light_mode
light_mode

Andai Bisa Terulang, Takkan Kulepaskan…

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

IZINKAN aku membagi sebuah kisah, tentang seorang gadis kecil yang tegar, yang ketegarannya membuatku malu dan banyak mengambil teladan darinya.

Sejak kecil hingga sampai pada usia dewasa saat ini; aku telah banyak melakukan kesalahan dan kebodohan yang membawaku pada penyesalan demi penyesalan. Sebagai manusia, yang tak luput dari salah. Tapi sungguh, “melepaskan” tangannya adalah hal yang paling kusesali, sedalam-dalamnya.

Hari Selasa awal Agustus 2016 mungkin adalah hari terburuk;  bagi perasaanku. Hanya sepersekian detik kejadian itu, namun sanggup melemaskan ragaku, meremukkan batinku. Sesal yang tiada habis, tak putus.

Pagi hari aku berangkat menuju sekolah. Lalu seperti biasa, setelah meletakkan tas di kantor, aku melesat menuju halaman, bersiap menyambut kedatangan murid-murid tercinta, untuk menerima uluran tangan mereka. Bersalaman, anak putri kepada ustadzah-ustadzahnya, dan anak putra menghampiri para ustadz.

Tradisi salaman pun berlangsung seperti hari-hari sebelumnya, hangat. Satu per satu murid kami sapa, kami tanyakan kabar mereka; “tadi sudah shalat shubuh belum?, sudah baca al-Qur’an hari ini?, bantu ummi hari ini tidak?”, dan lain-lain.

Ada yang bahkan tak cukup dengan menyalami kami saja, tapi ditambah pelukan super erat, khas anak-anak.

Karena belum lama kembali mengajar setelah istirahat pasca operasi mata, alhasil, aku belum mengenal murid-murid baru kelas 1, yang tahun ini bergabung di sekolah kami. Kecuali beberapa murid putra yang bukan kebetulan masuk kelompok pembelajaran al-Qur’an metode Ummi bersamaku.

Refleks

Saat mataku tengah berpaling ke lain tempat, tidak terfokus pada anak yang akan menyalamiku, ada seorang anak yang menggamit jari-jariku. Seharusnya jari-jemari kami bertaut, lalu ia akan mencium punggung tanganku, layaknya anak-anak yang lain.

Tapi yang kurasakan kali ini di luar kebiasaan. Tak ada jari-jari kecil menaut pada jariku, hanya terasa segemul daging lembut yang menyentuhku. Terasa aneh, karena tak biasa. Dan kemudian di sinilah detik yang paling kusesali.

Refleks, secepat kilat kuhentakkan “tangan”-nya dengan menarik ke atas tanganku. Keras. Begitu cepat. Aku kaget, teramat kaget dengan sensasi “lembut” pada jemariku, sedang anak tersebut pun tak siap dengan reaksiku. Ia terlihat shock, malu, lalu perlahan kembali mengulurkan “tangan”-nya untuk menyalamiku.

Sedetik berikutnya barulah aku tersadar, fokus sepenuhnya.

Ya Allaaah!

Ya Kariiim!

Semoga Allah mengampuniku!

Anak manis kelas 1 SD ini tak memiliki tangan normal, tak punya jari-jari.

Tangan kanannya tak ada, lengannya hanya setengah, ujungnya berbentuk segumpal daging, membulat, kecil. Aku baru tahu, sebab ini kali pertama aku bertemu dengan anak baru yang tak berdosa ini.

Setelah sadar dari kekagetanku, segera kusambut kembali tangannya dengan perasaan tak karuan, lalu dia pun berlalu menuju kelas.

Mungkin baginya itu biasa; mendapatkan perlakuan dan reaksi seperti itu dari orang-orang yang baru menjumpainya, juga dari teman-teman yang sering mengusilinya, mungkin sudah jadi hal biasa baginya.

Tapi bagiku…. Kejadian ini siksaan perasaan yang begitu menyesakkan. Sedetik setelah aku menghentakkan tangannya, segenap perasaan bersalah dan sesal menyerangku.

Aku merasa sudah berbuat jahat, bodoh, tega, terlalu…. Meskipun sungguh, tak ada pandangan negatifku pada kekurangannya, tak ada. Aku sendiri pun bukan makhluk yang sempurna. Namun reaksi itu murni hanya karena refleks, kaget, dan kurang siap mental saat pertama kali bersentuhan.

Seharian pikiranku tak bisa lepas dari kejadian pagi itu. Saat masak, aku menangis. Makan, menangis. Cuci piring, menangis. Shalat, menangis. Di kamar mandi, menangis. Dalam diam, tentunya.

Dalamnya sesal ini, hanya Allah yang bisa memberi penawarnya.

Tak habis-habis aku berandai, sekiranya bisa diulang kembali, tak akan pernah kulakukan lagi reaksi apa pun yang bisa menyakiti perasaan gadis cilik nan manis itu.

Tak sanggup kubayangkan, bagaimana perasaannya saat tangannya kuhentak, penolakan dengan cara yang tiba-tiba. Maafkan aku, Naakk!

Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi aku segera menemuinya di kelas. Memperkenalkan diri, menanyakan tentangnya, memeluk dan menciumnya, lalu kuberi ia sekantung snack kesukaan anak-anak.

Dia senang, sangat senang. Terlihat dari senyumnya, binar di matanya, dan ucapan terima kasih yang berulang kali dilontarkan oleh lisan mungilnya.

Ah, Nanda sayang!

