektif Islam dan Sosial

    Cegah Arus Liberalisme, PP Mushida Selenggarakan Webinar Bertajuk Liberalisme dalam Perspektif Islam dan Sosial

    • calendar_month Kamis, 30 Jun 2022
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    (Jakarta, Mushida.org) Dalam rangka syiar untuk menguatkan kembali pemahaman yang utuh tentang kebebasan dan liberalisme, Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga PP Muslimat Hidayatullah menghadirkan Webinar Kajian Ukhuwah Muslimat Hidayatullah yang bertajuk “Liberalisme dalam Perspektif Islam dan Sosial” pada 29/06/2022 secara virtual. “Saat ini, banyak orang yang berusaha ingin memadamkan cahaya Allah.  Maka dibutuhkan dakwah. Namun […]

  • Karakter Istri dan Ibu dalam Syakhsiyah Mushida

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2022
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    “Peran Wanita dalam keluarga, sangatlah menentukan. Senyum tidaknya seorang istri, akan menentukan kesuksesan suami, sementara bagus tidaknya akhlaq ibu, akan menentukan akhlaq anak. Apalagi doa-doanya, akan menentukan keberhasilan seluruh anggota keluarga.” Demikian disampaikan oleh anggota Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah, Ustadzah Irawati Istadi, S.Sos.I dalam tausiyah subuh sebagai rangkaian kegiatan Rakernas Muslimat Hidayatullahpada 6/3/2022 di kantor […]

expand_less