light_mode
light_mode

Meraih Ketaatan Dengan Sifat Malu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di dalam Islam, malu merupakan akhlak yang sangat penting dan luhur. Islam menempatkan rasa malu sebagai bagian dari cabang iman. Dalam hadits dikatakan :

الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَ سِتُّوْنَ شُعْبَةً وَ الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits ini malu disebutkan sebagai bagian dari cabang iman, Rasulullah tidak menyebutkan semua cabang iman, melainkan beliau hanya menyebutkan rasa malu saja. Ini menunjukkan bahwa sifat ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Malu akan menuntun seorang mukmin menuju kepada cabang iman yang lain. Seseorang yang mempunyai rasa malu, ia tidak akan berbohong, berkata kotor, menipu, khianat, mencuri, berzina, meninggalkan shalat, mengabaikan perintah zakat, mengambil hak orang lain, mengumbar aurat dan perbuatan rendah lain. Ia akan berusaha melakukan hal-hal yang mendatangkan kecintaan Allah dan meninggalkan perkara yang dapat menyebabkan Allah tidak ridha padanya.

Karena sejatinya akhlak ini memang berkaitan erat dengan iman, Rasulullah bersabda :

إِنَّ الْحَيَاءَ وَ الْإِيْمَانَ قُرِنَا جَمِيْعًا فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الْأَخَرُ

“Sesungguhnya malu dan iman saling bertaut, jika salah satunya diangkat, yang lainnya juga terangkat.” (HR. Al Hakim).

Malu dalam bahasa Arab berasal dari kata hayah yang artinya hidup, ia adalah perasaan yang hidup dalam jiwa. Ia akan tumbuh subur dan terawat dengan baik jika berada dalam kalbu yang hidup dengan dzikir dan cahaya iman.  Kalbu yang mati tidak akan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Perasaan malu memuliakan jiwa dari segala kerendahan dan kehinaan. Tidak hanya membentengi diri dari keburukan tapi ia juga bisa menjadi kontrol diri, agar tidak merambah kepada kerusakan sosial di masyarakat disebabkan oleh individu-individu yang tidak bisa menjaga muruah dan izzahnya dari hawa nafsu yang tak terkendali.

Sehingga sifat malu hendaknya sudah ditanamkan sejak dini oleh para orang tua kepada anak-anaknya, memberikan pemahaman kepada mereka akan nilai–nilai keislaman, kesopanan, kepantasan, juga norma-norma yang berlaku di masyarakat penting dilakukan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak semaunya sendiri dan menghormati kepentingan orang lain. Melatih mereka untuk melakukan pembiasaan demikian tentunya harus dibarengi dengan keteladanan yang diberikan oleh orang tua, karena tanpa keteladan keadaan tersebut akan mudah menguap dan tidak mengakar kuat. Begitu juga hendaklah dilakukan oleh para pendidik kepada anak didiknya dan semua lapisan masyarakat yang peduli akan pentingnya akhlak ini.

Berikut adalah gambaran yang Rasulullah berikan mengenai keadaan orang-orang yang Allah cabut rasa malu pada dirinya, sungguh yang demikian itu adalah keadaan yang sangat mengerikan. Semoga Allah melindungi kita dari kehinaan demikian dan kita juga senantiasa memohon kepada-Nya agar terpeliharalah sifat malu dalam diri kita. Rasulullah saw bersabda, “Apabila Allah hendak membinasakan seorang hamba, Dia cabut rasa malu darinya. Apabila rasa malu itu sudah dicabut, engkau akan melihatnya dibenci dan dijauhi manusia. Apabila kau lihat ia dibenci dan dijauhi, dicabutlah sikap amanah darinya. Apabila sikap amanah itu sudah dicabut, kau lihat ia menjadi khianat. Apabila ia khianat dan dianggap sebagai pengkhianat dicabutlah sifat kasih sayang darinya. Apabila sifat kasih sayang itu sudah dicabut, kau lihat ia menjadi orang jahat dan terlaknat. Apabila ia jahat dan terlaknat, dicabutlah ikatan islam darinya.” (HR. Ibnu Majah no.  4054). Na’udzubillah, nas’alullahal iman wal Islam. Aamiin.

Mari kita belajar malu dari manusia agung, teladan umat Rasulullah bagaimana rasa malunya melebihi dari rasa malunya seorang gadis yang dipingit terhadap perkara yang tidak sepantasnya.