Ketahuilah, ini kulakukan bukan untuk menebus maafmu, tidak!

Sebab aku tak layak untuk itu. Hanya demi mengobati sedikit lukamu karenaku. Sedikit, tak mengapa, itu sudah sangat melegakan perasaanku.

Harapanku jika kau senang, gembira, kau akan melupakan kejadian yang teramat kusesali ini. Semoga!

Tak Membuatnya Malu…

Satu hal yang membuatku malu, sekaligus termotivasi, bahwa kekurangan fisik tidak menjadikannya patah semangat dalam menuntut ilmu. Tak membuatnya malu hadir di sekolah, membaur dengan murid-murid yang lain. Tak membuatnya berkecil hati untuk tetap menjalani hari dengan sepenuh kesyukuran.

Ia terkenal sebagai anak yang ceria, ramah, baik dan tegar. Mungkin satu-satunya saat dimana wajahnya terlihat muram dan bergelayut mendung adalah ketika aku menghempaskan uluran tangannya di pagi itu, Allaahummaghfirlii (ampuni aku, Ya Allah!).

Anak sekecil dia mungkin malah lebih paham dariku, bahwa Allah sama sekali tak memandang kekurangan fisik kita. Hanya hati, keimanan, dan ketaqwaan yang bersemayam di dalam dada lah tolak ukur nilai seorang hamba di mata-Nya.

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).*

________
*) IDA NAHDHAH, penulis adalah guru, pengurrus Annisa Hidayatullah, dan pegiat komunitas menulis PENA MALIKA Yogyakarta. Artikel ini telah dimuat sebelumnya di situs berita  Hidayatullah.com

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PD Mushida Parepare Sosialisasi Metode Al-Qur’an Grand MBA di Kampus Universitas Negeri Makassar

    PD Mushida Parepare Sosialisasi Metode Al-Qur’an Grand MBA di Kampus Universitas Negeri Makassar

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    PAREPARE — Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (PD Mushida) Kota Parepare Sulawesi Selatan menggelar kunjungan silaturahmi sekaligus sosialisasi metode pembelajaran Al-Qur’an “Grand MBA” dengan sistem 8 jam di Universitas Negeri Makassar (UNM) Kampus Parepare, Rabu (26/8/2026) pagi. Kunjungan yang dipimpin langsung oleh Ketua PD Mushida Parepare dan didampingi oleh pembina Ustadzah Juhriyah, M.Pd.I., tersebut bertujuan untuk […]

  • Muslimat Hidayatullah Ikuti Konselor Keluarga

    Muslimat Hidayatullah Ikuti Konselor Keluarga

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Pendidikan keluarga dinilai memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi dan membangun peradaban Islam. Karena itu, penguatan kapasitas para pendamping dan konselor keluarga menjadi bagian penting dari agenda pembinaan umat yang terus dikembangkan Hidayatullah. Hal tersebut mengemuka dalam penutupan Training Konselor Keluarga 2026 bertema “Mewujudkan Konselor yang Unggul, Profetik, dan Profesional” yang diiikuti oleh Muslimat Hidayatullah, digelar di […]

  • Pengukuhan Muharrikah Mushida Putri (MMi)

    Pengukuhan Muharrikah Mushida Putri (MMi)

    • calendar_month Minggu, 13 Okt 2024
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Muharrikah Mushida Putri (MMi) dilaksanakan dalam rangka melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang memiliki pemahaman mendalam tentang kepemimpinan Islam dan nilai-nilai Hidayatullah. Departemen Keputrian PP Mushida menyelenggarakan Pengukuhan Muharrikah Mushida Putri (MMi) secara online, pada Ahad, 13 Oktober 2024. Dalam sambutannya, Ustadzah Hani Akbar, Ketua Umum PP Mushida mengatakan bahwa MMi dibentuk karena generasi yang akan selesai […]

  • PP Mushida Selenggarakan Webinar Parenting

    PP Mushida Selenggarakan Webinar Parenting

    • calendar_month Senin, 18 Agt 2025
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak, dan orang tua adalah guru utama. Dalam Islam peran orang tua sangat mulia, bahkan disebutkan bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Namun, menjadi orang tua yang baik tidak hanya cukup dengan kasih sayang dan niat baik, tetapi juga membutuhkan ilmu, pemahaman dan keteladanan. PP Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan […]

  • Muslimat Hidayatullah dan Wanita ISMA Teguhkan Persaudaraan Indonesia-Malaysia

    Muslimat Hidayatullah dan Wanita ISMA Teguhkan Persaudaraan Indonesia-Malaysia

    • calendar_month Senin, 19 Des 2016
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) menerima anjangsana silaturrahim rombongan Jawatan Kuasa Pusat Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (Wanita ISMA) di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (17/12/2016). Kedatangan rombongan Jawatan Kuasa Pusat Wanita Ikatan Muslimin Malaysia dipimpin oleh Ketua Wanita ISMA, Dr Norsaleha Mohd Salleh. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Ketua […]

  • Tiga Profil Ini Harus Dimiliki Oleh Murobbiyah

    Tiga Profil Ini Harus Dimiliki Oleh Murobbiyah

    • calendar_month Kamis, 4 Mar 2021
    • account_circle Admin Mushida
    • 0Komentar

    Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaff ayat 9, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.” Ayat tersebut melandasi arah kebijakan Hidayatullah dalam Pedoman Dasar Organisasi (PDO), untuk membangun membangun peradaban Islam. Perdaban adalah manifestasi iman. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan […]

expand_less