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص م أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا وَ كَانَ إِذَا كَرِهَ شَيْئًا عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ

 “Adalah Rasulullah itu orangnya sangat pemalu, bahkan lebih pemalu daripada perawan dalam kamarnya. Apabila beliau tidak menyukai sesuatu kami tau itu dari muka beliau.” (HR. Bukhari)

Begitu juga dari sahabat mulia ‘Utsman bin Affan, Nabi bersabda, “Tidak layakkah aku malu kepada ‘Utsman? Bahkan malaikat saja malu kepadanya.” (H.R. Muslim). Para malaikat malu kepada ‘Utsman karena rasa malu dan akhlak yang dimilikinya. Masyaa Allah, sudah selayaknya setiap muslim meniru akhlak rasul dan para sahabatnya, radhiyallahu ‘anhum, wa radhuu ‘anhu. Sehingga bahagia dan selamatlah ia di kehidupan di dunia dan akhiratnya dengan membawa keridhaan dari Allah swt.

Rasa malu yang hakiki adalah rasa malu yang didasari atas malunya seorang hamba kepada Allah, malu ini berada pada tingkatan malu yang tertinggi, begitulah seorang hamba yang disebut sebagai ‘ibadullah menempatkan segala pengharapannya hanya kepada Allah. Namun malu ini tidak hanya sekedar rasa, ia perlu diimplementasikan ke dalam bentuk aksi nyata sesuai dengan petunjuk yang benar. Sebagaimana sabda Rasulullah,

“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu, kemudian sahabat berkata, ”Wahai Nabi Allah, sungguh kami telah merasa malu.” Kemudian, Rasulullah bersabda, “Bukan itu yang aku maksud! Akan tetapi, malu kepada Allah yang sebenarnya itu, kamu menjaga kepala dengan segala yang dikandungnya, menjaga perut dengan segala isinya, dan senantiasa mengingat maut dengan segala siksanya. Barang siapa melakukan semua itu, ia telah merasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi)

Berikut sebuah kisah mengagumkan dari ulama salaf yang bernama Ibrahim ibn ‘Adham, semoga kita bisa mengambil faidah darinya. Suatu Ketika datang seseorang dan berkata padanya: “Wahai imam, aku ingin bertaubat dan meninggalkan dosa, tunjukkan padaku sesuatu yang bisa melindungiku hingga aku tidak lagi bermaksiat kepada Allah.” Ibrahim ibn ‘Adham berkata, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, jangan bermaksiat di bumi-Nya, “Lalu di mana aku bisa bermaksiat?” “Di luar bumi-Nya,” jawab Ibrahim ibn ‘Adham. Orang itu berkata lagi, “Bagaimana mungkin wahai imam, sebab seluruh bumi ini milik Allah,”. Ibrahim berkata, “Tidakkah engkau malu seluruh bumi ini milik Allah, tetapi engkau masih bermaksiat di atasnya?”

Lalu Ibrahim melanjutkan, “Jika engkau ingin bermaksiat jangan memakan rezeki-Nya.” Orang itu menjawab, “Bagaimana aku bisa hidup?” Ibrahim berkata, “Tidakkah engkau malu memakan rezeki-Nya sementara engkau bermaksiat kepada-Nya?”

Ibrahim melanjutkan, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, lakukanlah di tempat yang tidak terlihat oleh-Nya.” Orang itu menjawab, “Bagaimana mungkin sementara Dia terus bersama kita di mana saja kita berada.” Ibrahim berkata, “Tidakkah engkau malu bermaksiat kepada-Nya sementara Dia bersamamu dan dekat denganmu?”

Lalu Ibrahim melanjutkan, “Jika engkau tetap ingin bermaksiat, maka apabila malaikat maut datang kepadamu guna mengambil ruhmu, katakana padanya, “Tunggu sampai aku bertaubat!” Orang itu menjawab, “Adakah yang bisa melakukan itu?” Ibrahim berkata, “Tidakkah engkau malu, malaikat maut datang sementara engkau dalam kondisi bermaksiat.” Ibrahim melanjutkan, “Jika engkau tetap ingin bermaksiat, maka ketika para malaikat Zabaniyah yang menjaga neraka Jahannam datang mengantarmu menuju neraka, katakan pada mereka, ‘Aku tidak akan pergi bersamamu.” Orang itu menjawab, “Bagaimana mungkin wahai Imam?” Ibrahim akhirnya mengatakan,”Setelah ini semua, apakah engkau tidak malu kepada Allah?” Wallahu a’lam bishshawab.
*/Marsiti, Ketua Bidang Tarbiyah PP Muslimat Hidayatullah

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komitmen

    Komitmen

    • calendar_month Rabu, 8 Sep 2021
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Pelajaran berharga diberikan oleh seorang pemimpin hari ini. “Dahulukan yang mengundang lebih dulu.” Jawaban satu kalimat, dari uraian (permohonan) saya yang panjang kali lebar. *** Ya, saya sedang meminta izin untuk tidak mengikuti agenda Workshop Pengembangan Yayasan yang sedianya dilaksanakan dua hari ke depan, karena mendadak ada undangan seminar dari Direktorat Kementrian Pendidikan, di mana […]

  • Rapat Kerja Wilayah Jawa Barat: Kokohkan Peran Penting Muslimat Hidayatullah

    • calendar_month Selasa, 6 Feb 2024
    • account_circle adminmushida
    • 0Komentar

    Rapat Kerja Wilayah Muslimat Hidayatullah Jawa Barat digelar pada 3-4 Februari 2024/22-23 Rajab 1445 H di Hotel Bumi Kitri, Cikutra, Bandung. Rapat Kerja Wilayah Muslimat Hidayatullah dengan tema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” diikuti oleh kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari Pengurus Wilayah Jawa Barat, PD (Pengurus […]

  • Muslimah WAH!

    Muslimah WAH!

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2015
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    BELUM lama ini saya menemukan sebuah artikel di internet. Artikel tersebut mengulas tentang peran wanita dalam dunia kerja. Artikel yang berjudul “11 Alasan Sah Kenapa Cewek Perlu Bekerja, Bukan Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga” cukup menggelitik. Setidaknya ada beberapa poin yang menurut saya menarik dicermati. Diantaranya disebutkan bahwa budaya kita masih kental dengan patriarki, yaitu […]

  • Bersama Keluarga Qur’ani Tinggikan Martabat Bangsa

    Bersama Keluarga Qur’ani Tinggikan Martabat Bangsa

    • calendar_month Rabu, 6 Jan 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    PRESS ROOM – Musyawarah Nasional ke-IV Muslimat Hidayatullah mengusung tema “Bersama Keluarga Qur’ani Tinggikan Martabat Bangsa”. Munas ini digelar di Kampus Arrohmah Putri Pesantren Hidayatullah Batu, Kota Malang, Jawa Timur selama 3 hari (7-9/01/2016). Tema tersebut dipilih sekaligus untuk meneguhkan concern gerakan Muslimat Hidayatullah sebagai penopang pembangunan umat menuju bangsa yang bermartabat. Ketua Steering Committee […]

  • Mushida Polewali Mandar Gelar Seminar Edukasi Parenting

    Mushida Polewali Mandar Gelar Seminar Edukasi Parenting

    • calendar_month Rabu, 27 Apr 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Seminar Edukasi Parenting berlangsung di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Provinsi Sulawesi Barat, yang dihadiri Ketua Majelis Penasehat Dewan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (MPP DPP Hidayatullah), Sabriati Aziz, disambut antusias masyarakat. Acara semarak yang berlangsung pada hari Selasa (26/4/2016) ini dibuka Bupati diwakili Staf Ahli Pembangunan Drs Syarifuddin MM. Hadir pula tokoh setempat, Ridwan Hilal S […]

  • Pengurus Daerah Mushida Samarinda Gelar Training Kader Dasar

    Pengurus Daerah Mushida Samarinda Gelar Training Kader Dasar

    • calendar_month Minggu, 1 Okt 2017
    • account_circle admin
    • 0Komentar

     SAMARINDA – Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Samarinda menggelar acara marhalah ula atau pelatihan perkaderan tingkat dasar untuk anggota yang digelar selama 2 hari dibuka pada Sabtu (30/09/2017). Acara ini berlangsung di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda yang dibuka oleh Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur Dr H Muhammad Tang, MA. Dalam sambutannya Tang mendorong Muslimat Hidayatullah […]

expand_less